
"sayang" panggil Rama
"hmm" gumam Anggi pelan yang sudah hampir masuk ke alam mimpi
"Anggi" panggil Rama lagi dengan nada serius
"kenapa" ucapnya lelah di balik selimut
"balik dulu sini"
"apa sih, aku capek Rama"
Rama membalikkan tubuh Anggi ke hadapannya. Sontak Anggi menatapnya malas
"Mau lagi" ucap Rama dengan wajah memelasnya
"Rama, ihh" sebal Anggi seraya memukul dada polos Rama
Rama tertawa jail karena berhasil membuat Anggi yang sudah kesal
Akhirnya Anggi dan Rama tertidur setelah melakukan aktivitas yang membuat tenaganya terkuras banyak
setelah waktu menunjukkan 19.30, mereka baru sadar kalau mereka ketiduran, melihat keluar jendela, hari sudah gelap.
Anggi menyibakkan selimut yang sedari tadi membungkus tubuhnya ingin pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Merasa ada yang aneh dalam dirinya, dia menatap tubuhnya, Ya ampun Anggi baru sadar kalau dia tidak mengenakan apapun, tubuh polosnya terekspos saat turun dari tempat tidur.
Segera Anggi menarik selimut itu menutupi dirinya tanpa memedulikan Rama yang kondisi nya sama persis dengannya.
"ehh kenapa diambil selimutnya"
"buat nutupin badan aku lah"
"terus aku gimana"
Anggi berlari menuju kamar mandi, saat melihat tubuh Rama tanpa sehelai benang pun
"pakai baju sana" teriak Anggi
Ketika Anggi masuk ke kamar mandi, betapa kagetnya dia saat melihat tubuhnya di depan cermin, begitu banyak bekas tanda merah di leher dan badannya akibat ulah Rama
"dia ngga kesurupan, tapi berubah jadi serangga" gumam Anggi tak habis pikir
"Rama sialan"
Rama sudah ada di balik pintu kamar mandi, niatnya mau mandi bersama sambil tersenyum mendengar ucapan Anggi yang tidak berhenti mengomel sedari tadi
tapi setelah mendengar umpatan Anggi dia mengurungkan niatnya, Anggi pasti tambah kesal
Saat membuka kamar mandi, Anggi cukup kaget mendapati Rama sudah ada di depan kamar mandi
"mau apa" ketus Anggi
"mau mandi sayang, kamu ini ngomel melulu"
"gimana ngga ngomel, liat ini, ini dan ini" sambil menunjukkan bekas merah di leher dan dadanya
"serangganya nakal yah"
"malah nuduh serangga, ulah kamu" berjalan berlalu melewati Rama
Rama terkekeh geli melihat ekspresi kekesalan Anggi
...------...
" Rama" Panggil Anggi
Yang di panggil hanya diam sibuk menatap layar televisi, film action yang berhasil mencuri perhatian Rama kali ini.
"Rama"
"ihhh"
Kali ini Rama mulai merespon panggilan itu
"kenapa"
"kamu itu dari tadi aku panggil cuman sibuk nonton, emang ngga dengar"
"engga"
"ihh nyebelin"
"emang ada apa sih, sini duduk samping aku"
"lapar" ujar Anggi
"yah makan dong"
"temenin"
"ada bibi kok di dapur, panggil aja"
"aku maunya kamu yang nemenin" ucap Anggi memelas dengan wajah yang di buat se imut mungkin
__ADS_1
"bentar yah, selesain film nya dulu tinggal dikit lagi, nanggung" kata Rama memohon
"aku mau nya sekarang"
"iya"
"manja banget sih"
Anggi mulai cemberut, tiba-tiba memegangi perutnya kesakitan.
"awww"
Sontak Rama berbalik melihat Anggi
"kenapa" tanya Rama
Tidak ada Respon, Anggi hanya memegang perutnya seraya menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
"ada apa, apa yang sakit" tanyanya Khawatir
" hebat juga Akting aku, langsung ketipu" pikirnya
"ngga apa-apa, kamu lanjut nonton aja" merebahkan tubuhnya berbalik membelakangi Rama
"kamu tidak apa-apa kan"
"heyy"
" Anggi"
"sayang"
"hmm" gumam Anggi dengan suara lemah berpura pura lemas
Rama mulai tersenyum melihat tingkah Anggi yang berpura-pura.
"Kamu pikir bisa menipu ku" pikir Rama
"yah udah aku temenin makan, ngga usah pura-pura" ucap Rama berbisik di telinga Anggi
"ngga usah bisik bisik, geli tau"
"yah udah sini, katanya lapar"
"ngga jadi"
"kenapa"
"udah ngambek"
"terserah aku, biar kamu tau"
"jadi ngambek nih"
"hmmm"
"yah udah aku bujuk deh, biar ngga ngambek lagi"
"ngga mempan"
"aku kan belum mulai"
"yah udah mulai" Anggi berbicara sambil tersenyum
Begitu gemasnya Rama, dia langsung mengangkat Anggi ala bridal menuju ke meja makan.
Anggi memberontak minta turun dari gendongan Rama.
"Rama turunin aku, aku bisa jalan sendiri"
"bukannya tadi kamu sakit"
"yang bilang sakit siapa"
"kamu sayang"
Rama menurun kan Anggi tepat di meja makan
"Bibi mana"
"ngga tau"
"bentar yah aku ambil makan dulu"
"hmm"
Tiba tiba listrik padam, sontak Anggi berteriak mengucapkan nama suaminya
"Rama" teriak Anggi
Tidak ada jawaban dari Rama
Anggi mulai terisak karena ketakutan.
Rama datang bersama teman-temannya termasuk Dara juga. Membawa sebuah kue yang berukuran besar dengan menyanyi lagu selamat ulang tahun
__ADS_1
Dengan berani Anggi membuka matanya setelah mendengar beberapa orang datang dan bernyanyi.
Lampu akhirnya menyala kembali
"selamat ulang tahun sayang" ujar Rama senang
Anggi tersenyum senang dan mendapat pelukan dari sahabatnya Dara
"thanks yah" ucap Anggi
Mereka berkumpul bersama di ruang tamu, sambil mengobrol bersama.
Mulut Dara sedari tadi sudah gatal mau mengatakan sesuatu cuman dia tunda, ingin menemukan waktu yang pas agar yang lain tidak dengar.
"Gi" panggil Dara bebisik
"hmm, kenapa"
"itu leher kamu" ucapnya pelan
"kenapa? " tanya Anggi
Dara mulai tersenyum mengejek namun hati hati mengatakannya
"kamu abis itu yah" bisik Dara dengan jahil
Anggi menegang dan gugup jawaban apa yang dia harus ucapkan
"hahh"
Rama mendengar perbincangan mereka sekilas karena duduk berdampingan dengan Anggi
"karya aku" spontan Rama dengan pede nya yang mendengar perbincangan antara kedua sahabat itu
Rama berhasil mendapat pukulan di lengannya
"jangan dengarin dia Ra"
"sebenarnya sih dari tadi aku perhatiin, cuman ngga enak aja aku tegur"
"kenapa ngga bilang dari tadi kan bisa aku tutupin"
"emang kamu ngga nyadar yah"
"aku lupa, aku pikir ngga ada kalian, makanya aku cuek aja"
"kamu juga kenapa ngga negur" kesal Anggi ke Rama
"sengaja aku ngga negur"
"kenapa?"
"yah aku suka liatnya"
Mendengar pedebatan Anggi dan Rama, teman- temannya langsung tertawa
Rama sudah mulai melangkah menjauh, kali ini Anggi pasti akan marah, dan perkiraannya memang tepat sasaran
Karena malu Anggi mengambil sebuah bantal sandaran kursi lalu memberikan hadiah lemparan yang persis mendarat di wajah tampan Rama.
"dosa sayang" ujar Rama
"biarin"
"ngga boleh gitu sama suami"
"bodo amat" kesal Anggi
"seperti akan ada perang dunia nih" ucap Gilang asal
"sebaiknya kita pulang aja Ra, jangan gangguin mereka" ucap Vino merangkul bahu Dara
"hati-hati Gi, Rama buas loh kalau lagi gitu"
Ledek Gilang yang berada di ujung pintu
"emang kamu pernah liat"
"ngga sih, tapi diliat dari jejak dileher Anggi, sepertinya sih gitu" tawa Gilang
"sialan, pulang sana"
"Tamu kok diusir, ini Tamu loh" cerewet Gilang
"emang udah mau pulang kan"
"yah udah, kita pulang dulu Gi"
"pamit sama aku engga"
"kamu juga" Kata Gilang
"hati-hati di jalan yah" ujar Anggi lembut
Bersambung...
__ADS_1