Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Kecelakaan


__ADS_3

To: Pria menyebalkan


Terima kasih telah memberikan cintamu tiap hari dan maafkan aku karena selalu kesal padamu


By: Anggi


Isi note dengan tulisan tangan Anggi yang Rama baca membuatnya tiba-tiba merasa bersalah karena kelakuannya barusan bersama Nada


Munafik jika Rama tidak suka dengan ciuman Nada tadi, walaupun dia sangat syok karena perlakuan Nada, bahkan dia sempat terlena saat Nada dengan sengaja memperdalam ciuman itu


Untung saja Dion datang, jika tidak mungkin Rama akan membalas ciuman dari Nada. jadi Rama segera sadar dengan kelakuan Nada, lelaki mana yang disuguhkan tetapi tidak menikmatinya.


"harusnya yang bilang seperti itu aku, aku yang sangat beruntung memilikimu" batin Rama


Dering ponsel Dion berbunyi, menyadarkan lamunan Rama karena dering ponsel yang menggema memenuhi ruangan Rama


Rama menatap tajam ke arah Dion, bertanda menyuruhnya segera mengangkat panggilan telponnya


"halo, iya pah"


"segera kerumah sakit sekarang, kau yang pimpin operasi"


"Dokter lain saja"


"Papa tidak menjamin keselamatan Anggi, jika ditangani dengan Dokter lain"


"aku juga tidak bisa menjamin keselamatannya jika itu aku.... " Dion menggantung perkataannya sedikit kaget mendengar nama Anggi terselip di setiap kalimat yang diucapkan Papanya


" tunggu maksud Papa apa, siapa yang mau dioperasi"


"Anggi istri Rama"


"Anggi" kaget Dion


Dion belum bisa mencerna perkataan Papanya, namun mendengar nama Anggi sentak Rama menajamkan pendengarannya, penasaran apa maksud dari Papanya itu, keselamatan Anggi, Rama masih penasaran, dengan sigap Rama merebut ponsel Dion yang mematung kaget


"Halo ini Rama om"


"Rama kamu kemana saja, kenapa tidak mengangkat ponselmu"


Rama langsung mengecek ponselnya melihat begitu banyak panggilan mulai dari Sopir yang mengantar Anggi, orang tuanya bahkan terlihat 1 panggilan tak terjawab dari Anggi


"Ke rumah sakit sekarang, Anggi kecelakaan, dia harus di operasi sekarang jika tidak keduanya... " Ujar Papa Dion selaku Om Rama


Belum sampai kalimat terakhir Omnya, Rama segera menyeret Dion yang masih melamun menuju Rumah sakit.


Pikiran Dion sempat tertuju pada perkataan Karyawan tadi yang membicarakan soal kecelakaan di depan perusahaan.


Dion meyakini orang yang dimaksud Itu pasti adalah Anggi.


Dengan kecepatan tinggi Rama melajukan mobilnya menuju rumah sakit, tak henti-hentinya Rama merutuki kesalahannya karena telah meninggalkan Anggi di kafe tadi bahkan lebih mengkhawatirkan Nada ketimbang Anggi Istrinya.

__ADS_1


"bodoh" gerutu Rama seraya memukul stir mobil menyesali ponselnya yang di buat mode diam


Saking kencangnya mobil yang di kendarai Rama beberapa pengendara mobil banyak yang menyumpahinya, persetan dengan semua makian mereka yang terpenting sekarang, dia sampai Di rumah sakit secepat mungkin agar bisa melihat keadaan Anggi.


Sesampainya disana, Rama berlari entah mau kemana saking paniknya bahkan dia menabrak orang yang sedang berjalan.


"maaf" ucapnya


Tak henti-henti nya dia mengucap maaf setelah beberapa orang yang dia tabrak saking paniknya, matanya tak sejalan dengan pikirannya, tujuan saat ini bertemu Anggi


"Rama, sadarlah kenapa kau begitu ceroboh" sahut Dion setelah melihat tingkah Rama


"dimana ruangannya Dion" frustrasi Rama seraya menggaruk kasar rambutnya


"ikut denganku"


Anggi sekarang berada di ruang UGD dengan beberapa perawat yang mengobati lukanya. Disana sudah ada Yudha, Ardhan dan Dara yang menunggu diluar ruangan menunggu seseorang untuk mendapatkan persetujuan operasi, jika mereka bagian dari keluarganya sudah dari tadi Anggi di tangani.


Rama datang bersama Dion berlari masuk ke ruangan UGD melewati mereka tanpa permisi


"Anggi" panggil Rama


Anggi membuka matanya lemah setelah mendengar panggilan Rama menyebut namanya, orang yang sedari tadi ditunggunya.


Anggi hanya menatap langit langit ruangan tersebut seraya meneteskan sebulir air diujung matanya


Rama meringis melihat beberapa luka di bagian tubuh Anggi, pasti begitu menyakitkan.


"Dokter Dion, Aku ingin bicara" sahut Dokter yang menangani Anggi ke Dion


Terlihat Dion dan Dokter tadi saling berbicara serius menggelengkan kepala, entah apa yang Dion tanyakan sehingga Dokter itu menggeleng lemah


Dion segera menghampiri Rama lalu menepuk bahunya agar lebih tenang.


"kenapa, apa yang Dokter tadi katakan" tanya Rama penasaran


"bisa kita bicara" ucap Dion


Anggi menggapai tangan Rama seolah ingin mengatakan sesuatu


"ada apa sayang" lirik Rama merasakan seseorang memegangi tangannya


"berjanji padaku, apapun yang terjadi tolong selamatkan anak kita" kata Anggi memohon


Rama hanya memandang wajah Anggi, dia juga belum tahu bagaimana keadaannya sekarang.


"akan aku usahakan, tapi kita dengar kata Dokter dulu yah, mereka pasti menentukan yang tepat untuk kesehatan mu"


"aku hanya berharap yang terbaik untukmu"


"kamu harus berjanji padaku dulu"

__ADS_1


"baiklah" pasrah Rama


Setelah berbicara panjang lebar, Badan Rama bergetar menahan tangisnya agar tidak menunjukkannya, tapi ia berusaha tegar menutupi kesedihan itu.


Sepertinya dia tidak bisa menepati janjinya. Apa yang harus dia katakan pada Anggi, dia pasti akan sangat sedih kehilangan anaknya yang bahkan belum melihat dunia tapi sudah diambil dulu oleh penciptanya.


Rama menghirup udara panjang lalu menghembuskannya kasar, mulutnya terasa kaku untuk mengatakan yang sebenarnya pada Amggi, Rama tidak sanggup melihat wajah sedih wanitanya.


Dengan tegar menutupi raut wajah sedihnya, Rama mengatakan pada Anggi apa yang dikatakan Dokter padanya


"Apa yang Dokter katakan" tanya Anggi


"Dokter bilang, anak kita harus di angkat, jika tidak akan membahayakan dirimu, sekalipun Tidak diangkat, anak kita tidak bisa ditolong lagi"


"jangan bilang seperti itu, kau tidak menginginkan anak ini"


"sekalipun dulu aku belum siap untuk memiliki anak, tapi aku sangat senang saat mengetahui aku hamil"


"kenapa dengan teganya kamu ingin menghilangkannya"


Anggi tidak henti-hentinya mengucapkan semua isi hatinya, tentu Rama hanya mendengar semua ucapan Anggi, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa.


"maafkan aku, tidak ada jalan lain selain itu" pasrah Rama


"ngga, ku mohon" pinta Anggi


"aku akan tanda tangan, ku harap kamu bersiap" jelas Rama


Anggi hanya menangis tersedu, meratapi nasibnya apakah ini jalan satu-satunya.


Dokter datang bersama perawat lainnya untuk membawa Anggi menuju ruang operasi.


"aku percaya padamu untuk menangani Anggi, kumohon berikan kabar baik untukku"


"apapun hasilnya, ku percayakan semuanya padamu" ucap Rama ke Dion


Diluar ruang operasi sudah ada Rama, Yudha, Ardan, Dara menunggu Anggi selesai operasi


Betapa marahnya Yudha melihat Rama saat ini, ingin sekali dia melayangkan pukulan padanya


Bughhhhh


Betapa kagetnya Yudha saat melihat Ardan tengah memukul Rama tepat dipipi kirinya tanpa henti, sepertinya dia tidak perlu mengeluarkan tenaganya lagi, karena sudah ada yang mewakili perasaannya


"Dasar pengecut"


"kau tau betapa leganya aku setelah tau Anggi sudah mendapatkan orang yang akan mencintainya, bisa menjaganya dan memberikan dia kebahagiaan" teriak Ardan


"aku tanya kemana kamu, kenapa membiarkan Anggi sendirian, kamu ini suaminya seharusnya antar dia pulang dengan selamat lalu kau kembali ke kantor mu, apa hal seperti harus aku ajarkan juga"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2