
Sesampai nya di kampus mereka memasuki ruangan yang telah disiapkan untuk melanjutkan kegiatan ospek tersebut.
Semua panitia mengisi ruangan dan meninjau kegitan untuk berjalan dengan lancar.
Rama membuka kegiatan dengan gaya yang keren membawakan materi, kata demi kata tersusun rapi yang keluar dari mulutnya, membuat semua terkagum dengan caranya menyampaikan yang dapat diserap ilmunya semua mahasiswa baru bertepuk tangan bangga mendengar kata yang diucapkan barusan.
dia benar benar berwibawa dalam menyampaikan materi, gadis yang ada didekat Anggi dan Dara berbincang membicarakan sosok pemateri tadi.
"sudah ganteng, pintar, dan dia anak dari keluarga terpandang, hebat sekali dia beruntung sekali wanita yang akan mendapatkannya".
Mendengar hal itu Anggi berbicara dalam hati
"apa kau pikir aku seberuntung itu, bisa mendapatkan lelaki yang sangat menjengkelkan, kau hanya tidk tau wajah asli dia, itu hanya sampul yang indah tapi tidak dengan kelakuaanya".
Kegiatan ospek yang dilakukan selama 3 hari ini sudah selesai, panita menutup acara dan semua mahasiswa berhamburan keluar dari ruangan.
banyak yang berkenalan dan ada juga yang menyapa panitia sebagai senior mereka, yang paling mengherankan, Rama sudah tidak terlihat lagi dari pandangan Anggi
Bukan tidak terlihat tapi tertutupi dari mahasiwa baru wanita yang sangat ingin berkenalan dengan Rama.
Anggi memilih keluar tanpa sengaja bertemu dengan seniornya yang tak lain teman Rama, namanya Jibran, orang yang terlihat tampan, cuek dan sedikit bicara, namun tidak mengalahkan ketampanan Rama disusul oleh temannya yang baru saja muncul bernama Gilang wajah yang manis dan ceria membuat dirinya selalu senang untuk di pandang.
Jibran tidak sengaja menambrak Anggi yang hampir terjatuh, dengan sigap Jibran langsung menolongnya.
"Tidak apa apa ?" satu pertanyaan dari Jibran
Anggi Masih mengurus dirinya yang masih kaget.
Jibran menatap Anggi dengan lekat, bertanya kembali,
"kau tidak apa apa"
"Aku tidak apa apa" jawabnya
"maaf"
"tidak masalah, santai saja, badanku juga tidak lecet kok, hanya sedikit kaget"
"baguslah"
aku melihat kearah yang lain
Jibran hanya mengangguk dengan gaya cueknya, Gilang muncul dan mendapati Jibran mengobrol dengan Anggi,
"siapa dia" kata Gilang yang bertanya pada Jibran.
baru kali ini aku melihatmu mengobrol dengan wanita, Gilang menatap Anggi dan Dara
"cantik" kata Gilang, tapi Jibran telah meninggalkan mereka dan berjalan menuju Rama.
Anggi dan Dara pun segera meninggalkan tempat itu.
Gilang berbalik dan mendapatkan dirinya sendiri, Gilang berlari mengejar Nya, Jibran tunggu dan menuju ketempat Rama, teriaknya
Rama diam diam memerhatikan peristiwa tadi dengan sedikit kecurigaan, apa mereka saling mengenal, Rama menyadari bahwa Jibran saingan yang berat untuknya jika menyangkut tentang wanita dan kepopuleran.
Jibran melambaikan tangan dengan memasukkan tangan kirinya ke saku jaketnya bertanda menyapa Rama.
"Hai...lama tidak berjumpa, aku dengar kamu mengungjungi kakekmu di Paris", sapa Jibran.
"Baru kali kau berbicara sangat banyak, Kau tau dari mana?"
"kerumah mu"
Rama hanya ber Oh ria
"Pelayan dirumahmu memberi tahu ku kalau kau ke paris bersama keluargamu"
"oh iya, aku juga kemarin kerumahmu lagi aku pikir kau sudah kembali tapi katanya kau tidak tinggal disana lagi. Ada apa? "
__ADS_1
"Kau sudah terlalu banyak bicara Jibran, kenapa kau begitu cerewet setelah liburan ini"
" Kalian cerita apa sih beritahu ke aku juga" kata Gilang
"Kenapa kau mengajarkan Jibran menjadi banyak cerita begitu" bertanya ke Gilang
"Hei Bro aku baru datang kenapa malah menuduhku"
"Bahkan aku baru ketemu dengan kalian, tapi tunggu aku melihat nya tadi berbicara dengan seorang wanita"
"Eyyy Bro kau sudah banyak berubah, siapa wanita cantik yang kau ajak cerita"
"Ahh sudahlah itu tidak penting, lebih baik kita cari makan saja".
Mereka berjalan bersama dengan gaya keren mereka, mahasiswa baru yang melihatnya terpana dengan ketampanan mereka, aku pikir kejadian yang aku liat barusan hanya ada di layar kaca, aku akan betah ke kampus jika melihat ini tiap hari seperti ada penyemangat. Tertawa bersama
Dengan kecantikannya Anggi berjalan bersama Dara melewati 3 lelaki yang berjalan dengan gaya keren itu. 2 gadis itu berbincang sambil tertawa kecil menertawakan seseorang yang didengar nya bercerita tentang lelaki tampan itu.
Dengan rambut yang terkibas karena angin yang sepoy itu membuat kecantikannya bertambah 2 kali lipat ditambah senyumnya yang manis menjadikan dia wanita sempurna untuk di pacari.
Saat melewatinya Rama terlihat cuek seperti orang yang tidak pernah dia kenal begitu pun Anggi.
Seorang lelaki berteriak memanggil nama Anggi, sontak berbalik dengan gaya anggun lelaki itu melambaikan tangannya, yah dia Satria teman kelasnya di SMA dulu sekaligus Sahabat kecil Dara, berjalan menghampiri kedua gadis itu,
“kalian kuliah disini juga”,Satria.
"Seperti yang kau lihat" Anggi
Satria adalah teman kelas Anggi dan Dara yang cukup populer di SMA nya dulu, Anggi pernah suka dengannya dulu bahkan pernah menulis surat cinta padanya atas dorongan Dara waktu itu.
Tapi surat itu hilang entah kemana sebelum memberikan surat itu langsung ke pemiliknya.
"Anggi Dara kau mau kemana?"
"Kami mau cari makan apa kau mau ikut?" Kata Dara
"Boleh, aku juga belum makan"
"Sepertinya aku melewati tempat makan tadi"
di bagian sana, menunjuk kearah tempat makan ke lokasi 3 lelaki itu pergi
3 lelaki itu sudah sampai ditempat makan yang sering mereka kunjungi, dengan menu makan favorit mereka pesan hampir tiap hari.
"Bu seperti biasa yah" Gilang
Anggi Dara dan Satria sampai di tempat makan yang ditunjuknya tadi. Masuk dan mengambil tempat duduk masing masing yang letaknya bersebelahan dengan meja Rama,Jibran dan Gilang.
Memesan makanan yang ingin mereka makan, Rama menatap Anggi tanpa sadar Anggi juga menatapnya, mata sayup mereka saling berpapasan, mata mereka saling berbicara diantara para teman temannya.
“Kenapa kau menatap ku" Rama mengangkat dagunya mungkin kata yang dia ucapkan melalui bahasa isyarat dagunya.
“Menggerakkan bibirnya meyeringai”, Anggi
Dengan pedenya Rama berpikiran, "Apa dia terpesona dengan ketampananku sekarang" tertawa kecil
"apa yang sedang dia pikirkan,kenapa dia tertawa seperti orang kasmaran" liat saja aku akan mengerjaimu.
Anggi mengedipkan matanya untuk melancarkan aksinya
"ternyata dia mengemaskan juga, apa dia sedang merayuku sekarang" Rama tersenyum lagi
Anggi melihat situasi lagi dan mendapati Rama melirik dia lagi, Anggi sekarang mengecupkan bibir nya melancarkan aksinya dengan sangat jahil, kemudian menatap Rama lalu tersenyum manis dan mengatupkan bibirnya yang sexy itu, sontak Rama ikut tersenyum.
"dia benar benar berani merayuku di depan umum" pikir Rama
Gilang memerhatikan Rama tersenyum dari tadi tapi tidak tau apa yang dia tertawakan.
"apa yang kau tertawakan Rama, apa ada sesuatu yang begitu lucu sehingga membuatmu tertawa seperti itu.
__ADS_1
melihat situasi tapi tidak ada yang lucu di sekitarnya yang ada hanya orang yang makan dan mengobrol, Rama ingin menunjuk ke arah Anggi tapi terhenti karena Anggi langsung Mengobrol ke temannya.
"kau sedang mengerjaiku ternyata, lihat saja nanti setelah kita pulang kerumah. Kau berani merayuku tapi kau tidak ingin status mu di ketahui orang"
"Tunggu siapa lelaki yang ada di depan nya itu, Rama dalam hati tapi sedari tadi dia hanya mengobrol dengan Dara, mungkin itu pacar Dara (dengan kesok tahuan nya)"
Makanan yang di pesan Anggi dan temannya telah siap, sementara mereka makan, ponsel Rama berdering, Panggilan telepon dari Luna.
Rama menghiraukan panggilan tersebut 1 pesan masuk Luna mengirim pesan ingin membicarakan sesuatu kepada Rama.
Pesan yang lainnya masuk untuk bertemu dia di tempat biasa tempat mereka dulu kencan sebagai sepasang kekasih. Dia hanya melihat dan menyimpan handphone nya di saku jaketnya.
Selesai makan Rama keluar bersama temannya, mereka berpisah untuk melakukan aktivitas mereka masing masing, Anggi pun selesai.
Dara mengajak Anggi berjalan jalan ke mall untuk berbelanja, kebiasaan wanita kaya untuk menghamburkan uangnya.
"Satria kami pergi dulu yah" kata Dara
Rama pergi ketempat Dimana Luna sudah menunggunya beberapa menit yang lalu,
Luna sudah merencanakan akal jahatnya dengan menyiapkan beberapa paparazi untuk mengambil foto nya untuk dibagikan ke sosial media, Rama yang hanya datang bertemu dia dengan maksud menjalin hubungan untuk terakhir kalinya tidak tau sama sekali kalau akan ada yang memotretnya.
"ada apa kau memanggilku?"
"apa aku butuh alasan bertemu dengan pacarku"
"berhenti menganggap aku sebagai pacarmu, kita sudah putus saat kau mengatakan pada media bahwa kau tidak memiliki seorang pacar"
"Rama itu hanya settingan, aku terpaksa melakukan itu karena agensi melarangku berpacaran, kalau aku mengatakan aku memilikinya, karir aku akan hancur"
"kau bahkan sangat egois lebih memilih karir mu dibanding aku"
“memeluk Rama”, aku masih mencintai mu dan menganggap kau adalah pacarku
"Luna berhenti, lepaskan aku"
Tangannya masih melingkar dengan meyandarkan kepalanya di dada Rama dengan maksud agar paparazi itu memotret dengan sempurna.
Rama mendorong tubuh Luna untuk menghindarinya.
Tak cukup memeluk tubuh Rama , Luna bahkan berani melangkah untuk mencium bibirnya. Mengecup bibir Rama dengan lembut.
“Apapun akan ku lakukan agar kau tetap disisi ku, bahkan jika kau ingin tidur dengan ku sekalipun” aku tidak ingin karir ku hancur begitu saja. dalam pikirannya.
Sekali lagi mendorong tubuh Luna dengan cepat.
Rama kau ini kenapa, dulu kau bahkan selalu ingin menciumku, sekarang aku memberikannya padamu dengan suka rela,
itu hadiah yang ku berikan untuk mu setelah sekian lama menungguku.
“Perempuan ini sudah tidak waras” gumamnya
"aku tekankan sekali lagi sama kamu, kita sudah putus, tidak ada lagi hubungan diantara kita. Aku sudah lama berhenti mencintaimu. Ingat itu baik baik"
Pernyataan yang tidak semuanya benar, tidak mencintaimu lagi adalah kebohongan dari mulutnya.
Hanya saja Rama tidak ingin ada hubungan lagi dengan Luna, Rama tidak ingin menyakiti perasaan Anggi.
Rama Berbalik untuk segera pulang. Bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Luna Berlari mengejar Rama dan memeluknya dari belakang.
"Tidak bisa kah kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita"
Rama Menyeringai “kau sudah terlambat” mengambil kedua tangan itu dan melepaskan tangan Luna yang melingkar di perut Rama.
"kau telah berubah Rama" Teriaknya.
Rama berjalan terus tanpa berbalik sedikitpun, menganggap hubungan mereka sudah berakhir.
__ADS_1
Bersambung