
Saat fajar mulai terbit, Anggi menggeliat merenggangkan ototnya, terasa ada yang menjanggal, sesuatu yang berat melingkar di perutnya.
Anggi mengangkat kepala nya ingin bangun, sebelum itu Anggi meletakkan lengan Rama di sisi kirinya dengan hati hati berharap Rama tidak terbangun dari tidurnya. Setelah terbangun di tengah malam oleh ulahnya sendiri.
Tapi Nihil, Rama malah kembali mengeratkan pelukannya. Anggi hanya pasrah dan tidur kembali.
"Cukup hari ini aku izinkan kamu seperti ini" ucap Anggi dengan sumpah serapahnya
Rama terbangun menyadari tingkahnya yang diluar batasnya, cukup terkejut dengan hati hati melepaskan pelukannya, berharap Anggi tidak melihat kelakuan nya.
"sudah bangun" kata Anggi
"hmm" balas Rama kaget saat ketahuan
"Puaskan sudah meluk aku semalaman" tanya Anggi menggoda Rama
"yang meluk kamu siapa, jangan menghayal pagi pagi"
"oh jangan jangan kamu suka dipeluk yah sama aku"
"kalau masih mau sini aku peluk" tambah Rama malah berbalik menggoda Anggi
"ihh, yang ada itu kamu yang meluk aku, kalau ngga mau percaya ini buktinya" ucap Anggi Enteng
"Untung aku foto tadi, sebagai bukti biar dia malu sama kelakuan nya" gumam Anggi
"kalau aku meluk kenapa, mau marah?. terserah aku, Hak aku juga kan, seharusnya kamu itu nyadar. Kalau kamu itu, 'MILIKKU'. Mengerti
Anggi hanya melongo, terkejut dan tidak tau harus ngomong apa, semua yang di katakan Rama benar. Kalau dia itu tidak berhak marah hanya karena sebuah pelukan.
Kalaupun Rama menginginkannya saar itu juga, yah itu wajar saja. Bahkan usia pernikahannya sudah Menginjak 3 bulan. Rama bahkan belum menyentuhnya sedikit pun.
tidak tau harus berkata apa Anggi melangkahkan kaki nya ke kamar mandi membersihkan dirinya lalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan
Di Dapur sudah ada Bi ija yang sudah bergelut dengan alat alat dapur.
"Bibi, Anggi Bantu yah"
"memangnya nona bisa masak"
Anggi hanya nyengir kuda
"Bi, Ajarin Anggi masak" ucap Anggi semangat
"Boleh, tapi ngga apa apa nih Non, ini kan tugasnya Bibi"
"Anggi kan cuma mau belajar aja, siapa tau nanti Bibi ngga ada yang masak siapa"
Rama melihat interaksi Anggi dan Bi ija, sedikit tersenyum mendengar Anggi ingin belajar memasak
Rama duduk di meja makan ingin sarapan, kakek sudah ada di sana sedang menunggu sarapan
"ini masakan pertama aku 'nasi goreng' silahkan di coba"
"ini masakan kamu beneran" tanya Rama
"di bantu sama Bibi" sambil nyengir
"bilang aja kalau masakan bibi, kamu cuma nonton doang tadi, kamu mana bisa masak" Rama mengejek
"ihh aku ngga nonton yah, aku bantu ngaduk ngaduk, tanya aja sama bibi"
"sudah sudah, lebih baik cepat makan" ucap Kakek
Anggi segera duduk ikut sarapan bersama
__ADS_1
"Anggi, semalam kamu kenapa? " tanya Kakek memulai pembicaraan
Anggi terdiam, mengingat kejadian semalam
Wajahnya memucat tanpa ekspresi, Anggi menunduk malu
" ngga ada apa apa kok kek" ucap Anggi menatap makannya di piring
"kalau ada masalah beri tau kakek, siapa tau kakek bisa bantu kamu"
"Anggi ngga ada masalah kok kek, Anggi hanya kaget semalam" ucap Anggi tenang menjaga ekspresi agar seseorang yang berada di depannya tidak khawatir
"hari ini biar Rama yang mengantar mu ke kampus"
" Tapi kek, Anggi ngga apa-apa berangkat sendiri"
"ngga ada tapi tapian, aku gak mau ada penolakan"
"yah udah kek" ucap Anggi pasrah
Anggi berangkat bersama Rama ke kampus
Saat di perjalanan menuju kampus, tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Hanya ada alunan musik yang mereka dengar.
"pulang kuliah aku tunggu"
"ngga usah, aku mau pergi bareng Dara ke departemen store"
"untuk apa? "
" belanja lah, untuk apa lagi"
"berdua" tanya Rama cuek
"aku temanin"
"gak usah"
"Kenapa?"
"ngga ada apa-apa"
" bilang aja kalau mau keluyuran"
"yang keluyuran itu siapa, aku mau beli sesuatu bareng dara, bukan mau main main cari cowok"
"mau cari cowok ternyata"
"yang bilang mau nyari siapa"
"kamu"
"aku masih sadar yah kalau aku ini udah nikah"
"ngga kayak kamu, udah nikah tapi ngga bisa lepas sama mantan pacarnya" lanjut Anggi sarkas
" hmm, kamu ngga ngaca yah, kamu aja ngga mau akuin aku sebagai suamimu, malah nuduh aku"
" bilang aja kalau cemburu"
"ngga tuh"
"kalau ngga cemburu apa namanya"
"ngga, biasa aja"
__ADS_1
"lalu kenapa ngga mau ngakuin aku" tanya Rama mendesak
"yah ngga mau ketahuan kalau udah nikah"
"kalau udah nikah memang salah"
"ngga salah, cuman terlalu cepat aja buat aku"
"kamu pikir aja yah, memang nya kalau teman teman kamu tau kalau udah nikah, entah apa yang ada di pikiran mereka"
"lagian kenapa harus mikirin pendapat mereka, yang jalanin itu kita"
"kamu memang tidak mau mikirin pendapat orang, karena sedikit pun perasaan cinta sama aku itu tidak pernah ada "
" bagaimana aku bisa ada perasaan sama kamu, sedangkan mengakui ku saja kamu tidak berani di hadapan orang orang"
"seseorang akan merasa dirinya di hargai jika kamu mengakui nya, memberi tahu ke orang orang kalau dia itu ada, bukan hanya sekedar status Anggi" dengan nada tinggi
Rama menghentikan mobilnya mendadak, meluapkan semua pendapatnya ke Anggi, emosinya memuncak di ubun ubun
Air mata Anggi terjatuh saat dia juga tidak bisa menahan emosinya berdebat dengan Rama
"tapi kamu lebih mengakui status mu sebagai pacar Luna di banding kamu membantah kalau kau sudah menikah"
"hmm kamu nyuruh aku ngaca, sebelum berkata lebih baik liat diri kamu sendiri" ketus Anggi mempertahankan pendapatnya sambil tersenyum meremehkan
"tidak usah mengantar ku sampai kampus, lebih aku naik taksi saja"
Rama menarik tangan Anggi saat ingin turun dari mobil,
"bukannya sudah ku bilang aku akan mengantarmu, jangan membuatku marah Anggi"
Anggi hanya diam dan menuruti perkataan Rama, Anggi hanya menatap jalanan sambil menghapus jejak air matanya.
Mobil yang di kendarai Rama berhenti tepat di depan fakultas mereka. Rama turun membuka pintu mobil untuk Anggi.
"tidak mau turun? " tanya Rama
Sejenak Anggi memikirkan ucapan Rama yang butuh pengakuan ke semua orang,
" apa dia tidak masalah jika orang tau dia sudah menikah" pikir Anggi melihat orang sekitar
Rama berdeham, menyadarkan lamunan Anggi
Anggi menarik lengan baju Rama, bertanda ingin memberitahukan sesuatu
"Kenapa? "
" apa tidak masalah jika orang tau "
" aku tidak masalah" ucapnya lembut
"kalaupun kamu belum siap, tidak apa apa, aku akan menunggumu sampai kamu siap" sambil mengelus pucuk kepala Anggi
"maafkan aku" kata Anggi menyesal
"aku juga minta maaf"
"terima kasih karena mengerti perasaanku" ucap Anggi
Anggi turun dari mobil kemudian berjalan bersama Rama, semua mata memandangnya heran, bagaimana bisa Mahasiswa baru itu dekat dengan Rama
Banyak mahasiswa yang bertanya tanya tentang hubungan antara mereka berdua
Bersambung...
__ADS_1