
Anggi dan Luna berada di taman dekat parkiran
"langsung aja, apa hubunganmu dengan Rama?" tanya Luna to the point sambil melipat kedua lengannya di dada
"sebelum aku menjawab pertanyaan kak Luna, boleh aku bertanya duluan"
"sekarang status kalian apa?"
"tentu saja pacarku, kamu tidak liat berita yah"
"pacar atau mantan"
"kamu ini ketinggalan berita atau pura pura tidak tau"
"aku tau kok, tapi setauku kak Luna hanya mantannya"
"kamu itu cuma orang baru, jadi jangan merusak hubungan orang" kata Luna percaya diri
Anggi tertawa mengejek melihat Luna terlalu percaya diri.
"hubungan ku dengan Rama tidak penting untuk kamu ketahui"
"tentu saja penting lah"
"jika kau tau, dan semua orang tau mungkin karir mu jatuh lagi, jadi jangan membuatku emosi"
"kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi aku pergi"
"belagu banget sih" Luna Kesal
Luna menghadang Langkah Anggi yang ingin meninggalkannya.
"tunggu dulu, kamu belum memberi tahu ku"
"aku tidak punya jawaban, permisi" ucap Anggi
"aku sudah bicara baik baik yah, jangan membuatku marah"
"terserah aku"
Emosi Anggi naik turun, hormonnya meningkat melihat wajahnya Luna saja dia sudah kesal
Luna sudah membangunkan macan yang tertidur
Luna juga tersulut emosi dengan kelakuan Anggi yang membuat dirinya kesal
Luna mendorong bahu Anggi kesal, Anggi membulatkan matanya tak percaya, bagaimana bisa ada wanita sekasar itu, Dara sahabatnya saja mikir dua kali kalau ingin melabrak seseorang
"mau kamu apa sih, bukannya sudah ku bilang tidak ada jawaban dariku"
"aku heran bagaimana bisa Rama mengenal wanita kurang ajar sepertimu"
Anggi tidak percaya dengan semua perkataan Luna yang keluar dari mulutnya
"cukup, jangan membuatku kesal" ucap Anggi
Tanpa mereka sadari sudah banyak pasang mata yang menonton perdebatan mereka.
Seperti yang kalian ketahui, jika wanita sedang bertengkar, sasaran utama yang paling mereka lakukan adalah rambut dan kuku mereka yang cukup tajam
Gilang dan Jibran melihat banyak orang yang berkerumun menonton perdebatan mereka saat berjalan mendekat penasaran siapa tokoh utama yang sedanv mereka tonton
"wahh tontonan gratis nih" kata Gilang
"coba kamu liat siapa? " tanya Jibran
Saat mendekat, Gilang cukup kaget melihat Luna bertengkar tapi tidak melihat Anggi yang tertutupi oleh rambut panjangnya. Tapi Gilang menyadari itu pasti wanita yang kemarin
Gilang kembali menghampiri Jibran.
" wow wow, sangat luar biasa" ucap Gilang sambil bertepuk tangan puas
"ada apa?, seperti kamu cukup melihat orang bertengkar"
"jika kamu liat siapa orangnya, kamu tidak akan percaya"
"siapa?" tanya Jibran singkat
__ADS_1
"telpon Rama sekarang, wanitanya sedang bertengkar"
"hah" jibran kaget
"kenapa ngga kamu lerai, bodoh"
"aku tidak mau bergabung, yang ada entar aku jadi sasaran mereka"
"kamu saja yang telpon" surub Jibran cuek
"kamu ini gimana, kalau aku yang telpon pasti dia tidak percaya sama ucapanku"
"yah sudah"
Jibran mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya
"kesini sekarang" kata Jibran
"dimana? "
" taman parkiran"
"buat apa? "
"cepat kesini"
"ada apa?"
" Luna dan Anggi"
"kenapa mereka, kalau tidak penting ngga usah.. "
" bertengkar"
Rama langsung menutup telponnya kemudian berlari menuju lokasi, yang dia pikirkan hanya
Anggi, semalam dia sakit bagaimana bisa dia berakhir bertengkar dengan Luna
Tak sampai beberapa menit, Rama langsung menuju kerumunan
Rama heran melihat Anggi cukup berantakan
Luna melihat Rama pikirnya Akan dibela Rama
" Rama" ucap Luna
Yang di panggil malah sibuk menatap Anggi.
"kamu sangat kuat untuk bertengkar yah" sinis Rama ke Anggi
"dia yang mulai duluan"
"ayo sini bikin malu saja"
"ngga, aku belum puas"
"Anggi, cukup" bentak Rama
"oh kamu belain dia"
Anggi merasa kesal karena Rama malah membela Luna, Anggi merasa dia tidak bersalah, tapi malah di bentak Rama
"bukan seperti itu"
Anggi benar benar kesal sekaligus muak dengan Rama dan Luna yang berdiri di depannya sambil mengalungkan tangannya ke lengan Rama
Dara yang melihat menghampiri Anggi
"kau tidak apa-apa"
"tinggalkan aku sendiri"
"mana bisa aku meninggalkan mu sendiri, ayo sini"
Dara mengajak Anggi di sebuah tempat duduk untuk menenangkannya.
"wahh, terakhir kali aku melihatmu begini saat seseorang mendekati pacarmu"
__ADS_1
"itu udah lama yah Ra, jangan ungkit kejadian itu lagi"
" kenapa tidak mengeluarkan jurus kuda kuda mu tadi, sabuk hitam rugi jika tidak di aplikasikan"
"berisik, bisa diam tidak"
Dara hanya tertawa melihat penampakan Anggi sekarang
"Dara, jangan main main yah" ucap Anggi kesal di tertawakan Dara
"Ampun" sambil menunjukkan dua jarinya
"untung aja aku masih sabar, cuman narik rambut dia"
"kamu bilang cuman narik rambutnya, itu udah sakit banget loh gi"
"biasanya, aku pake jurus"
" yah udah kita ke toilet aja, liat muka kamu udah acak acakan begitu"
Sambil berjalan ke toilet, Rama melihat Anggi dari kejauhan, memerhatikan Anggi yang sedikit menahan rasa sakit.
Anggi hanya berpura-pura kuat dihadapan Dara, tapi aslinya dia sangat kesakitan.
Penampilan Luna hanya berkedok feminim nyatanya diluar dugaan. Sama seperti Anggi tapi masih jauh hebat di banding Luna.
Anggi pernah mengikuti latihan seni bela diri, dengan sabuk hitam saat umurnya 16 tahun
Saat kakeknya tau dia ikut seni bela diri, kakeknya sangat tidak menyetujuinya. Makanya Anggi sudah tidak pernah datang ke tempat itu lagi.
Anggi dan Dara masuk le toilet, kemudian merapikan rambut dan bajunya yang tidak berbentuk itu
" kamu siapa" humor Anggi sambil menunjuk cermin di hadapannya
"Kumat lagi deh" jujur Dara
Dara mengeluarkan alat makeup nya dari dalam tas dan memberikannya ke Anggi
"dandan yang cantik, biar ngga kalah cantik dari saingan mu"
"dia ngga cocok jadi saingan aku"
"emangnya siapa orang yang di jadikan rebutan"
" Rama"
"Rama itu siapanya kamu rela kamu jadikan rebutan"
"Suami aku"
"di akuin juga Rupanya"
"ishh, Dara" ucap Anggi keceplosan
"untung aja ngga ada orang di toilet, hampir aja kamu ketahuan"
"kamu sih mancing mancing terus"
"yah udah maaf"
"kenapa kamu ngga akuin saja sih, biar Luna itu ngga dekat dekat lagi sama kak Rama"
"aku belum siap Ra"
"sampai kapan kamu menyembunyikan status kamu"
" entahlah, mungkin ada waktunya aku bisa menerima dia, tapi tidak sekarang"
"perasaan kamu bagaimana"
"sepertinya aku mulai merasakan ketulusan dia, walaupun aku belum yakin"
Rama berada di luar toilet sambil menunggu Anggi keluar dari toilet, dari luar Rama mendengar percakapan Anggi dan Dara.
Tanpa sadar senyum Rama merekah, Rama cukup senang mendengar ucapan Anggi
"aku akan berusaha untuk bisa mendapatkan hati mu Anggi, seperti nya aku yang jatuh cinta duluan padamu" gumam Rama sambil bersandar di tembok
__ADS_1
Bersambung.....