Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Pasca Operasi


__ADS_3

Setelah seminggu kejadian kecelakaan itu yang mengharuskan Anggi di operasi untuk mengangkat janinnya, Anggi akhirnya di izikan keluar dari rumah sakit.


Mereka sekarang sudah berada tepat di halaman rumahnya, Anggi belum diperbolehkan untuk melakukan aktivitas yang berat pasca operasi, takutnya bekas jahitannya akan terbuka dan menimbulkan pendarahan


Anggi berada di kursi roda yang ada Rama tepat dibelakangnya yang setia mendorong kursi roda itu.


Tak hentinya Anggi meneteskan airmatanya setelah masuk ke dalam rumah mereka, begitu banyak kenangan bersama calon anaknya dirumah ini, karena memang aktivitas Anggi selama hamil berada dirumah, dan itu memiliki banyak kenangan yang tidak bisa ia lupakan.


Anggi mengelus perutnya yang rata, dia sadar sudah tidak ada lagi disana


"Rama, aku tidak sanggup masuk kerumah"


"kenapa sayang"


"aku ngga kuat menerima fakta jika aku datang kerumah ini seorang diri tanpa anak kita"


Rama mengelus surai panjang Anggi dengan lembut


"ngga apa-apa, semuanya akan baik-baik saja"


Dengan tenang Anggi menuruti perkataan Rama


Tanpa berbicara banyak Rama segera masuk kemudian berlalu masuk ke kamar mereka. Rama mengangkat tubuh Anggi dengan hati-hati membaringkannya di tempat tidur mereka.


"kamu istirahat yah" ucap Rama seraya duduk di sisi ranjang menemani Anggi


"hmmm"


"jangan berpikir banyak, biarkan semua berlalu tanpa menengok kebelakang, kejadian ini jadikan pelajaran untuk kita agar bisa menjaga anak kita kelak, jika kita di berikan amanah pada Tuhan untuk memilikinya lagi" kalimat Rama yang berhasil membuat pikiran Anggi tenang dan seketika melupakan kejadian itu untuk sementara waktu


Anggi menelisik wajah Rama yang terlihat sangat kacau, wajahnya terdapat ada luka di sudut bibirnya, Anggi baru mengingat waktu itu wajahnya banyak luka memar seperti habis berkelahi, dan Anggi lupa menanyakan keadaannya saat dia sadar setelah operasi


"sayang" Panggil Anggi


"iya ada apa, apa kau butuh sesuatu"


"tidak, sebaiknya kau istirahat juga, seminggu terakhir ini kau sudah menjaga ku tanpa memikirkan kesehatanmu"


" itu sudah menjadi kewajiban aku sebagai suamimi untuk menjagamu"


" berbaring disampingku" titah Anggi


"kalau aku berbaring disampingmu nanti aku akan tidak tahan, kau masih sakit"


"hanya berbaring sayang, cukup untuk mengistirahatkan badanmu, kau telihat sangat lelah"


"baiklah jika kau memaksa"


Rama segera berbaring disamping Anggi, setelahnya Anggi berbalik menghadap Rama terlihat senyum diwajah Anggi.


Anggi mengelus pipi Rama yang terdapat bekas luka di sudut bibirnya.


"ini kenapa" tanya Anggi sedikit menekan bekas luka itu

__ADS_1


"awww" Ringis Rama


"apakah masih sakit? " tanya Anggi panik


"tidak sebanding dengan lukamu"


"bagaimana bisa kau mendapatkan luka ini, apa kamu berkelahi saat itu?" tanya Anggi penasaran


"ngga, ini hanya terbentur saja karena aku berlari dan tidak lihat jalan saat tau kau kecelakaan"


"jangan bohong padaku"


"baiklah aku jujur, sebenarnya ini bekas pukulan, dan aku pantas mendapatkannya"


"siapa yang memukul mu"


"sahabat mu"


"Dara" tebak Anggi


"jika itu Dara yang memukulku mana mungkin separah ini" remeh Rama


" lalu siapa yang berani memukul suami ku sampai seperti ini, dia bahkan memberikan hiasan di wajahnya" goda Anggi


"sudahlah, tidak usah memperpanjang masalah ini, lagian ini sudah hampir sembuh"


"apa Yudha yang memukulmu" tebak Anggi lagi kali ini bertanya dengan serius


"sudah ku bilang tidak usah membahasnya lagi"


"pasti itu Ardan, dia orangnya tidak akan tinggal diam jika tahu aku teluka"


"bagaimana bisa kau mengetahuinya"


"aku tahu semua sifat sahabatku"


"bahkan aku tau jika sahabat laki-lakiku menyimpan perasaan padaku" batin Anggi


"maafkan aku, karena aku kau jadi seperti ini" ucap Anggi


"ini bukan salahmu, aku pantas menerimanya, memang benar apa yang dia katakan, seharusnya aku menjagamu bukan membiarkanmu sendiri"


Teringat Anggi saat terakhir kali mereka bersama dikafe dan semua orang meninggalkannya sendiri termasuk Rama yang lebih memilih melihat keadaan Nada dibanding menemaninya. Dengan cepat Anggi menepis perasaan itu dia tidak ingin berpikir terlalu banyak hanya karena masalah sepeleh.


"maafkan aku"


"Berhenti meminta maaf Anggi, aku tidak suka mendengarnya, ini bukan salah kamu"


"aku hanya merasa bersalah padamu karena baru menyadari kalau kau sama bersedihnya seperti aku, namun aku hanya larut dalam kesedihan tanpa memikirkan perasaan kamu juga"


"tidak masalah, aku mengerti bagaimana perasaanmu, pasti lebih berat dari ku"


Anggi lalu mendekap berbaur ke tubuh Rama memeluknya dengan berbaring dibawah lengan Rama.

__ADS_1


"terima kasih atas perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan selama ini" ucap Anggi seraya menutupi wajahnya di dada Rama


"iya iya, ngga usah bawel lebih baik kau istirahat" ujar Rama mengelus punggung Anggi


Tak selang berapa lama Anggi sudah terlelap dari tidurnya, mungkin karena pengaruh obat yang di komsumsinya, membuatnya merasa mengantuk lebih cepat.


"bagaimana cara aku memberi tahu Anggi fakta kalau dia akan susah memiliki anak lagi" batin Rama yang larut dalam pikirannya.


"apa aku merahasiakannya saja padanya"


Rama menghembuskan nafasnya kasar. Jika kakek dan orang tuaku tahu juga fakta yang sebenarnya, apa mereka akan kecewa,


"Hahh, kenapa perasaan ini sangat menghantuiku"


Sedari tadi Rama tidak bisa tidur, padahal dia ingin sekali beristirahat dengan tenang bersama Anggi disampingnya


Kini Rama berada di balkon kamarnya, menatap kelangit yang sudah mengelap hanya ada hiasan bintang disana.


Entah kenapa malam ini membuat moodnya begitu buruk yang di otaknya hanya perasaan khawatir pada Anggi.


Sesekali Rama memijit pelipisnya, pikiran itu membuatnya sakit kepala. Mungkin dengan merokok akan membuat stress nya lebih tenang.


Disela jari Rama sudah ada sebatang rokok yang siap untuk di nyalakan dan di genggaman satunya terdapat korek gas yang siap untuk di patik


Sebelum menjemput Anggi di Rumah sakit untuk di bawa pulang kerumahnha, Rama menghampiri Dion dulu diruangannya meminta pendapat untuk mencari solusi agar keputusannya tidak menyakiti semua orang.


"Dion, kau Di ruanganmu, aku ingin bertemu"


Kata Rama seraya mengetik teks di layar ponselnya yang siap mengirim pesan ke Dion


Baru saja Dion melangkah dari duduknya untuk pulang kerumah, karena hari ini tidak terlalu banyak pasien, suara notifikasi nada dering pesan masuk berbunyi


Segera Dion mengecek, dan membuat isi pesan itu, tertera nama Rama disana, sentak Dion memutar matanya malas, pasti dia akan berbicara tentang Anggi lagi


"iya, tapi aku sudah mau pulang"


"cepat kesini, aku akan menunggumu" balas Dion seraya mengetik di ponselnya


Selang berapa menit, Rama langsung masuk keruangan Dion tanpa permisi apa lagi mengetuk pintu terlebih dahulu, sungguh sangat tidak sopan, gerutu Dion saat melihat Rama dengan muka memelasnya.


"Ada apa mencariku" kesal Dion


"apa aku memberi tahu mereka saja tentang kondisi Anggi"


"terserah kamu saja, cepat ato lambat, Anggi juga akan tahu"


"saran saya lebih baik cukup kamu saja yang tahu, aku akan membantumu merahasiakannya juga" ujar Dion santai


"aku pulang dulu yah, aku capek"


"oh iya itu jasku kamu pakai aja, kemeja putihmu transparan, Apa kau mau menggoda suster disini yah" ucapnya lalu berjalan menjauh sambil menahan tawa


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2