
Rama mendorong tubuh Anggi berbaring ke tempat tidur. Rama membuang tubuhnya tepat di atas Anggi, menatap mata anggi dengan hangat
Meraba bibir Anggi mengangkat dagu mungil itu
Anggi sudah mulai takut dengan kelakuan Rama yang sangat tidak terduga
Dipikirnya Rama hanya bercanda mengingat dia tidak punya perasaan padanya
Dengan detak jantung yang menderu, memaksanya memberanikan dirinya untuk tidak terbuai dengan perlakuan Rama padanya
"Berhenti kumohon"
sudah terlambat, bibir Rama sudah mendarat di bibir Anggi menciumnya dengan lembut.
Dengan sekali kecupan singkat tapi cukup lama menempel
"Rama sadarlah kau bahkan tidak menginginkan pernikahan ini. Berhenti ku mohon". Tegas Anggi
Rama berhenti dengan aktivitasnya tadi, membisikkan ke telinga Anggi
“Jika kau tidak mau, kenapa menggoda ku seperti ini hehh”
Anggi tidak tau harus membalas perkataan Rama, segera menyingkirkan tubuh Rama agar Anggi bisa beranjak dari tempat tidur itu.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi” pergi meninggalkan kamar itu dengan sedikit kesal
“tapi jika kau menginginkannya aku bersedia memberikannya padamu” berteriak ke Anggi (sambil tersenyum smirk)
"manis" gumam Rama sambil mengusap bibirnya yang duduk di pinggir tempat tidur tadi
Anggi Masuk kekamarnya dengan wajah yang memerah karena malu.
“apa dia sudah mulai gila”
Anggi bergetar ngeri saat membayangkan kejadian yang baru beberapa menit berlalu itu
Anggi berpikir sejenak, barang barangnya harus dia bawa kesana.
"Tapi kalau dia melakukan itu lagi gimana"
Anggi mulai berbolak balik di balik pintu kamarnya
"ahh sudahlah, pura pura lupa saja dengan kejadian yang tadi, lelaki itu pasti sok berani saja"
Dengan pasti Anggi membawa barang nya malam itu juga kekamar Rama. Anggi langsung masuk karena pintu kamar memang sengaja di buka lebar
Anggi menumpuknya barangnga ke atas tempat tidur
“Simpan di situ saja, nanti bibi yang merapikannya”
“iya iya iya” dengan nada sedikit kesal
“kau berani melawan ku lagi”
Anggi berlari keluar kamar takut hal yang tidak diinginkan terjadi lagi. (menjulurkan lidahnya ) mengejek
“Kenapa aku bisa menikah dengan wanita seperti dia” menghembuskan nafasnya berat
Rama menatap barang barang milik Anggi cukup banyak. Rama menggeleng kepalanya
"harus disimpan dimana semua barangnya"
"Kalau disimpan sebagian di kamar nya nanti kakek curiga"
Bibi mengetuk pintu kamar Rama.
“Tuan aku sudah menyiapkan makan malam untuk anda, nona Anggi Juga sudah ada di meja makan”
"iya bi"
"oh iya, Rama minta tolong yah, Bibi tolong atur barang barang Anggi yah"
"Kalau bisa bibi pisahkan antara punyaku yah, biar tidak pusing carinya" lanjutnya
"iya tuan"
"Terima kasih yah Bi"
Rama Segera keluar kamar, karena memang dia belum makan seharian ini
__ADS_1
...-----------------------------------------------------------...
Di hari minggu pagi disaat semua nya masih tertidur, untung saja mereka tidak ada jadwal kuliah.
Bibi sudah membuat sarapan di dapur Bibi mengetuk pintu mereka untuk bangun, tak ada satu pun yang menyahut.
Mobil mewah berwarna hitam pekat berada tepat di pintu gerbang rumahnya. Bibi segera mengetuk pintu mereka sampai mereka bangun.
“jika mereka ketahuan bisa terjadi masalah” gumam Bibi
Bibi segera Membuka pintu kamar Anggi yang tidak terkunci, Dengan berani membangunkan Anggi dengan paksa.
“Kakek sudah datang Non ayo cepat bangun”
Sontak Anggi kelabakan Bangun dengan tergesa gesa
"Apa sepagi ini? Apa yang harus aku lakukan?" berpikir dengan cepat.
Anggi berlari menuju kamar Rama untung Saja Kamarnya tidak terkunci.
“bibi rapikan tempat tidur ku” (berteriak)
berlari cepat, Melompat ke tempat tidur berbaring di samping Rama.
Rama sangat kaget merasa ada yang mengganggu tidurnya.
“apa yang kamu lakukan di kamarku, turun” titah Rama
“kita lihat apa kau menyuruh ku turun, atau malah menyuruhku tetap tinggal disini” gumamnya
“Kakek sudah di depan pintu kau malah masih santai begini” jelas Anggi
“Kenapa tidak bilang dari tadi” sedikit kesal
“aku juga baru tau tadi, untung bibi membangunkan ku"
Kakek dan orang tua Rama masuk dalam rumah yang di sambut oleh Bibi.
“kemana mereka Bi” Mama Rama
“sepertinya belum bangun Nyonya”
“tidak perlu Bi, biar aku sendiri yang membangunkan mereka”
Dikamar tidur sibuk mencari posisi yang pas agar tidak di curigai, mereka bahkan sempat saling menatap saat mata mereka tertuju pada mata mereka yang sudah terjaga.
“kamu bisa tenang sedikit gak sih” Rama
“Gimana aku bisa tenang, mereka tiba tiba datang sepagi ini”
Karena Anggi terlalu cerewet, Akhirnya Rama mengambil Tindakan dengan cepat dia menutup tubuh mereka dengan selimut.
meraih kepala Anggi ke dada nya, bibirnya menyentuh dada bidang itu untuk kedua kalinya.
Tangannya mendarat ke badan anggi yang membuat Anggi tidak bisa bergerak untuk melepas dekapan Rama
Mama Rama menuju kamar tidur mereka.
Membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk.
Mendapati mereka berdua tidur berdampingan.
(berpura pura bangun) Menggosok matanya yang seperti baru bangun itu, suara pintu terbuka menandakan seseorang telah datang.
“Ma.mama” (Anggi mengangkat kepala nya sedikit melirik)
“ada apa sayang?” (Rama terbangun) bertanya ke Anggi
"Cihh Sayang, sejak kapan panggilan itu berubah, kau berpura pura romatis di hadapan Mama mu”. Gumam Anggi
“mama udah datang, ayo bangun ini sudah siang”. Teriak Mamanya
"Siang dari mana, matahari aja belum muncul" kesal Rama menggerutu
Rama melirik jam yang berada di nakas
"05:20" Rama bernafas berat
"Mah" Peringat Rama ke mama nya
__ADS_1
Karena Mama Rama tau kalau anaknya itu akan bangun jika waktunya dia bangun
“kalian lanjutkan saja tidurnya, mama hanya mencari kalian saja” menutup pintu kembali.
Setelah merasa aman, melihat ke pintu mamanya memang sudah keluar kamarnya
“Lepaskan tangan mu, apa kau merasa nyaman merangkul ku sampai kau tidak ingin melepasnya?” Anggi
“memangnya kenapa?, jika aku menginginkan yang lebih dari itu bisa saja ku lakukan”
“Kamu sudah bangun jadi jangan bermimpi terlalu jauh. karena itu tidak mungkin terjadi.”
Melepaskan tangan Rama
Anggi segera turun dari tempat tidur, tapi Rama menarik lengan Anggi, sampai Anggi terbaring ke tempat tidur lagi
“apa yang tidak bisa kulakukan, kita sudah berada ditempatnya sekarang”
“hehh, aku tinggal melepas bagian itu saja” menunjukkan dengan tatapannya
Anggi Memalingkan mukanya yang sudah hampir terhimpit pada kedua bibir itu, memajukan wajahnya selangkah saja dia bisa menciumku.
“Lihat kau berani merayu ku tapi tidak ingin melakukannya” berbisik ketelinga Anggi.
“Lakukan saja” tantang Anggi
“aku ingin lihat apa kau berani melakukannya, atau hanya mengancam ku saja” tegasnya
Mata mereka saling menatap dengan dalam
Disisi lain mamanya melaporkan kejadian yang dilihatnya tadi ke kakeknya, kakeknya tidak percaya yang di katakan mama Rama, dia harus melihatnya langsung.
Segera menghampiri kamar mereka itu, terdengar suara pintu terbuka, Anggi dan Rama sontak berbalik bersamaan. Ke asal suara itu kakek dan mama nya berdiri depan pintu.
Dengan posisi Anggi berada di bawah Rama, terlihat sangat malu
“Kakek, Mama” (teriak Rama)
Mereka kabur sambil tertawa cekikikan melihat situasi itu yang barusan dia lihat langsung dengan mata nya sendiri.
Menjentikkan jari telunjuknya ke hidung mancung itu dengan pelan pada Anggi
“Kau lolos hari ini” lain kali jika kau berani menggoda ku lagi, aku tidak akan memperingatkan mu lagi.”
Beranjak dari tempat tidur. Anggi masuk ke kamar mandi, di balik pintu kamar mandi menepuk dadanya dan bernafas lega
"ternyata dia tidak mengancamku, habis aku kalo nggak ada kakek tadi"
tapi sebenarnya Rama memang sedang mengancam Anggi, Rama membasuh mukanya ditempat westapel dan mengeringkannya dengan handuk yang terlipat di dalam lemari.
Menatap wajahnya di cermin, membayangkan yang baru terjadi.
“apa jadinya jika tidak ada kakek" tersenyum sinis
“apa dia bilang, lakukan saja”
"dia seberani itu padahal takut aku melakukan nya, mana mungkin aku melakukannya, aku bahkan belum bisa menerima pernikahan ini begitupun dengan mu"
"Hampir saja dia mengira aku mengancamnya saja. sepertinya dia tidak berani lagi menggodaku dengan sengaja. gumamnya kemudian Melirik depan pintu kamar mandi yang sudah ada Anggi di dalam sana
“Sial aku lupa membawa pakaianku kedalam kamar mandi"
Dengan was was Anggi keluar dari kamar mandi, melihat sekeliling kamar memastikan tidak ada orang, sepertinya pria menjengkelkan itu pergi bertemu kakek di luar
Di sofa Rama sedang duduk menunggu Anggi selesai mandi. Terlihat Anggi yang hanya memakai handuk yang melingkar di badannya, dengan rambut yang membasahi tubuhnya, menambah tingkat keseksiannya.
Rama segera memalingkan mukanya, takut tergoda dengan keseksian Anggi.
“Gila, kenapa dia selalu membuatku tergoda”
segera masuk keruang ganti, pakai baju mu cepat. Perintah Rama
"aku juga ingin mandi"
dengan canggung Anggi berjalan cepat keruang ganti
Mereka selesai dengan keributannya yang bergantian memakai kamar mandi.
Bersambung.....
__ADS_1