
Anggi dan Dara keluar dari toilet. Setelah keluar Anggi tidak melihat keberadaan Rama yang berada di ambang pintu menunggu kegiatannya dari dalam toilet
Dari belakang Rama meraih tangan Anggi dengan lembut, Sentak Anggi berbalik cukup kaget.
Saat melihat nya Anggi hanya diam, tidak ingin memulai pembicaraan, untuk memaki nya saja Anggi muak mengingat kembali beberapa menit yang lalu kejadian yang harusnya Rama membelanya tapi malah membentaknya
"kamu tidak apa-apa" tanya Rama
Anggi tidak membuka mulut nya untuk berkata
Yang dia butuhkan hanya permintaan maaf
"Anggi" panggil Rama
Anggi benar-benar malas membalas panggilan Rama. Segera dia pergi dan melepas genggaman Rama
Rama meraih tangan Anggi lagi berharap Anggi bisa berbicara dengannya
"kenapa? " satu pertanyaan dari Anggi
" aku mau bicara sama kamu"
"mau bicara apa, semuanya udah jelas"
"bukan seperti itu"
Anggi berusaha melepas genggaman Rama ingin pergi, tapi Rama menggenggammnya erat
"tidak akan aku lepaskan"
"aku tidak ingin bicara sama kamu" ucap Anggi marah
"ikut aku"
"ngga"
"Dara tinggalkan kami berdua"
Dara hanya mengiyakan ucapan Rama, tapi Anggi menahannya agar tidak pergi meninggalkannya
Rama menatap Dara memohon agar memberikan dia ruang untuk berbicara pada istrinya
"Anggi, aku pergi aja yah, sebaiknya kamu bicara baik baik sama kak Rama, hubungi aku jika sudah selesai"
Dara segera beranjak dari tempat tadi
Kemudian Rama membawa Anggi sambil menggengam tangannya.
"lepasin" kata Anggi sambil berusaha melepas tangannya
"yang sudah menjadi milik aku tidak akan aku lepas" tegas Rama dari setiap penekanan katanya
"milik mu tapi tidak bisa kau miliki" ucap Anggi tertawa sinis
Mereka berhenti tepat di atap Gedung yang cukup sepi bahkan tidak ada seorangpun disana, terdapat Taman kecil dan bangku yang biasa digunakan mahasiswa jika sedang bersantai, entah kenapa Atap ini sepi pengunjung, biasanya Ramai bahkan Anggi malas kesana, karena banyak orang
"duduk" perintah Rama
"ngga usah, cepat bicara" ucap Anggi malas
"duduk kataku" ulang Rama
Anggi menuruti perkataan Rama dengan tatapan malas dan terpaksa, karena sesungguhnya Anggi cukup takut jika menatap mata Rama kalau sudah menaikkan suaranya seperti ini
"maaf" tulus Rama meminta maaf ke Anggi
Rama merasa bersalah setelah membentak Anggi tadi, padahal jelas dia tau Anggi tidak mungkin yang memulai duluan.
Perlahan Rama tau beberapa sifat Anggi yang ditunjukkan kepadanya setelah tinggal bersama
Anggi orang yang keras kepala, saat tersulut emosi dia akan mengatakan apapun sampai orang tersebut menjadi kesal,walaupun terlihat tegar tapi dia orang yang sangat peka, mudah tersentuh dari perkataan orang
__ADS_1
Makanya Rama tidak ingin memperpanjang masalah, selain itu dia tau sifat Luna yang memang cukup kasar apalagi kalau dia sedang kesal, mau dimanapun dia tidak akan peduli
"maaf darimu sudah terlambat"
"aku tau aku salah, makanya aku ingin minta maaf" ucap Rama lembut sambil membujuk Anggi
"iya aku maafin, udah kan"
Rama menjentikkan jarinya ke hidung Anggi pelan
"dasar keras kepala" sambil tersenyum gemas
"aku memang keras kepala, kenapa memangnya" ucap Anggi kesal
"ngga apa-apa, malah aku suka"
"ngga waras"
"semuanya" singkat Rama menggoda Anggi
"apa?"
"semuanya aku suka" sambil menatap Anggi di ujung kaki hingga kepala
"mesum"
" mesumin kamu ngga salahkan" sambil berbisik di telinga Anggi
"ishh, jangan aneh" ngeri Anggi sambil menjauh
"kenapa?, ada yang salah" tanya Rama jail
Anggi menatap tajam Rama, siap untuk berperang, Anggi memukul dada bidang Rama karena kesal dengan sebelah tangannya
"kamu boleh pukul aku sesukamu kalau itu bisa membuat kau puas" ucap Rama pasrah
Anggi menghentikan aktivitasnya tadi merasa bersalah telah menyerang Rama
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Anggi, seakan tidak tega melihat Rama menahan kesakitan
"aku ngga suka melihatmu menangis"
Rama segera menariknya memeluk Anggi, Anggi tidak memberontak karena dia memang membutuhkan sebuah pelukan sekarang
"maafkan aku" kata Rama
"kenapa minta maaf"
"karena aku salah"
"ngga, aku yang berlebihan terlalu berharap padamu"
"wajar saja kalau kamu berharap lebih Anggi, aku suami mu, jika kau punya masalah itu berarti masalah aku juga"
Rama mengusap lembut surai hitam Anggi, Anggi merasa terhanyut dengan tingkah Rama yang berbeda dari sebelumnya.
"bagian mana yang sakit" sambil mengusap usap kepala Anggi
"semuanya" jujur Anggi.
Rasanya Rambut Anggi mau tercabut semua gara gara aksi tarik menarik rambut dengan Luna
" Luna juga pasti kesakitan seperti aku" cemas Anggi mengkhawatirkan Luna lawannya
"tidak usah khawatirkan dia, lagi pula yang peduli sama dia banyak"
"termasuk kamu" spontan Anggi
"kalau aku khawatir dari tadi aku disana, melakukan hal yang sama seperti sekarang"
Rama mendapat cubitan dari Anggi.
__ADS_1
"ishh, yah kesana aja" kesal nya
"aku pergi nih" jail Rama
"ihh, jangan" sambil menarik lengan baju Rama
"ayo turun, aku akan beri tau Luna yang sebenarnya"
"jangan"
"kenapa?"
"aku belum siap mereka semua tau"
" yah sudah aku kenalkan kamu sebagai pacarku saja, bagaimana?"
"tapi kan aku istrimu"
"yah udah sebagai istri aku kalau begitu"
"ehh jangan, apa kata orang"
"yah udah, mau kamu apa? "
Anggi berpikir sejenak
" kalau kamu mengenalkan ku sebagai pacarmu, pasti aku dikira perebut, kamu mau bilang apa"
" yah aku bilang aku udah putus"
"terus kalau mereka bilang kamu putus gara-gara aku menggodamu, kan mereka akan menyalahkan ku, apalagi fansnya Luna" ucap Anggi berpikir keras
"makanya aku ingin mengenalkan mu sebagai istriku, agar mereka tidak menilaimu sembarangan"
"apa salahnya jika mereka tau Anggi, agar mereka tidak berani mendekati mu dan mendekati ku juga"
"terserah kamu sajalah"
"baiklah, akan ku lakukan sesuai mauku"
"awas aja kalau kamu ngomong sembarangan"
"ngga bakalan"
Mereka berdua segera turun, setelah berbaikan.
Rama dan Anggi berjalan menuruni tangga dan menyusuri beberapa lorong ruang kuliah.
Beberapa pasang mata melihat kemesraan mereka berdua. Rama membawa Anggi ketempat dimana sahabatnya biasa nongkrong.
Sebuah Cafe yang berada di antara fakultasnya dan fakultas lain
Tangan Anggi berubah dingin terlalu gugup saat mendekat di tempat itu.
Terlihat Gilang dan Jibran disana,ada Luna beserta beberapa teman yang menemaninya
Melihat Rama dan Anggi berjalan memasuki tempat itu, Luna terlihat kesal melihat kedekatan mereka.
Ingin rasanya dia melepas genggaman itu, tapi dia bisa apa, jika Melihat posisinya dia tidak berhak, walaupun masih berharap.
"hey bro" ucap Gilang
"sayang, kamu duduk disini yah, aku pesan minum buatmu" sambil mengusap rambut Anggi dari belakang lalu meninggalkan Anggi menuju kasir
"ishh apaan sih, panggil Sayang sejak kapan dia manggil begitu" gumam Anggi malu
Jibran hanya memerhatikan tingkah mereka, seolah mencari jawaban dari perilaku Rama.
Emosi Luna naik turun melihat tingkah Rama yang terang terangan bermesraan di depan matanya.
Bersambung...
__ADS_1