Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Pengakuan


__ADS_3

Anggi hanya terdiam di tempat duduknya, menunggu kedatangan Rama, sepergian tadi Gilang hanya menyenggol Jibran yang berada di dekatnya


Mereka hanya menatap satu sama lain, dengan terpaksa Jibran, mengutarakan perkataannya


"Anggi, bagaimana keadaanmu" tanya jibran


Anggi mendongkak kepalanya mendengar seseorang bertanya padanya


" hah, ohh aku baik-baik saja"


"baguslah"


" sepertinya memang baik-baik saja, kau sangat jago berkelahi tadi" celetuk Gilang menambahkan


Anggi hanya malu mengingat kembali kejadian itu, bahkan ada Luna yang berada disana


Rama kembali ke tempat sahabatnya itu melihat mereka sedang mengobrol bersama


"apa yang kalian bicarakan ke Istriku"


Gilang tersedak dari minumnya saat mendengar Rama memanggil Anggi sebagai istrinya


"Rama kamu ini jangan bercanda" Gilang tertawa setelah mendengar ucapan Rama


"aku serius" Rama memasang wajah seriusnya


"Rama Kamu serius" tanya Jibran disebrang duduknya


"hmmm"


"kenapa tidak memberi tahu kami"


"akan ku jelaskan nanti, yang jelas Anggi itu istriku"


"Anggi, dia tidak sedang bercanda kan" panggil Gilang ke Anggi yang belum percaya


"apa yang dia katakan benar" jawab Anggi


Mendengar ucapan Rama memanggil Anggi istrinya, Luna sangat kaget ditambah temannya yang berusaha menormalkan pendengerannya, takut salah dengar


Tempat mereka memang cukup jauh dari Luna, tapi mereka masih mendengar ucapan Rama samar samar


Luna segera berdiri menghampiri meja Rama dan Anggi beserta Gilang dan Jibran


"apa benar yang aku dengar barusan"


Anggi berbalik mendengar pertanyaan Luna lalu membuang nafasnya kasar, berharap orang itu tidak mengganggunya lagi


"iya yang kamu dengar barusan memang benar"


"tapi Rama kamu kan"


"bukannya kita sudah lama putus, soal berita itu aku hanya membantu mu kamu sendiri yang memintanya padaku, jadi jangan berharap banyak" sambil berdiri dari duduknya


"kamu tidak keberatan soal permintaanku, aku pikir kamu masih punya perasaan padaku"


"sudah tidak ada tempat lagi untuk orang yang ingin menjauh dariku"


"Rama, kamu sudah janji padaku untuk tidak meninggalkanku"


"kamu sendiri yang memintaku meninggalkanmu"


"lagi pula selama ini kita hanya akting, bukannya itu yang kamu inginkan, karir mu sudah kembali, jadi tidak usah berharap dariku lagi"


Semua yang mendengar kaget, ternyata berita itu hanya bohong


Anggi menarik lengan baju Rama agar diam dan tidak melanjutkan perkataannya, karena sudah banyak orang yang mendengar


"kamu harus tau semuanya, agar kamu tidak salah paham lagi sama aku"


"aku memang salah, karena tidak peduli dengan perasaanmu, makanya aku menutupi semuanya, demi membantu dia, tapi nyatanya dia sudah keterlaluan"


"tapi kamu tidak perlu membesar besarkan masalah ini, kamu sendiri yang ingin membantunya" bisik Anggi


"ngga apa-apa biar dia tau dimana posisinya"

__ADS_1


"sebagai seorang publik figur harusnya memberikan contoh yang baik untuk orang"


"dia juga manusia biasa Rama, bukan berarti kehidupannya berjalan seperti kemauannya"


"hahaha, dia hanya berpura-pura, jadi tidak usah mengurusnya"


Luna meninggalkan tempat itu berlari menuju mobilnya karena kesal sekaligus malu


"kamu sangat keterlaluan" ucap Anggi sedikit marah karena perbuatan Rama yang mempermalukan Luna


"yah udah ngga usah kamu pikirin masalah itu, hitung hitung pelajaran buat dia agar tau, bukan berarti dia seorang artis, bisa berbuat seenaknya saja"


"tapi kamu tidak memikirkan perasaannya"


"aku minta maaf"


"jangan minta maaf padaku, tapi sama orang yang tadi"


"kamu aja kesal sama orangnya, malah sok memikirkan perasaanya"


"aku tau bagaimana rasanya karena aku seorang wanita"


"iya iya nanti aku minta maaf yah, jangan marah sama aku dong"


"hmm hmmm" dehaman Gilang yang sudah beberapa kali mengulangnya


"seperti kita cuma patung disini, ada tapi hanya pajangan" ungkapan gilang


"bukan patung, tapi seperti debu yang tak terlihat kasak mata" ucap Jibran memperbaiki perkataan Gilang


"rasanya dunia ini udah jadi milik mereka berdua" kata Gilang menyinggung Rama dan Anggi


"kalian itu kenapa sih, ngga mau liat orang senang aja" ucap Rama


"sayang, aku ada kuliah jam 2 mungkin selesai jam 4, kamu mau nungguin atau aku antar kamu pulang dulu"


"aku pulang bareng Dara aja"


"ngga, aku antar kamu pulang" tegas Rama


Anggi tersenyum senang mendengar dukungan dari Gilang


Rama hanya menatap Gilang malas, yang gilang katakan ada benarnya juga


"perut kamu udah ngga sakit kan" bisik Rama takut Gilang dan Jibran mendengarnya


Mereka akan salah paham jika dengar yang barusan dia katakan bisa bisa Otak mereka berkeliaran diatas sana


"udah agak mendingan, berkat kamu" sambil tersenyum malu


"yah udah tapi langsung pulang"


"iya"


Anggi segera meraih ponselnya di dalam tas, ingin menelpon Dara untuk menjemputnya


Tapi sebelum menekan nomor telepon Dara, panggilan telepon dari Raka muncul di layar ponselnya


Segera Anggi mengangkat telpon barusan untung saja Rama sedang membayar tagihan minuman mereka


"halo"


"sedang sibuk"


"ngga"


"boleh ketemu"


"dimana?"


"tempat biasa"


"baiklah, tapi aku bareng Dara, ngga apa apa kan?"


"iya ngga apa-apa, cuman mau ngobrol aja"

__ADS_1


"yah udah"


Anggi segera menelpon Dara


"ada apa" ucap Dara to the point


"jemput aku, di cafe seberang fakultas"


"aku sedang bersama seseorang" bohong Dara


"siapa? " tanya Anggi


" biasa" ucap Dara terbata bata


"ngga usah bohong, kamu sengaja kan"


"yah udah tunggu"


"oke"


Dara langsung menuju parkiran menjemput Anggi lalu mengendarai mobilnya ke tempat yang di beri tahu Anggi tadi


"aku pergi yah, Dara udah kesini jemput aku"


"aku antar ke depan"


Dara udah datang tepat di depan Cafe yang di maksud, mobil sport berwarna merah sudah siap di naiki jemputannya


Anggi melambaikan tangannya yang di balas dengan Dara yang sudah menunggunya diluar mobil dengan kacamata hitam.


Anggi berlari meninggalkan Rama


"untung saja ngga panas" kata Dara


"gaya banget kamu"


"ngga usah banyak protes, banyak orang yang liat aku, semoga ada yang ngelirik aku"


"dasar jomblo"


"iya iya, aku memang jomblo, hati hati aja suami kamu aku rebut" membisik ketelinga Anggi sambil tersenyum meledek


"rebut aja, kalau dia mau sama kamu" Anggi dengan gaya cueknya


Anggi langsung naik ke atas mobil Dara tanpa di persilahkan


"ehh aku ini cantik yah" teriak Dara


Rama menghampiri Anggi diatas mobilnya Dara


Dengan atapnya yang terbuka


"ngga mau pamit dulu" ucap Rama ke Anggi


"kan aku udah bilang tadi"


Dara menggelengkan kepalanya tak percaya dengan kepolosan sahabatnya ini lalu menepuk dahinya


Rama hanya tersenyum mendengar perkataan Anggi


"aku ngga ngintip kok" senyum Dara menutup mata dibalik kacamatanya


Anggi bingung dengan tingkah Dara di samping bangkunya, Anggi mengerutkan keningnya tak mengerti maksud Dara itu apa


Rama langsung membalikkan wajah Anggi ke hadapannya, lalu menyambarnya dengan ciuman di kening Anggi secepat kilat namun masih bisa di rasakan Anggi


"kamu boleh Pergi sekarang" ucap Rama


Anggi hanya diam membeku tak bereaksi sedikit pun


Aba aba dari Rama membuat Dara sudah mengerti, bahwa pamitan mereka sudah selesai


Dara tersenyum puas melihat Anggi tidak ada pergerakan sama sekali


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2