
Rama dan teman-temannya telah sampai ke lokasi yang di kirim Anggi.
"apa benar ini alamatnya" tanya Dara
"dari yang dikirim Anggi sih udah benar"
Mereka heran, bagaimana bisa seseorang diculik tetapi di tempat yang seperti istana, masuk ke rumah itu saja dengan pengawalan yang ketat.
Dara menelpon Nomor yang di pakai Anggi barusan bahwa mereka sudah berada sudah sampai di tempat yang di kirimkan.
Anggun segera menyuruh pelayan untuk membuka gerbang agar mereka bisa masuk
"Anggun, apa boleh aku meminta tolong"
"ada apa, bilang saja"
"mau kah kamu merahasiakan fakta bahwa kita ini sebenarnya kembar"
"tapi Anggi, bagaiamana kalau ada orang yang tau"
"kumohon, aku akan memberi tahu mereka jika waktunya tepat"
"untuk saat ini, aku tidak ingin mereka kaget jika aku punya kembaran"
"baiklah, jika itu mau mu, kamu pasti punya alasan sendiri masih ingin merahasiakan kebenaran ini"
"terima kasih, aku akan mengabarimu nanti"
"keluarlah, sambut suamimu dan teman-temanmu, aku akan menunggu disini"
"lalu bagaimana dengan kakek"
"biar aku yang jelaskan, tapi kamu harus janji selalu mengunjungi kami jika kau ada waktu"
"akan aku usahakan"
"kakek pasti akan sangat senang, jika kamu sering mengunjunginya"
"baiklah, aku akan pergi"
Anggi berada di ruang tamu yang disana masih ada Kakek menunggunya.
"Kakek, aku pulang dulu yah"
"kenapa tidak tinggal disini saja nak" kata kakek
"maaf kek, suami ku pasti tidak mengijinkan ku"
"apa suamimu sudah datang"
"sudah, ada didepan"
"suruh dia masuk, aku ingin melihatnya"
"baik kek"
Rama masuk bersama yang lainnya, yang disambut oleh Anggi.
Rama segera memeluk Anggi erat
"kamu baik-baik saja"
"hmm" Anggi mengangguk
"ini dimana" tanya Rama
"Rumah Kakek ku" ucap Anggi
Rama melihat sosok pria yang menculik Anggi, tidak tanggung-tanggung Rama langsung melayangkan tinjunya ke pipi kiri, sudut bibirnya langsung memerah akibat pukulan keras yang di layangkan Rama
"Rama" teriak Anggi
__ADS_1
"tidak masalah, aku pantas mendapatkannya, lagi pula ini memang salahku"
"kau memang pantas mendapatkannya" ucap Rama emosi
"Rama, semuanya hanya salah paham, lagi pula aku baik-baik saja, dia tidak menyakitiku" ucap Anggi meredamkan emosi Rama
"kamu yakin"
"iya"
Sejak tadi kakek hanya memerhatikan mereka, tanpa melerai dan menegurnya, sekarang kakek yakin suaminya bisa menjaga Anggi dengan baik, pikir Kakek sedari tadi.
"Jadi ini suami mu Anggi" kata Kakek
"iya kek"
"jaga Anggi baik-baik, kakek yakin kamu bisa menjaganya"
"akan aku pastikan Anggi akan selalu baik baik saja kek"
"baguslah, oh iya Anggun kemana" kata kakek
"Kek kita pamit dulu yah, aku ingin istirahat" ucap Anggi tergesa gesa takut Rama akan bertanya tanya
"baik lah, jangan lupa selalu mampir kemari"
"iya kek"
Mereka pulang ke rumahnya masing-masing
Saat Rama dan Anggi sampai rumah, Rama tidak henti hentinya menanyakan keadaan Anggi.
"sayang, kamu baik baik saja kan"
"aku baik-baik saja"
"apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu kepadaku"
" hanya sebuah kesalahan pahaman"
"salah paham seperti apa"
Apa aku harus memberi tahu Rama tentang semuanya, tapi aku juga belum yakin tentang kebenaran itu, soal orangtuaku, kalau Rama tau kalau sebenarnya aku bukan cucu dari sahabat kakek, kakek pasti akan marah besar
"Sebaiknya aku akan memastikannya dulu lalu akan ku jelaskan pada Rama semuanya" gumam Anggi
"heyy, kenapa kau melamun" tanya Rama
"hahhhh, apa tadi" Kaget Anggi dari lamunannya
"aku bertanya salah paham seperti apa"
"oh, sebenarnya aku tidak mengenal orang suruhan kakek, makanya aku menolak ikut dengannya, tapi dia memaksaku"
"dia ayah dari ibu mu"
"hmm"
Saat Rama ingin menanyakan pertanyaan lagi, dia melihat Anggi sudah tertidur, walaupun sebenarnya Anggi belum sepenuhnya tertidur, dia hanya pura-pura karena tidak ingin menjawab pertanyaan Rama
Rama mengelus surai hitam panjang Anggi dengan lembut
"maafkan aku, karena lalai menjagamu"
Anggi beralih memeluk Rama, senyum lebar terlukis jelas di wajah Rama. Sepertinya Anggi memang sudah bisa menerimanya.
Setelah menunggu beberapa menit, Anggi menyadari Rama tidak membalas pelukannya
"tidak memelukku juga" Anggi mendongkakkan wajahnya menatap Rama
"aku pikir kau sudah tidur" Gemas Rama sambil menjentikkan jarinya ke hidung Anggi pelan
__ADS_1
Rama segera menarik Anggi kepelukannya, kemudian mereka larut dalam mimpi indahnya.
Saat pagi menjelang, Anggi bangun lebih dulu
Dia menatap Rama dengan lekat betapa beruntungnya dia menjadi istri dari Rama
Anggi mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari Rama, tapi Anggi sadar kalau dia belum bisa membalas lebih perlakuan Rama terhadapnya.
Anggi menyentuh hidung mancung Rama lalu beralih ke bulu matanya yang panjang, Anggi sangat kagum melihat ukiran makhluk tuhan yang cukup sempurna di hadapannya
Anggi beralih ke bibir Rama yang merah jambu itu tanpa diberi lipstick. Wahh Anggi terkagum lagi, Aku saja harus memakai lipbalm baru berwarna, sangat tidak adil, gumam Anggi
Rama terbangun merasakan ada yang mengganggu tidurnya, namun belum membuka matanya, Rama mendengar semua yang di ucapkan Anggi yang bertopang dagu menatap keindahan wajah Rama.
"sudah puas menatap wajah tampanku" ucap Rama yang membuat Anggi terlonjak kaget
Anggi langsung bangun duduk memalingkan wajahnya, sekarang dia ketahuan oleh Rama.
Rama menarik tubuh Anggi ke pelukannya
"mau kemana" tanya Rama
Anggi hanya tersenyum malu dia menyembunyikan wajah nya di dada Rama. Wajahnya sudah memerah seperti tomat karena ketahuan
"kenapa malu begitu, kau boleh puas menatapnya sesukamu" sambil menarik dagu Anggi menghadap wajahnya
"aku sudah puas melihatnya tadi" kata Anggi
"benarkah, kalau begitu sekarang giliran aku" ucap Rama dengan suara khas bangun tidurnya berbisik Ke telinga Anggi.
Seketika Anggi terhipnotis dengan bisikan Rama. Rama dengan senyum jailnya mengunci tubuh Anggi.
"mau apa" dengan terbata
"bukannya sudah ku bilang aku juga ingin melihat wajahmu"
"kau sudah melihatnya kan, sana minggir"
"tapi aku belum puas"
Anggi terdiam mengizinkan Rama melakukan hal yang sama seperti perlakuan Anggi barusan kepadanya.
"kau melakukannya seperti ini tadi"
Rama memegang hidung Anggi dengan jari telunjuknya sama persis dengan Anggi.
Tapi berbeda dengan kelakuan Rama, Rama membuat jantung Anggi berdetak cepat samping bulu tangannya merinding.
Melihat sikap Anggi, Rama semakin menjadi jadi, Anggi memalingkan wajahnya tidak sanggup merasakan perlakuan Rama
Dengan senyum jail, Rama menarik dagu Anggi ingin mencium bibirnya. Anggi menutup matanya erat takut mendapat ciuman dari Rama.
Melihat Tingkah Anggi, Rama tersenyum puas
Anggi berhasil mendapatkan jentikan jari di dahinya cukup keras membuatnya tersadar lalu membuka matanya secepat mungkin
"aww" Mengusap dahinya
"jangan berpikiran aneh pagi-pagi" kata Rama
Anggi cukup kesal sambil memegang dahinya
"kamu tidak sadar kalau kamu menjentiknya keras"
"coba aku lihat" sambil memerhatikan Dahi Anggi yang memerah
Rama mencium kening Anggi lembut sambil mengusap dahinya
"sekarang sudah sembuh kan" ucap Rama lembut
"hmmm"
__ADS_1
Bersambung.