
Sepulang dari rumah sakit, Anggi hanya diam, dan kalimat terakhir yang dia ucapkan mengenai mau mati saja, membuat Dara selalu was-was dan takut jika Anggi benar-benar nekat melakukannya.
Kemanapun Anggi pergi Dara pasti mengikutinya, termasuk sekarang Anggi ingin ke kamar mandi, namun Dara masih saja mengekorinya
Sentak Anggi berbalik menghalangi Langkah Dara yang hampir saja menabraknya
Anggi menaikkan sebelah alisnya bingung, yang dibalas oleh Dara dengan perlakuan yang sama
"Dara, kamu bisa kan ngga ikutin aku terus" ucap Anggi kesal dengan Dara
"kalau aku bisa menjamin kau tidak nekat ingin bunuh diri, aku tidak akan mengikutimu"
"akan ku usahakan"
Dara mengusap wajahnya gusar, dia sangat frustasi tidak bisa membayangkan jika sahabatnya itu nekat.
"aku ikut ke kamar mandi kalau begitu"
"mau apa?"
"mengawasimu" jujur Dara
"aku cuman mau buang air kecil" bohong Anggi
"keluar sana" usir Anggi
"ya udah, kalau mau mati bilang yah"
Anggi memutar matanya malas, mendengar ucapan Dara.
Bohong jika Anggi mau buang air kecil nyatanya dia hanya ingin membuang airmatanya yang sedari tadi dia tahan.
Anggi segera menutup pintu kamar mandi lalu meluapkan semua isi hatinya di bawah guyuran shower.
"sekejam itu kah takdir yang kau berikan tuhan"
"kenapa dia tega melakukan itu padaku, apa memang dia sudah tidak cinta lagi padaku, aku kurang apa untuk mu" seraya berpikir bertanya- tanya pada dirinya
Sentak Anggi tertawa miring, mengingat selama ini dia memang sangat kurang, bahkan tidak mampu memberikan Lelaki itu seorang anak, pantas saja dia memilih wanita lain yang bisa memberikan dia seorang anak, karena aku tidak bisa memberikannya.
Anggi tertawa renyah, meratapi dirinya yang sudah hamil tapi suaminya malah tidak tau. Elusan di perut datarnya membuatnya bergetar kembali lalu merubah raut wajah untuk tidak menangisi lelaki itu.
"jika dia meninggalkan kita, apa kau mau menemaniku nanti sampai kau besar, kita akan hidup bersama dan berbagi kebahagiaan sekalipun tanpa sosok Ayah" tegar Anggi menatap pilu perutnya yang masih datar kemudian mengakhiri tangisnya
Seorang dari luar sudah panik dan mengedor-gedor pintu kamar mandi.
"Anggi, kamu kok lama banget sih, Anggi" teriak Dara
__ADS_1
"kamu itu kenapa sih Ra, aku cuman sekalian mandi" ujar Anggi saat membuka pintu kamar mandinya
"aku dengar kamu tertawa, kamu udah gila yah"
"kamu bisa tenang sedikit ngga, emang kenapa kalau aku ketawa" ucap Anggi meninggalkan Dara didepan pintu kamar mandi
"baru kali ini aku liat orang sedih ketawa" bingung Dara
"Gi kamu yakin ngga apa-apa"
"kamu masih bertanya begitu, apa keadaanku bisa dianggap baik-baik saja? " tanya Anggi
"ngga sih, tapi kok kamu biasa aja yah"
"mending kamu pulang, entar kamu di cariin" ucap Anggi
...---------...
Disisi lain Rama tengah sibuk mengusap puncak kepala wanita itu, berharap dia bisa tertidur kali ini
Selama beberapa hari terakhir ini wanita itu kurang tidur, entah apa yang membuatnya seperti itu mungkin karena kegugupannya yang sudah ingin melahirkan, makanya Rama dengan senang hati menemaninya sampai tertidur dan itu cukup berpengaruh baginya, kedatangan Rama membuahkan hasil
Kata orang jika melahirkan itu akan mempertaruhkan antara hidup dan mati, dan itu sukses membuatnya tidak tenang.
"kenapa belum tidur juga" ucap Rama
"memangnya kamu mikirin apa sih"
"aku takut"
"apa yang kamu takutkan"
"apa aku bisa bertahan jika melahirkan nanti" ucap Wanita itu seraya memandang lekat kedua mata Rama
"ada aku yang selalu menemanimu, aku yakin kamu pasti bisa, bukannya kamu kuat" kata Rama memberi semangat
"kamu ngga akan meninggalkan ku kan"
"tentu saja, bukannya kamu telah mengandung anakku, itu ada balasan yang setimpal karena kau sudah menyempurnakan hidupku yang selama ini belum lengkap"
Wanita itu tersenyum malu bahkan pipinya sudah memerah akibat ucapan Rama
"Viona" panggil Rama ke wanita yang tengah mengandung anaknya
"Iya sayang" balas Viona
"aku cinta sama kamu"
__ADS_1
"aku juga cinta sama kamu"
Percakapan kedua insan itu sentak membuat Dion yang sedari tadi mendengar pembicaraan menjijikan mereka di balik pintu ruangan UGD
"karena mu aku mendapat makian hari ini, sedangkan kamu sibuk bermesraan berdua disana" batin Dion
Dion segera pulang ke rumahnya, kehadirannya disini tidak diperlukan.
"buat apa dia menelpon ku tapi ujung ujungnya aku hanya jadi orang ketiga diantara kalian"
"tau begini aku tidak mau membantumu" kesal Dion
Dengan kesal Dion berjalan menuju mobilnya lalu melenggang pergi
VIONA POV
Berbicara tentang Viona, dia seorang gadis yang pernah di jodohkan Yudha dengannya, namun Yudha sempat menolak mentah-mentah gadis itu karena menyukai seseorang gadis laimnya
kabar itu terendus ditelinganya, bahwa wanita yang di sukai Yudha bernama Anggi, dia mengetahui hal itu karena mendapati Yudha sedang duduk berdua di kafe bersamanya ditambah pengakuannya dengan mama Yudha bahwa Yudha menyukai Anggi tapi Mamanya tidak merestuinya karena Anggi sudah menikah
Rasa cemburu dia rasakan saat itu juga. namun dia tetap diam dan berusaha meyakinkan Yudha bahwa dia pantas di jodohkan dengannya.
setelah Beberapa tahun mendekati Yudha, akhirnya Seorang dengan kepribadian dingin itu bisa meleleh juga, bahkan dia sempat tunangan waktu itu.
Namun satu sikap yang Yudha tidak suka darinya adalah kebiasaan Viona yang sering pergi ke klub malam bersama temannya, dan Yudha tidak suka walaupun hanya bersenang-senang, Viona hanya melepas kepenatan karena Yudha yang selalu cuek dengannya jika sudah sibuk dalam urusan kerja.
Setahun yang lalu, Yudha tau malam itu Viona datang kesana bersama temannya akhirnya dengan kesal Yudha datang untuk menjemput tunangannya disana.
Di tengah keramaian orang yang sedang menari dan dentuman musik yang menggetarkan jantungnya, bau alkohol sudah menyeruak di indra penciumannya. Yudha mengedarkan pandangannya berusaha mencari sosok wanita yang membuatnya kesal malam ini.
Dengan mata elang yang sangat tajam tentu saja Yudha bisa menemukan wanitanya itu. Tapi keningnya memgeryit seketika saat melihat orang yang dicarinya berpelukan dengan lelaki lain didepan ruangan VIP yang membuatnya sangat lesal lelaki itu tak lain Suami dari Sahabatnya.
Sorot matanya memancarkan aura kebencian di saat itu juga, karena tidak kuat menahan kekesalannya. Akhirnya Yudha pergi meninggalkan mereka, Lalu mengirimkan sebuah pesan ke Viona saat sudah sampai di dalam mobilnya.
"Pernikahan kita batal" isi pesan Yudha
"Hah" sentak Viona Melongo melihat notifikasi di layar ponselnya setelah masuk kembali ke ruangan yang sudah dia pesan bersama temannya.
Segera Viona menekan tombol untuk menghubungi Yudha ingin meminta penjelasan dari pesan yang masuk barusan.
"apa maksudnya dia membatalkan penikahan yang tinggal beberapa bulan lagi" batin Viona
Namun nomor yang dia hubungi itu sudah tidak aktif, karena merasa heran, akhirnya Viona keluar dari klub itu meninggalkan teman-temannya lalu pergi mencati Yudha di apartemennya.
Beberapa ketukan darinya tidak terlihat ada respon apapun, sang empu yakin pemiliknya mungkin tidak berada didalam, Viona mencari ditempat yang sering Yudha kunjungi, dan tepat sasaran Yudha berada di kantornya. Orang yang gila kerja tentu saja berada di kantor.
Bersambung...
__ADS_1