
Anggi dan Rama sibuk berdebat soal kepemilikan novelnya di malam hari
"ini punyaku" tunjuk novel di tangannya
" yah sudah ambil aja, lagian aku juga udah baca kok"
"kamu tidak menjaganya dengan baik, liat banyak halaman yang terlipat" tegur Anggi sambil membalikan halaman demi halaman
"Aku akan ganti kalau begitu" mulai kesal karena menyalahkan Rama
"bagus kalau kau mengerti, lagian novel ini edisi terbatas, ganti yang baru kalau begitu"
Rama mengerutkan Alisnya tak percaya, pikirnya hanya sebuah buku tapi malah mempermasalahkan sampai menyuruhnya menggantinya
"Anggi itu hanya sebuah buku, lagian kamu masih bisa membacanya"
"aku ingin yang baru"
"kemeja yang kamu kenakan itu edisi terbatas juga, kalau kau tau"
"terus mau apa, mau kau ambil juga atau menyuruh ku menggantinya juga"
"bukannya kemeja yang kau pakai itu milikku" beralih menyudutkan Anggi
" yah udah ambil aja, aku ganti sekarang" kesal Anggi
Anggi mulai berjalan mengganti bajunya. Tapi setelah membuka lemari dia baru berpikir hanya ada baju kekurangan kain di sana.
Anggi mulai mengutuk dirinya, dasar keras kepala sekali kau Anggi hal sepele itu kau perdebatan.
"Mau pakai baju apa sekarang" gerutu Anggi
Rama menghampiri Anggi lalu melihatnya masih mengenakan kemeja putih tadi
"kenapa, aku beri kesempatan kau menyesal ngomong seperti tadi" tawar Rama
"ngga, aku ganti sekarang"
"dasar keras kepala" gumam Rama
Rama lalu berlalu keluar kamar mengambil Air minum karena kehausan
Anggi menggaruk kepalanya stress, kenapa tidak mengakui kesalahan dia saja tadi, harusnya dia bersyukur buku itu masih ada.
Akhirnya baju terkutuk itu dipakai juga. Baju yang memperlihatkan lekuk tubuhnya membuatnya terkesan sexy,
Sekembalinya Rama, dia mendapati Anggi sudah mengganti pakaiannya
Rama menaruh Gelas berisi air di atas nakasnya lalu menghampiri Anggi yang masih berdiri sambil menyilangkan tangannya
Saat ini Rama seperti singa yang siap menerkam mangsanya akibat perdebatan yang membuatnya merasa kesal hanya karena masalah sepele. Namun rasa kekesalan itu berubah menjadi kejahilan setelah melihat Anggi berpakaian seperti itu
Rama menatap Anggi dari ujung kepalanya sampai ujung kakinya, kemudian mengeluarkan senyum jahilnya.
"aku hanya bercanda tadi, tapi kau menanggapi nya dengan serius" sambil memegang kedua pundak Anggi
"tapi kalau dipikir - pikir ada bagusnya juga, keras kepala mu itu"
"bukannya yang di untungkan itu aku"
"jangan berpikir aneh"
"lagian apa susahnya memakai baju ini"
"minggir aku mau tidur" cemberut Anggi
Rama menarik tangan Anggi untuk menghadap di depannya, berharap suasana hati Anggi membaik kembali
"kenapa" ketus Anggi
__ADS_1
"kau ingin mengatakan sesuatu" kata Rama menawarkan agar berbaikan kembali
"ngga ada"
"yakin"
"hmm"
"baiklah akan ku ikuti permainanmu"
"terserah kau saja"
Mendengar ucapan Anggi sepertinya suasana hati Anggi tidak ingin berdamai dengannya
"baiklah jika itu maumu" gumam Rama
Habislah kau malam ini Anggi, kau sudah membangunkan harimau yang sedang tertidur
Rama menarik lengan Anggi menghadapnya kembali
Rama menatap Tajam ke mata Anggi, Anggi sedikit takut melihat Rama seperti itu, baru kali ini dia melihat Rama dengan tatapan yang tidak bisa Anggi artikan.
"perlu kau tau Anggi apa yang ada di dalam dirimu itu, semuanya milikku" membisikkan Ketelinga Anggi dengan penekanan sambil menaikkan sebelah Alisnya
Sepertinya Rama sedang di luar Batas sekarang
Anggi mulai merasa takut dengan maksud Rama.
"maksud kamu apa sih, ini sudah malam lebih baik kita tidur saja"
"memang itu yang aku inginkan sekarang"
Anggi mulai takut lalu berjalan mundur untuk melarikan diri ke tempat tidur.
"Rama kamu jangan seperti ini, aku takut" ucap Anggi terbata bata
Rama tidak memedulikan perkataan Anggi yang semakin gugup, bahkan tangannya mulai terasa dingin, raut wajahnya mulai pucat sampai tidak ada darah yang mengalir di wajahnya
Anggi sudah menabrak ujung tempat tidur, pergerakannya sekarang sudah terkunci.
Sampai Anggi terduduk di ujung tempat tidur sambil menggengam seprei erat berharap bisa mengendalikan rasa takutnya
Rama mendorong tubuh Anggi berbaring di tempatnya dengan hati-hati, Anggi hanya menuruti Rama.
sepertinya Anggi sudah pasrah dengan kelakuan Rama malam ini, cepat atau lambat Rama pasti akan menginginkannya
Anggi menutup kedua matanya, seperti sudah mempersiapkan dirinya tapi dengan ekspresi takut
Kemudian Rama mengambil selimut lalu menutupi badan Anggi agar tidak kedinginan.
Rama menjentikkan jarinya ke dahi Anggi cukup keras namun tidak sampai menyakitinya untuk menyadarkannya dari pikiran anehnya itu.
Anggi membuka matanya kaget, segera mengusap dahinya
"kamu kenapa, ketakutan begitu, aku cuma membantumu berbaring di tempat tidur"
"hahh" kaget Anggi yang belum sadar
"cepat tidur, ngga usah bawel"
Rama berjalan kesisi lain tempat tidur, berbaring disamping Anggi.
Anggi melirik kearah Rama hanya heran melihat tingkah Rama
Dipikiran Anggi, Apa Rama sedang menahannya. Yang tadi itu hanya pura-pura karena melihatku ketakutan jadi tidak melakukannya.
"kenapa menatapku seperti itu, jangan sampai aku berubah pikiran lagi"
"kenapa? " tanya Anggi
__ADS_1
" apa yang kenapa? "
" kenapa tidak melakukannya tadi"
"aku hanya mengerjaimu tadi" bohong Rama
"bohong" kata Anggi
"kalau aku menginginkannya, apa kau mau" balas Rama
"hmm" deham Anggi tanda mengiyakan
"aku tidak suka kau mengasihaniku"
"aku tidak sedang mengasihanimu sekarang"
"jangan menggodaku, aku hanya akan melakukannya jika kau sudah siap" sambil menutup matanya bersiap untuk tidur
"aku sudah siap" menarik nafasnya dalam lalu membuangnya
Rama kembali membuka matanya cukup kaget mendengar perkataan Anggi diluar perkiraannya, seingatnya semenit yang lalu dia berkata tidak ingin melakukannya
"jangan main main Anggi, kamu sendiri yang mengatakannya tadi"
"tadi kau menakutiku, aku pikir kau marah"
"mana mungkin aku marah padamu hanya karena hal sepele" memegang kepala Anggi lalu mengusapnya lembut
"aku serius dengan ucapanku tadi" ucap Anggi
Rama berbalik menatap Anggi.
"kau tidak serius, kau hanya memberanikan dirimu"
"ngga, sekarang aku sudah siap"
"lebih baik kau tidur sekarang, jangan berdebat padaku"
"Aku serius Rama, kenapa kau tidak percaya padaku" tegas Anggi
Rama membuang nafasnya kasar, berharap bisa mengendalikan dirinya, menatap dalam kearah jangan sampai dia mengerjainya, tapi tidak menemukan tanda kejahilan, wajahnya menunjukkan ekspresi serius
"apa kau tidak menginginkanku" jelas Anggi memancing Rama
"kalau begitu jangan menyesalinya" jelas Anggi
Rama langsung mengunci tubuh Anggi tanpa Aba aba. Ingin melihat apakah Anggi akan berubah pikiran setelah ini
Jantung Anggi berdegup kencang, menatap wajah Rama yang begitu dekat.
"kau siap" tanya Rama sekali lagi, berharap Anggi menyesali perkataannya
Namun Anggi tidak bergeming malah menutup matanya menunggu Rama memulainya
Rama tersenyum melihat wajah malu Anggi saat membuka matanya, karena merasakan Rama belum memulai tapi hanya menatapnya sedari tadi
"jangan menyesal setelah ini"
"tidak akan"
Rama langsung mendaratkan ciumannya dalam. Menikmati bibir Anggi yang selama ini hanya memberinya sebuah kecupan singkat.
"jangan lupa bernafas" kata Rama di sela sela ciumannya
Anggi membulatkan Matanya kaget merasakan ciuman Rama yang tidak berhenti, bahkan tidak bisa membuatnya mengambil oksigen
Anggi memukul dada Rama mengisyaratkan untuk beristirahat sejenak
Rama tersenyum melihat kelakuan Anggi yang sedang berburu Oksigen, tak menunggu waktu lama Rama melanjutkan aktivitasnya kembali
__ADS_1
Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk Rama dan Anggi.
Bersambung....