
Anggi berada di loteng kamarnya setelah berbincang dengan kakek
Perasaannya bercampur aduk setelah memikirkan persyaratan kakek tadi
"bagaimana caranya aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku"
"aku bahkan belum siap untuk menerima kenyataan ini"
Setelah merenung beberapa saat, ponsel Anggi berdering di atas nakas, mendengar dering ponselnya, menyadarkan Anggi dalam lamunannya, segera meraih ponselnya dan menatap layar kotak itu di genggamannya
"Pria Yang menyebalkan 😈"
Nama kontak yang tertera saat ini di ponselnya
"Hmm, ada apa?"
" apa kakek baik-baik saja"
" iya, kakek baik-baik saja, bukan nya sudah ku bilang percaya padaku"
" baiklah, kalau begitu, jaga kakek dengan baik"
" Rama aku mau ke kampus juga"
"kamu izin saja hari ini, sepertinya dosennya tidak datang hari ini"
"kamu yakin? "
" iya"
"jangan bohong ka.. " belum sampai perkataannya, Rama sudah mematikan sambungan sepihaknya
Anggi bernafas kasar
" sangat menyebalkan, bukannya mengucapkan terima kasih" ucapnya sambil meninju bantal di pangkuannya
...---------------------------------------...
Rama menaruh kembali Ponselnya di saku jaketnya sebelah kanan.
"sebaiknya aku harus memberikan klarifikasi terkait gosip murahan itu"
Rama berjalan menuju parkiran, seorang Wanita cantik menghadangnya, Rama hanya terus berjalan ke mobilnya.
"minggir"
"Rama" panggil wanita itu
Tanpa menghiraukan teriakannya, tak segan wanita itu menarik tangan Rama yang sudah hampir menggapai gagang pintu mobilnya.
"apa?"
"tidak bisakah kau mendengarkan penjelasanku dulu"
"tidak" dengan cuek dan memalingkan wajahnya
"aku minta maaf karena telah menyeretmu masuk kedalam situasi ini"
"baguslah kalau kamu sadar"
"tapi bisakah membantuku sekali ini saja, kumohon"
"kau mau aku membantumu apa?"
wanita itu menatap beberapa orang di sekitar area parkir. Rama menyadari itu, banyak pasang mata yang menyorotnya saat ini, termasuk mahasiswa baru yang lewat
"masuk" suruh Rama
Rama mengendarai mobilnya meninggalkan kampus.
Ditengah perjalanan
"katakan" ketus Rama
"bantu aku sekali ini saja Rama, setelah ini aku tidak akan mengganggu mu lagi" dengan wajah memohon
"kenapa tidak meminta bantuan ke orang lain saja"
"hanya kamu yang bisa membantuku"
"cepat katakan, aku tidak punya waktu"
" bisakah kamu mengatakan ke media kalau kita memang sedang menjalin hubungan, aku tau ini tidak mudah bagimu, karena sebelumnya aku tidak mengakuimu saat itu"
" Rama, kau tau sebenarnya dulu aku dalam situasi yang sangat sulit, saat orang tau aku berpacaran, mereka membullyku tidak ingin aku berpacaran, bahkan saat itu aku tidak rela mengatakan nya kalau aku tidak punya pacar, karena aku sangat mencintaimu. Aku mengkhawatirkan perasaanmu"
"kumohon Rama, bisa kah kamu mengerti perasaanku saat itu. Ini semua bukan kemauan ku"
__ADS_1
"lalu kenapa meminta bantuanku sekarang, kalau mereka melarangmu berpacaran"
"jujur saja, karir ku sedang redup Rama, agensi memaksaku membuat scandal berpacaran, agar nama ku bisa populer lagi"
Rama menghentikan mobilnya di pinggir jalan
Cukup muak mendengar semua penjelasan sedari tadi, Kemudian berbalik menghadap Luna
"semua nya sudah terlambat Luna" selembut mungkin agar wanita di hadapannya tidak bertambah sedih
"tidak ada kata terlambat Rama, aku masih mencintaimu, dan aku yakin kamu pasti masih mencintaiku"
"dan kita bisa bersama lagi seperti dulu lagi"
"aku tidak bisa menerimamu lagi Luna"
"tapi kamu tenang saja aku akan membantumu"
Lanjut Rama terjeda
"benarkah"
"cukup mengatakan iya saja kan"
" terima kasih Rama, aku tau kamu pasti bisa membantuku"
"bukan berarti kita punya hubungan seperti yang diberitakan, ini hanya pura-pura di hadapan media, ingat itu baik-baik"
" aku mengerti Rama"
" ini yang terakhir aku membantumu"
Luna mengangguk paham
"aku akan mengantar mu sampai kerumahmu"
"aku yakin cepat atau lambat kamu jatuh ke tanganku lagi Rama, ini masih permulaan"
Rama pulang ke rumahnya, setelah mengantar Luna
Rama mengedarkan pandangannya ke pelosok rumah, tapi tidak melihat penghuni rumah seorangpun
"kemana mereka"
Rama masuk ke kamarnya kosong, tidak ada Anggi di kamar, di dapur pun Bibi juga tidak ada, Rama menduga pasti di kamar Kakek, dan dugaannya sekarang salah. Tidak ada orang disana
Kakek....
Anggi...
Bi...
"Apa mereka keluar yah" pikirnya
Rama memasukkan tangannya ke saku jaketnya mengambil ponselnya ingin menelpon Anggi
Tuttt Tuttt
Sekali dua kali, panggilannya tidak terhubung
"Kenapa dia tidak mengangkat telponku"
Rama masuk kekamarnya kemudian menelpon Anggi kembali
Suara Ponsel yang sedikit asing terdengar di telinganya.
Rama mengerutkan kedua alisnya. Sedikit heran
"kalau ponselnya disini, lalu kemana dia pergi"
Suara tawa membuatnya penasaran dari mana asal tawa itu, Rama membuka pintu loteng kamarnya.
Dari jauh dia melihat sosok yang dicarinya
Kakek, Anggi dan Bi ija sedang berada di taman belakang rumahnya, sedang memainkan sesuatu yang membuatnya tertawa terbahak.
" baru kali ini aku melihat kakek tertawa seperti anak kecil "
Rama menyusul mereka penasaran.
" kakek" panggil Rama
Kakek hanya menoleh lalu berfokus pada layar ponselnya lagi
Melihat Anggi juga sibuk dan hanya bibi yang menonton kegiatan mereka
" Bibi " Panggil Rama beralih ke Bibi
__ADS_1
" iya Tuan"
" apa yang mereka lakukan "
" bibi juga tidak mengerti tuan, bibi hanya menonton saja"
"kalau tidak mengerti kenapa di tonton bi' "
" seru aja tuan melihatnya "
Rama memperhatikan layar ponsel mereka, ternyata mereka sedang bermain game.
" kapan mereka disini bi? " tanya Rama
" sejak tadi sore tuan"
"lalu belum selesai sampai sekarang"
Rama berinisiatif sendiri, merebut ponsel yang di gunakan Anggi
"Rama" teriak Anggi
"apa? "
Anggi mengadahkan tangannya meminta kembali ponsel yang di rebutnya tadi dengan tiba-tiba.
" apa "
" ponselnya, nanggung nih entar kalah sama kakek"
" biarian, kamu bukannya nyambut aku pulang, malah sibuk bermain game di sini"
" yah kan aku kan ada dirumah ngga kemana-mana juga"
" tetap aja, aku ngga liat kamu saat pulang"
"yah udah, mau kamu apa? " dengan tenang bertanya ke Rama
" aku lapar, mau makan"
"bibi kan ada, bisa siapin makan"
"memangnya istri aku itu bibi, yang siapin aku makan, temanin aku makan juga"
" yah udah sekalian aja, aku tidur dekat bibi juga"
"kok kamu ngomongnya gitu sih"
" yah kan kamu nya gak mau siapin aku makan"
"yah udah aku temanin bibi dulu siapin makan buat Tuan Rama" mengejek
" kakek main game nya udah dulu yah. Ponsel kakek ada sama Rama"
"ponsel nya aku simpan, ngga boleh main game lagi"
Mendengar pernyataan Rama, Anggi sontak berbalik
" tinggal beli lagi, gampang kan"
"awas yah kalau kamu beli lagi, tau sendiri akibatnya"
Anggi hanya berdecak sebal meninggalkan Rama yang masih stay di tempat nya
"Rama, bersikap lembut lah sedikit sama istrimu"
"kakek ngga liat kelakuan dia tadi"
"kalau kamu menegur Anggi dengan benar, dia juga tidak akan seperti itu tadi"
"karena kakek terlalu memanjakan nya"
"kakek juga, kenapa masih bermain game, bukannya sudah janji tidak akan bermain lagi, apalagi kakek mainnya tidak kenal waktu"
"kakek hanya bosan Rama, untung ada Anggi yang temanin Kakek, harusnya bukan Anggi yang kamu marahin"
" Rama minta maaf Kek"
"minta maaf sama Anggi "
" iya kek"
"ingat minta maaf yang benar"
"iya kakek"
"ayo masuk kek, disini anginnya cukup kencang, nanti kakek masuk angin"
__ADS_1
Bersambung...