
"aku ingin pergi, meninggalkan kota ini sejauh mungkin"
lirih Anggi
"kamu yakin?" tanya Dion meyakinkan Anggi
"terlalu banyak kenangan pahit di sini, aku ingin melupakan semuanya dan memulai awal yang baru"
"tapi kamu mau kemana"
"kau tidak usah tau, lebih baik kau urus aku agar bisa keluar dari rumah sakit ini"
"Anggi bukannya aku tidak mau, tapi kamu masih perlu perawatan, kamu belum boleh banyak bergerak"
"itu urusan aku" ketus Anggi
"kalau kamu tidak mau, biar aku yang pulang sendiri"
"baiklah, tapi dengan satu syarat, aku ikut denganmu, setidaknya ada yang bisa merawatmu untuk saat ini" usul Dion begitu khawatir
"buat apa kamu ikut, yang ada aku tambah pusing dan mengingat semuanya, jadi ku mohon biar kan aku sendiri"
"aku tidak akan memaksamu, tapi satu hal yang perlu kamu tau, kandungan kamu tidak sekuat dirimu"
Anggi sedikit menimbang usul Dion, namun hanya saja jika Dion ikut dengannya, apa semuanya akan baik-baik saja
"bagaimana?"
"baik lah, tapi kau harus tau batasanmu, cukup merawatku saja, setelah itu kau boleh pergi"
bisa di pastikan Dion sudah bernafas lega, bukannya dia ingin mencampuri urusan Anggi, hanya saja dia terlalu khawatir, sebagai keluarga sekaligus Dokter, Dion cukup tau menangani Anggi yang sangat keras kepala.
"satu lagi, jangan beri tahu siapa pun dimana aku pergi"
"saat ini aku tidak bisa percaya pada orang lain, bahkan isi hatiku saja aku enggan mempercayainya"
"siapa pun termasuk keluarga dan sahabatmu" Tanya Dion lagi
"hmm"
"sudahlah jangan banyak tanya" ucap Anggi di akhir kalimatnya
Dion mengangguk tak percaya, apa Anggi akan menutup dirinya, sesakit itu kah, namun Dion membenturkan Anggi, siapa yang tidak sakit jika seperti itu.
"aku bukan tipe orang yang suka meninggalkan, tapi kalau sudah tidak di hargai, yah aku pergi"
Mungkin ini akibat jika terlalu percaya, hingga lupa bahwa manusia bisa saja berubah kapan saja
...----------------...
semalaman Anggi sudah merencanakan semuanya bersama Dion, menyembunyikannya pada sahabatnya sendiri yang tiap hari datang menjenguknya.
besoknya Anggi sudah menyuruh Dion menyiapkan barang-barangnya di rumahnya, dia tidak ingin menginjak rumah itu lagi, terlalu banyak kenangan di sana, Anggi tidak ingin mengenangnya lagi, biarkan dia menguburnya bersama angin yang membawanya ke tempat tujuan yang akan membuatnya melalui hari-harinya dari awal, menata kembali hati yang patah menjadi utuh kembali dengan kehadiran anaknya kelak
Dion sudah mengatur semuanya mulai dari tiket, mobil dan rumah yang akan mereka tuju, namun semuanya sesuai permintaan Anggi yang ingin ke Negara itu.
__ADS_1
Bukan Ke Paris Negara yang Orang tua angkatnya sekarang tinggal, Namun dia Ke Negeri Ginseng Korea Selatan yang tidak ada seorang pun mengenalinya di sana.
keterampilan bahasa yang Anggi selama ini pendam akhirnya bisa dia salurkan dengan berkomunikasi langsung dengan penduduk di sana.
kekagumannya dengan negara di sana membuatnya yakin akan tinggal dan menetap bersama anaknya nanti, semoga saja tak membuatnya merasa bosan.
"kamu yakin mau ke sana" Tanya Dion sekali lagi saat sudah hampir sampai di bandara
bukannya dia tidak yakin akan tinggal di sana hanya saja tidak ada keluarga satupun yang mereka tau tinggal di Negara itu,sepertinya tidak ada yang akan mengira jika mereka bersembunyi di sana.
"keputusanku sudah bulat, kalau kamu tidak mau, tidak usah ikut denganku lebih bagus lagi"
"tabungan ku sudah cukup banyak untuk menghidupiku, aku akan cari kerjaan disana, lagi pula aku sudah lulus kuliah"
"aku tidak akan mengijinkan mu kerja, cukup fokus mengurus anakmu nanti, soal biaya aku tidak usah khawatir"
"sudah ku bilang jangan mencampuri urusanku, rawat aku saja sampai sembuh, lalu kau pergi dari hidupku"
"Anggi, kenapa disaat seperti kamu begitu keras kepala"
"bawel"
disisi lain seorang pria sedang ingin menjenguk Anggi dirumah sakit, sudah seharian ini dia tidak mengecek keadaan Anggi karena kesibukannya di kantor
"Anggi" panggil Yudha membuka pintu ruang inapnya
namun nihil tidak ada sangat empu di ranjangnya, Yudha menemukan secarik kertas di atas meja
"maafkan aku karena pergi tanpa pamit, aku ingin sendiri memulainya dari awal, tunggu aku sampai semuanya membaik, sampai jumpa lagi" isi kertas yang ditulis Anggi pagi tadi.
kini dia merasakan rasa sakit saat di tinggal seorang yang dia sukai, bahkan aku belum sempat meminta maaf dan menyatakan perasaanku dengan baik padamu
Yudha meraih ponselnya di saku jas Abu-Abunya. mencari nomor Telpon Anggi, namun Ponselnya sudah tidak aktif.
"kenapa tidak mengajak ku pergi bersama mu" batin Yudha
perasaan tidak tenang sudah menjalar di tubuhnya, Yudha menelpon semua orang suruhannya untuk melacak keberadaan Anggi.
diremas nya kertas yang di pegangnya menjadi tak berbentuk sekarang kemudian melemparnya asal.
"kemana kamu pergi"
Pikirannya tertuju pada seseorang yang selalu bersama Anggi dirumah sakit ini, Dia pasti tau
"Dion" gumamnya
dia segera ke ruangannya namun kosong, Yudha beralih ke meja resepsionis
"kemana Dokter Dion" tanya Yudha
"Maaf Pak, tapi Dokter Dion sudah tidak masuk dari tadi pagi"
"kemarin dia sudah mengundurkan diri dari rumah sakit ini"
"apa kalian tau alasannya"
__ADS_1
"kami juga tidak tau pasti, tapi kami pernah dengar jika dia sudah ingin berhenti dari rumah sakit ini"
"baiklah, Terima kasih"
" Dara, mungkin dia tau Anggi kemana"
"Halo" ucapnya diseberang telpon yang sudah tersambung
"kenapa Yud"
"Anggi sama kamu ngga"
"Ngga, bukannya dia dirumah sakit"
"dia tidak ada"
"tadi pagi aku sempat kesana, dia masih ada kok"
"kenapa kamu tinggal"
"dia meminta tolong padaku untuk di belikan sesuatu, sekarang aku di jalan aku masih terjebak macet"
"dia sengaja Dara"
"Maksud mu apa"
"Anggi pergi"
"jangan bercanda deh, jelas-jelas dia baik-baik aja tadi pagi, ngga mungkin juga dia pergi, dia belum bisa keluar dari rumah sakit"
"bisa aja kan dengan bantuan Dion, Dion juga tidak ada dirumah sakit"
"Hah, ngga mungkin, Anggi itu marah sama Dion" kaget Dara
"lalu Anggi kemana, aku nemu kertas dimeja, isinya dia pergi ingin sendiri" ucapnya frustasi
"yah udah, tunggu kau disana yah, kita cari sama-sama"
"hmmm"
panggilan itu terputus lalu tersambung ke panggilan yang lain
"bagaimana"
"tidak ada tanda-tanda satu pun"
"akhh, Cari yang benar, aku membayar mu mahal untuk mendapatkan hasil" teriaknya frustasi
Yudha sudah tidak tau lagi harus mencari Anggi kemana, kepalanya sudah pusing kemana Anggi pergi, dia sudah menelpon semua orang, termasuk Kakek dan Anggun, namun mereka juga tidak tau.
"kemana kamu pergi, apa kau tidak percaya padaku juga" batin Yudha menunduk lesu
"jika ini pilihan Anggi, biarkan dia, Anggi butuh sendiri dia ingin melupakan kenangan pahit yang selama ini di alaminya, yakinlah dia pasti akan pulang menemui kita lagi, kita doakan saja agar dia selalu bahagia dimana pun dia berada" ucap Dara yang baru datang melihat Yudha yang sudah berantakan mencari Anggi.
bersambung.
__ADS_1