
Sepulang Anggi dari rumah mertuanya, perasaan seperti campur aduk, pertanyaan Mama mertuanya seperti bom waktu buatnya
Anggi merasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan mereka, tapi Anggi tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menunggu keajaiban itu entah kapan akan datang pada dirinya.
Tepat sebulan ini Anggi masih mengomsumsi obat yang di berikan Dokter sheina, harapan nya bahkan sudah hampir sirna, percuma dia meminum obatnya jika dia tidak melakukan hubungan itu, bahkan terakhir kali sekitar dua minggu yang lalu
Rama bahkan perlahan menjauh padanya, rumah ini hanya tempat persinggahan baginya. Hanya pulang tidur kemudian saat pagi dia sudah pergi lagi
Entah malam ini dia pulang atau tidak, Anggi seolah tidak ingin mengambil pusing. Sikap Rama berubah dari yang sangat pengertian menjadi lelaki yang sangat cuek dan dingin pada Anggi
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Anggi belum bisa tertidur, entah mengapa matanya malam ini seakan tidak ingin terpejam
"mungkin dengan mematikan lampu dia bisa tertidur" batin Anggi
Namun tak cukup 5 detik, lampunya kembali dia nyalakan, Rasa takut yang selama ini dia lupakan, kembali bersarang diotaknya.
Hanya ada perasaan takut yang dia rasakan, segelas Air di atas nakas diraihnya agar bisa menghilangkan rasa gugupnya
Tangannya bergetar hebat bahkan segelas air di genggamannya terbuang sia-sia. Segera ia meminum sisa dari air tersebut lalu mengatur nafasnya dalam-dalam
Bunyi notifikasi pesan masuk muncul di layar ponselnya
"malam ini aku ngga pulang, tidak usah menunggu ku" pesan singkat dari Rama
Anggi hanya menatap pesan itu
"kamu berubah, kau sangat tega padaku, membiarkan ku tinggal dirumah sendirian tanpa kau tau bagaimana keadaan ku sekarang"
"aku takut sangat takut"
Air matanya sudah tidak terbendung lagi, Anggi yakin matanya pasti akan sembab keesokan paginya.
Anggi berjalan ke balkon kamarnya, menatap langit malam tapi tidak ada bintang disana, sepertinya akan hujan deras, bahkan cuacanya begitu dingin dan menusuk disetiap tulangnya
Anggi beralir melihat suasana rumahnya sentak Anggi memicingkan matanya setelah berbalik melihat ada sebuah mobil yang terparkir di luar rumahnya.
"mobil siapa itu? " batinnya bertanya-tanya
Tiba-tiba listrik padam setelah terlihat kilatan di langit
" ahhh" teriak Anggi
Sentak lelaki di dalam mobil itu terbangun dari tidurnya mendengar suara teriakan yang memekikkan gemdang telinga nya berasal dari dalam rumah itu
"Anggi" pikirnya
Dengan berani ia berlari masuk ke halaman rumah lalu mencari asal suara itu
Dia berpikir sejenak bagaimana caranya ia masuk kedalam sedangkan rumahnya sedang terkunci
Terdengar suara tangisan dari arah luar rumah, sentak Ia berlari kesana. Beruntungnya ia menemukan Anggi sedang memeluk lututnya ketakutan.
Dengan lihai Lelaki itu melompat melayangkan kedua kakinya melewati pembatas besi
"Anggi, kau tidak apa-apa kan?" tanyanya
__ADS_1
"Yudha" balas Anggi setelah mendongkakkan kepalanya menatap seorang laki-laki yang sangat panik dengan nafas yang naik turun akibat berlari tadi
Tanpa berpikir panjang, Anggi memeluk Yudha setelah melihatnya, saat ini Yudha seperti seorang penolong bagi Anggi
" udah ngga apa-apa, ada aku disini" ucap Yudha menenangkan Anggi
Sepersekian detik, penglihatannya gelap Anggi jatuh dengan kaki yang lemas.
"Anggi, hey" panggil Yudha panik
"Anggi, kamu kenapa"
Dengan pikiran yang dongkol Yudha menggendong Anggi menuju mobilnya lalu kerumah sakit.
Sesekali dia menengok pintu ruangan pemeriksaan, raut kepanikan terlihat jelas di wajah tampannya.
"bagaimana keadaannya Dok? " tanya Yudha setelah melihat Dokter yang memeriksa Anggi keluar dari ruangan itu
"istri anda tidak apa-apa, hanya pengaruh hamil muda"
"sepertinya dia sangat banyak pikiran, jadi jangan membuatnya stress, apa lagi kandungannya sangat lemah"
"tapi maaf Dok, dia bukan istri saya" sahut Yudha
"saya pikir, dia Istri anda karena saya liat anda begitu peduli dengannya, jadi anda ini siapanya"
"dia bukan istri ku untuk saat ini, tapi akan menjadi istriku" batin Yudha
"dia sahabat saya Dok"
"begitu beruntung dia punya sahabat seperti anda"
"tentu saja"
"saya sarankan untuk memeriksa kan kandungan untuk lebih lanjut"
"baik Dok, terima kasih"
Yudha membuka pintu ruangan dengan perasaan campur aduk, entah dia harus senang atau sedih
"Yudha" Panggil Anggi setelah sadar dari pingsannya
Raut wajah kebahagiaan terlihat jelas di wajah Anggi, dia benar-benar tidak menyangka akan keajaiban Tuhan yang diberikan padanya, sekian Tahun dia menunggu namun kenapa baru diberikan saat ini.
"kau sudah tau" tanya Yudha
"hmm" ucapnya seraya tersenyum senang
"selamat yah"
"terima kasih, jika bukan karena kamu, mungkin saja aku kehilangannya lagi"
"itu sudah keharusan, aku menjaga mu"
"tapi bagaimana bisa kamu bisa datang kerumahku secepat itu, bukannya ini sudah tengah malam"
__ADS_1
Yudha sedikit gugup mendengar perkataan Anggi, tidak mungkin kan selama ini Anggi tau bahwa dia selalu berada didepan rumahnya tiap malam
"kebetulan aku hanya lewat" singkat Yudha
Anggi hanya ber-oh-ria tidak ingin menanggapi terlalu jauh, intinya jika Yudha tidak datang mungkin Anggi akan sendiri ketakutan di Rumahnya
"aku sudah tidak sabar memberi tahu Rama tentang berita bahagia ini" ucap Anggi senang
"jika kau tau yang sebenarnya, apa kau masih bisa sesenang ini" batin Yudha
"akan lebih bagus jika kau memberikannya kejutan, apa lagi ini adalah hal yang sangat dia tunggu-tunggu" usul Yudha seraya tersenyum miring
"ide yang bagus"
Anggi sentak bangkit dari rebahannya
"kemana?" tanya Yudha
"aku mau pulang"
"lebih baik kamu istirahat dulu disini, kamu baru sadar, kau harus memulihkan dirimu"
"tapi jika Rama pulang lalu aku tidak ada dirumah gimana" khawatir Anggi
"memang dia akan pulang malam ini"
"katanya sih malam ini dia ngga pulang"
" lalu kamu ngga bertanya kenapa dia ngga pulang" kesal Yudha
"yah paling dia sibuk kerja" jawab Anggi
"kerjaan dia tidak sesibuk itu, aku juga seorang CEO tapi aku masih ada waktu kok" jelas Yudha yang sesungguhnya
"terus, dia kemana kalau ngga dikantor" tanya Anggi menelisik
"entahlah, aku cuman ngasih tau kamu aja" ujar Yudha pasrah menghadapi Anggi yang keras kepala
Bagi Yudha meladeni Anggi ngga akan ada habisnya, karena Anggi ngga akan mudah percaya jika hanya sebuah kata-kata harus ada bukti yang jelas.
"besok, aku akan antar kamu pulang"
"Tapi.. " bantah Anggi
" nurut Anggi" tegas Yudha dengan mata elangnya
Kalau Yudha sudah mode galak seperti ini Anggi tidak bisa berkutik, hanya melihat matanya saja Anggi sudah takut, karena Yudha tidak pernah main-main dengan kata-katanya
"ya udah" pasrah Anggi
"tapi janji akan antar aku pagi-pagi, bagaimana kalau Rama datang, dia pasti akan khawatir"
"kalau dia khawatir mana mungkin dia ninggalin kamu Anggi" batin Yudha
"iya iya aku janji" kata Yudha
__ADS_1
"aku janji tidak akan pernah ninggalin kamu dan akan selalu menjaga dan membahagiakanmu jika kamu izinin aku" batin Yudha
Bersambung..