
Anggi dan Anggun mengobrol bersama di dekat makam orang tuanya.
Anggi menceritakan alasan dia berada disini malam ini.
"Mungkin kamu cuma salah paham" ucap Anggun
"Baiklah, anggap saja aku salah paham" balas Anggi pasrah
"aku tau perasaanmu saat ini seperti apa, bahkan tangismu sangat jelas bahwa kau sangat kecewa"
Anggi terdiam sejenak merasa pening di kepalanya, namun dia menahan sakit itu
"apa kau ada masalah" tanya Anggi yang beralih Ke Anggun
"tidak, sudah ku bilang aku hanya merindukan mereka"
"bohong" spontan Anggi
Anggun tersenyum, sepertinya saudara kembarnya ini merasakan kejanggalan dengan tingkahnya saat ini.
"aku takut Anggi" tunduk Anggun seraya memeluk kedua kakinya
"takut kenapa" tanya Anggi sedikit khawatir
"cerita padaku, jangan kau simpan masalahmu sendiri" sambil mengusap punggung Anggun
"aku hamil"
"hah, jangan bercanda" Anggi sontak kaget
"aku tidak bercanda Anggi"
Anggun memberikan sebuah testpack ke Anggi
"kamu, bagaimana bisa"
"lalu siapa yang menghamilimu" ucap Anggi panjang lebar
"kak Arka"
"hah"
Anggi membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Anggun barusan bukannya kak Arka itu anak dari sekertaris kakeknya
"kalian" tanya Anggi lagi
"hmmm, sebenarnya aku dan Kak Arka sudah lama saling menjalin hubungan, hanya saja kakek tidak tau" Jawab Anggun
"lalu bagaimana caranya kau memberi tahu kakek soal ini"
"aku saja pusing Anggi, aku takut" frustasi Anggun
Anggi dibuat tambah pusing, masalahnya saja belum selesai tapi Anggi menyisihkan perasaannya sementara untuk menenangkan Anggun karena Anggi tau pasti hidup Anggun lebih berat di banding dirinya
"yah sudah kamu tenang dulu, urusan kakek kamu ngga usah pikirkan, aku akan membantumu menjelaskannya ke kakek"
"lalu apa Kak Arka sudah tau kalau kamu hamil"
Anggun menggelengkan kepalanya bertanda belum memberi tahunya.
"yah sudah telepon Kak Arka sekarang, beri tahu tentang ini, dia harus bertanggung jawab Anggun"
"kamu mau anak yang kamu kandung tidak punya Ayah"
"jika Kak Arka tidak mau, aku akan mengurusnya sendiri, atau aku akan menghilangkan janin ini"
"kamu jangan sembarangan bicara Anggun, apa kamu tega menghilangkannya, dimana hati nuranimu anak itu bahkan belum melihat dunia" kesal Anggi
Anggun lalu mencari ponselnya di dalam tas untuk menghubungi Kak Arka, tapi panggilannya tidak tersambung
"sebenarnya Kak Arka sedang di luar negeri, dia di tugaskan ke Kakek"
"lalu bagaimana caranya kamu memberi tahunya"
__ADS_1
"aku tidak tau" jawabnya pasrah
"kapan dia pulang" tanya Anggi
"mungkin lusa"
"baiklah, setelah Kak Arka datang kamu beri tahu, untuk sementara rahasiakan dulu dari siapapun"
"baiklah"
"besok kita ke dokter untuk lebih memastikan bagaimana kandunganmu sekarang"
Anggun hanya mengangguk menurut ke Anggi
Mereka kembali kerumahnya, setelah sampai Anggi memijit pelipisnya, kepalanya sangat pening.
"Nona dari mana, Tuan sudah berapa kali menelpon"
"bibi bilang apa? "
" aku bilang Nona tidak ada di kamar, karena Tuan bercerita dengan anda, ponsel Nona tidak aktif katanya"
"kalau Rama menelpon lagi, Bibi bilang saja kalau aku sudah ada dirumah" ucap Anggi lemah
Anggi masuk kekamarnya lalu membuang badannya kasar ke tempat tidur.
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Anggi membuang nafasnya kasar berulang ulang
Dia berjalan menuju laci di bawa televisi mencari obat, mungkin bisa meredakan pening di kepalanya, sakit kepalanya sangat tidak tertahan lagi
Saat keluar dari kamar untuk mengambil air minum, dia berjalan tergontai menahan beban badannya, rasanya tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menopang badannya.
"Nona, apa ada yang perlu bibi bantu"
"ngga usah bi, bibi istirahat saja, ini sudah larut" kata Anggi mengatur nafasnya
"sepertinya nona kurang sehat" ucap bibi memerhatikan Anggi
"ngga apa kok bi, nanti juga sembuh setelah minum obat"
Di pagi hari Anggi bangun merasa tubuhnya pulih kembali, masalahnya dengan Rama dia lupakan, yang hanya di pikirannya cuma Anggun, bagaimana caranya dia bisa melewati hari harinya nanti.
Segera Anggi bersiap siap menuju kediaman kakeknya, hari ini dia berjanji ingin menemani Anggun ke Rumah sakit
"Bibi, aku keluar dulu yah, aku mau ke Rumah sakit"
"Nona sakit"
Belum sempat menjawab pertanyaan Bibi, Anggi menerima telepon kemudian berjalan menjauhi Bibi
"aku kesana sekarang" ucapnya di balik telepon itu
"Bibi, aku pergi sekarang yah, aku sudah ada janji"
"hati-hati Non"
"iya bi"
Anggi melajukan mobilnya membelah keramaian ibu kota, tak menunggu waktu lama dia sudah sampai di Rumah kakeknya.
Dia turun lalu langsung masuk ke kamar Anggun.
Anggi menggedor pintu kamar Anggun, kata Kakeknya Anggun tidak membuka kamarnya sedari tadi, kakek khawatir terjadi sesuatu dengannya
"kakek istirahat saja, biar aku yang cerita dengan Anggun"
"kakek serahkan padamu yah, siapa tau Anggun mau cerita padamu"
"iya kek"
Selepas kepergian kakek, Anggi mengetuk pintu kamar Anggun kembali
"Anggun buka pintunya, ini aku Anggi"
__ADS_1
Anggun langsung membuka kamarnya memeluk Anggi dengan mata sembab, Anggi yakin Anggun pasti menangis semalaman
"kamu tenang yah, ada aku disini" ucap Anggi menenangkan
"kenapa, cerita padaku bukannya semalam kita sudah sepakat untuk menyelesaikannya masalahmu bersama, ada apa"
"Kak Arka"
"apa kamu sudah memberi tahunya"
"hmmm"
"lalu apa yang dia katakan"
"dia bilang, tidak bisa pulang untuk bulan ini, pekerjaannya sangat banyak"
"apa?, dia lebih memilih pekerjaannya di banding mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri"
Emosi Anggi memuncak saat mendengar ucapan Anggun
"kalau begitu aku akan beri tahu kakek, Agar dia pulang sekarang"
"jangan Anggi, aku tidak ingin kakek tau soal ini, kakek pasti akan marah besar"
"cepat atau lambat kakek pasti tau"
"bagaimana kalau kakek marah"
"Kalau soal itu, kakek pasti marah kamu yakin aja, jadi lebih baik beri tau kakek sebelum kandungan kamu membesar, sampai kapan kamu mau menyembunyikannya".
"Apa kandungan ini aku gugurkan saja"
"Anggun, berhenti berpikiran sembarangan"
Bentak Anggi
" lalu apa yang harus aku lakukan Anggi, aku sudah menyerah"
"kemari" Anggi menarik Anggun menuju keluar kamar
"kamu mau bawa aku kemana"
"ikut aku saja"
Anggi membawa Anggun ke kamar Kakek yang sedang duduk membaca koran.
"kamu tunggu disini, aku akan memberi tahu kakek, aku akan memanggil mu nanti"
Dengan was was Anggun menggigit kuku jarinya panik melihat tingkah kembarannya yang sangat berani, bahkan Anggun saja tidak berani
Anggi mengetuk pintu kamar Kakeknya pelan
"maaf kek, kalau Anggi mengganggu, Anggi mau mengatakan sesuatu boleh Anggi masuk"
"kenapa tidak, ayo masuk sini duduk dekat kakek" ucap Kakek lembut
"mau bicara apa, sepertinya sangat penting"
"kek, aku mau ngomong sesuatu, tapi Anggi tidak yakin kakek akan senang atau ngga" ucao Anggi manja
"kamu ini seperti berbicara pada orang lain saja"
"kek" panggil Anggi
"iya Anggi" jawab kakek nya yang sekarang tengah fokus mendengarkan Anggi
"kalau misalnya kakek punya cucu, bagaimana perasaan kakek"
"tentu saja kakek sangat senang"
"memangnya kamu sedang hamil yah" tanya Kakek semangat
"kalau misalnya Anggun yang hamil, bagaimana kek" kata Anggi merubah ucapannya menjadi serius
__ADS_1
Bersambung..