Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Operasi


__ADS_3

Ardan segera duduk di bangku meredakan emosinya, untung ada Yudha dan Dara yang melerai mereka


Tak lama pintu ruang operasi terbuka, kedatangan Dion disambut oleh mereka yang sangat penasaran dengan kondisi Anggi


"bagaimana keadaannya" ucap Rama


Wajah kacau Rama terpampang jelas dan ada sedikit darah di ujung bibirnya seperti nya orang ini sudah dipukuli. Dion mengeryit melihat Rama, ada apa dengannya segitu frustrasinya ka dia sehingga terlihat sangat berantakan.


"Bagaimana" tanya Yudha setenang mungkin


"operasinya berjalan lancar, namun Anggi belum sadar, masih dalam pengaruh bius"


"oh baguslah"


"tapi biarkan dia istirahat dulu, jika dia sudah sadar kalian boleh menjenguknya"


"terima kasih yah" Ucap Rama


"ikut keruangan ku aku ingin berbicara penting padamu" ujar Dion ke Rama


"baiklah"


Setibanya diruangan Dion tidak ada seorangpun selain mereka, disaat itulah Dion menceritakan keadaan Anggi


" aku harap kau bisa bersabar setelah mengetahui kondisi Anggi"


"apa ada luka yang serius"


"tidak ada luka yang serius, hanya saja untuk mendapatkan seorang anak lagi mungkin akan susah, Rahimnya sangat lemah kau harus selalu berusaha"


"berapa persen kemungkinannya" tanya Rama


"sangat sedikit, hanya menunggu keajaiban, aku juga tidak menjamin banyak harapan untukmu, tapi akan sangat sulit untuk mendapatkan keturunan"


Rama hanya tertunduk lesu, mendengar perkataan Dion,


"saran aku, jangan membuatnya sedih dan berpikiran yang berlebih yang bisa mengakibatkan dia stress"


"ini hasilnya, Rahimnya terbentur sangat keras"


Ucap Dion menunjukkan hasil CT-Scan milik Anggi


Rama tak henti-hentinya menunduk lesu, harapan dan keinginannya untuk mendapatkan keturunan dari Anggi sudah dibilang tidak membuahkan hasil.


"apa yang harus aku katakan padanya Dion, itu akan sangat menyakiti hatinya, dia bahkan menyuruhku berjanji untuk melindungi anak kita, aku tidak sanggup melihatnya bersedih" ujar Rama seraya menahan sedihnya


"Rama, jika kau tersiksa karena menahan tangisanmu, akan aku beri kesempatan untuk kau menangis diruanganku, aku tau kau berusaha tegar"


"kau tau ada Dokter yang mengatakan, secara klinis menangis itu disebut sebagai fenomena sekretomorik,meneteskan airmata mengurangi dampak kesedihan serta pelipur lara terbaik untuk depresi"


"Dokter siapa yang mengatakan?" tanya Rama merasa masuk akal


"kata aku lah, aku kan Dokter"


Rama memutar matanya malas, baru kali ini dia mendengar perkataan Dion yang sedikit berteori

__ADS_1


"terkadang menangis adalah satu-satunya cara matamu berbicara ketika mulutmu tidak dapat menjelaskan betapa hancurnya hatimu" Bijak Dion


"menangislah jika itu membuatmu lega, semuanya akan baik-baik saja, percayalah"


Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Dion keluar meninggalkan Rama sendiri diruangannya


"sekitar sejam lagi mungkin Anggi akan sadar, temui dia"


"baiklah"


Saat Dion meninggalkan Rama diruangannya dia tidak benar-benar pergi, Dion hanya menunggu diluar ruangannya, Dion juga tidak tau harus kemana, melihat Anggi juga percuma, dia belum sadar. Makanya Dion memutuskan untuk menemani Rama saja walaupun orangnya tidak tau


"maafkan aku Anggi, benar kata Ardan aku tidak becus menjagamu" sesal Rama seraya meneteskan airmatanya setelah memikirkan beberapa kata-kata Dion tadi


Sejam kemudian Rama keluar dari ruangan itu dan menemukan Dion yang sedang bermain game di ponselnya.


"apa yang kamu lakukan disini"


"main game"


"kenapa tidak didalam"


"takut kamu malu, nanti aku melihat mu menangis"


"kata siapa aku menangis"


"tuhh mata kamu" tunjuk Dion ke Mata Rama yang sedikit sembab


"aku habis tertidur tadi, makanya seperti ini"


"ngga usah malu, jelas-jelas aku dengar sebuah isakan yang sangat perih jika dirasakan"


"ehh tunggu, kamu mau keruangan Anggi kan"


"tentu saja"


Terdapat Anggi yang sedang berbaring dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya


Rama duduk tepat di sebelah Anggi memegang tangannya, lalu tak hentinya mengucapkan kata maaf sambil mengusap jemarinya lembut, Rama mencari secarik kertas di saku celananya selembar note yang terselip di sela bunga pemberian Anggi tadi siang.


"terima kasih juga karena sudah membalas cintaku, dan karena kamu juga aku merasakan kebahagiaan memiliki anak walaupun hanya sebentar, aku hanya berharap keajaiban bisa datang menghampiri kita" gumam Rama seraya menundukkan kepalanya


Orang tua Rama dan kakeknya datang menjenguk Anggi setelah mendengar kabar dari sopirnya bahwa Anggi kecelakaan.


"Mama Papa, kalian datang kemari"


"tentu saja, Kami ingin melihat keadaan Anggi"


"bagaimana keadaannya Rama" tegur Kakek


"kakek bertanya saja pada Dion, Aku tidak sanggup mengatakannya"


"Dion" panggil Kakek


"iya kek" jawab Dion yang sedang fokus pada ponselnya

__ADS_1


"bagaimana keadaan Anggi"


"kakek tanya Rama saja" ucap Dion sesantai mungkin


"kalian itu kenapa sih"


"Rama kamu saja yang beri tau Kakek"


"Anggi akan baik-baik saja kek"


"baik-baik bagaimana maksud kamu, tubuhnya penuh luka, kamu bilang baik"


"Anggi akan sadar kek" jawab Rama dengan tenang


"bagaimana dengan kandungannya?" tanya Kakek lagi


Rama terdiam sesaat, dia harus bilang apa ke kakeknya, pasti mereka akan sangat kaget jika mendengar Anggi keguguran. Namun akan sulit punya anak lagi


"Rama kakek bilang, Bagaimana kandungannya, kenapa hanya diam saja"


"maafkan Rama kek, Rama tidak bisa menjaga nya dengan baik"


"kamu yang sabar yah, setelah ini jadikan pelajaran, semoga Anggi bisa cepat hamil lagi" ucap Mama Rama


"semoga saja keajaiban itu cepat terjadi Mah" batin Rama


Anggi terbangun dari tidurnya yang cukup lama, pengaruh bius membuat sedikit sulit untuk cepat bangun


"Anggi" panggil Rama setelah melihat Anggi membuka kedua matanya


"Anakku" tanya Anggi seraya menatap Rama lekat


Rama tidak menjawab pertanyaan Anggi melainkan hanya menggelengkan kepalanya, dengan cepat Rama mengusap pucuk kepala Anggi dengan kasih sayangnya agar dia lebih tenang


Anggi paham apa yang dimaksud Rama, dan itu sentak berhasil membuat airmata nya lolos, dia tidak bodoh mengartikan maksud dari gelengan Rama.


Seolah seperti mendapat ribuan duri yang menancap di hatinya, bahkan jika di cabut satu persatu pun itu akan sangat terasa sangat perih, lain halnya dengan Rama dia seolah mendapat sayatan pisau yang tajam melihat airmata Anggi menetes dengan teratur tanpa mengedipkan matanya saja airmatanya tumpah.


Begitu sedih wanita di hadapannya kehilangan calon anaknya.


"maafkan aku" lirih Rama seraya menghapus jejak air mata Anggi


"Anggi, Bagaimana keadaanmu, apa ada yang sakit" sahut Mama Rama mendekat melihat keadaan Anggi


Melihat mertuanya memberikan kasih sayang pada Anggi membuatnya begitu terharu dan merasa bersalah karena tidak bisa menjaga cucu yang sangat mereka nantikan


"Maafkan Anggi Mah, Anggi tidak bisa menjaganya" ucap Anggi


"jangan bilang seperti itu, apapun yang terjadi semuanya sudah di takdirkan oleh Tuhan"


"jika Anggi berhati-hati mungkin tidak akan jadi seperti ini" kata Anggi lemah


"sudah berhenti menyalahkan dirimu, Mama tidak ingin mendengarnya" tegasnya


"untuk saat ini kamu harus fokus untuk pemulihan mu saja" lanjut Mama Rama memberikan semangat pada Anggi

__ADS_1


"kamu dengarkan apa kata Mama" ucap Rama menenangkan


Bersambung...


__ADS_2