
Di perjalanan, Anggi cukup malu Dara mengejeknya habis habisan
Dara tertawa puas melihat ekspresi Anggi yang kaget akibat ulah Rama
"udah ketawanya, berhenti mengejekku" Anggi mulai kesal
Dara memegang perutnya sakit akibat tertawa terbahak bahak
"ihh, Ra udah deh"
"kamu keterlaluan polosnya"
"masa gitu aja kamu ngga ngerti, emang selama pacaran sama Raka, kamu ngga pernah ciuman yah"
"ngga pernah"
Dara sedikit terkejut mendengar penuturan Anggi yang jujur
"benaran belum pernah"
"jadi ciuman pertama kamu sama kak Rama dong"
"iya, jangan berisik"
"pantasan aja loh kayak orang linglung baru dicium gitu aja udah kayak kepiting rebus"
"emang kamu udah pernah"
"pernah"
"sama siapa, kamu aja jomblo ngga pernah pacaran"
"aku pernah pacaran yah, tapi kamu ngga tau"
"jangan bilang sama temannya si Raka yang playboy itu"
"kamu tau dari mana"
"pantasan aja ngga mau kasi tau aku, andai aku tau ngga bakalan aku restuin"
" kamu tau dia itu berubah saat pacaran sama aku"
"pasti kamu kemakan rayuannya kan"
"aku tulus suka sama dia"
"ujung ujungnya kamu yang sakit hati kan"
"Siapa bilang aku yang sakit hati, tapi dia, aku yang putusin saat dia benar benar cinta dan mau berubah hanya fokus ke aku doang"
"lalu kenapa mutusin dia"
"aku liat dia sama cewek, belum dia jelasin udah aku putuskan"
"hanya salah paham kan"
"iya sama kayak kamu dulu"
"oh iya aku hampir lupa, Raka minta ketemuan sama aku, temanin aku yah"
"ngga ah, bukannya tadi kak Rama bilang langsung pulang, jangan kemana mana"
"bentar doang Ra"
"pasti teman teman Raka ada juga disana"
"makanya aku ingin kamu nemenin aku"
"teman dia kan teman kamu juga"
"janji yah, bentaran aja"
"iya"
"di cafe nya si Farel kan"
__ADS_1
"iya cafe nya mantan pacar kamu"
Sesampainya mereka disana
"ehh bukannya itu Anggi yang disamping nya siapa" kata Farel sambil menyenggol Raka
"iya mereka memang mau kesini"
"yang sebelahnya siapa, cantik banget bodynya behh"
"mantan kamu"
"hah, mantan yang mana" kaget Farel yang sedikit salah tingkah
Raka memutar matanya malas, bagaimana bisa ada orang punya banyak mantan.
"Mantan yang ngga bisa kamu lupain" balas Raka
"semuanya ngga bisa aku lupain"
Raka membuang nafasnya kasar, sedikit kesal dengan teman playboynya ini
Saat Dara membuka kacamatanya, Farel seketika bengong di tempat.
"Dara" ucap Farel pelan
Anggi dan Dara masuk ke cafe itu
Cafe nya hari ini tidak terlalu ramai, biasanya akan Ramai kalau sore hari
"sudah datang" tanya Raka
"hmmm"
"sini duduk" menunjukkan kursi di depannya
Dara hanya santai melihat Farel, tapi tidak dengan orang yang sedari tadi bengong menatap perubahan dari kedua gadis didepan matanya
"ambil minum sana, ngga usah bengong, kayak ngga pernah liat cewek cantik aja" suruh Raka
"Ra, apa kabar? " tanya Raka ke Dara
" baik, seperti yang kamu liat sekarang"
"Anggi, kamu kok diam aja"
"ohh dia hanya kesal aja dari tadi aku ledekin soalnya Su " ucap Dara kelepasan
Untung saja Anggi langsung mencubit pinggang Dara takut dia keceplosan malas Raka akan tau kalau dia sudah menikah
" Dia kenapa" tanta Raka penasaran
"ngga ada apa-apa kok, ada kejadian lucu aja tadi" sambil tertawa
"oh gitu"
Setelah bertemu dengan Raka, berbincang sedikit tentang keseharian mereka.
"aku balik duluan yah, udah agak sore nih"
"oke, lain kali aku berharap kita berdua aja ketemuannya" Raka
"aku ngga janji, tapi akan aku usahain"
Sedari tadi Raka hanya memendam pertanyaannya, mengurungkan niatnya untuk meminta penjelasan ke Anggi
Saat di perjalanan mengantar Anggi ke Rumahnya.
" Ra, kamu perhatiin Raka tadi ngga"
"ngga"
"dari tatapan matanya, dia kayak masih berharap banget sama aku"
"tentu saja, apa lagi kalian itu putusnya ngga wajar, masalah diantara kalian itu ngga ada, tiba tiba aja kamu minta putus lalu menghilang tanpa memberi tahunya"
__ADS_1
"dia itu berpikir kalau kamu itu menunggunya, nyatanya, sudah tidak ada"
"bukan seperti itu Ra, sebenarnya saat aku minta putus padanya, bukan berarti tidak ada masalah apa apa"
"mungkin kamu juga tidak tau permasalahannya apa, ini cukup ribet Ra"
" waktu itu saat dia pergantian pelajar di jepang, aku melarang nya pergi tapi dia masih tetap ingin pergi, oke aku ngga bisa ngelarang dia juga kan, terserah dia. Setelah sebulan dia tinggal disana, aku selalu menelponnya tapi jarang dia angkat, aku pikir aku akan menelponnya untuk terakhir kalinya berharap dia mengangkat nya, tapi apa, aku mendapatkan suara wanita yang mengangkat telponnya, kau tau wanita itu bilang apa ke aku, dia bilang jangan menelpon Raka lagi, dia sedang tidak ingin di ganggu"
"Oke aku putuskan untuk tidak menghubunginya lagi, saat itu juga pun aku mengirimkan pesan padanya untuk memutuskan hubungan dengannya"
"lalu dia bilang apa"
"ngga ada balasan, aku pikir dia menyutujuinya"
"dan kamu tau kan, setelah itu aku pindah ke paris, tidak ada komunikasi dengannya"
"kenapa tidak menjelaskannya langsung"
"aku pikir tidak perlu menjelaskannya, biar dia sendiri yang harus meminta jawaban padaku"
"dia juga menganggap kalau hubungan kita ini sudah selesai"
"apa pun yang terbaik buatmu, Aku dukung kok, aku pikir dia menyesal setelah melakukan itu padamu" ucap Dara mendukung
Mereka berdua sudah sampai di depan rumah Anggi.
"mampir dulu yah" kata Anggi
"lain kali aja deh, udah hampir malam"
"yah udah deh"
"kak Rama belum pulang" tanya Dara
"ngga tau,aku ngga ngeliat mobilnya"
"aku balik yah, salam sama yang dirumah"
"thanks yah"
"santai aja"
Notifikasi dari Rama
"aku sudah selesai kuliah tapi mau mampir kerumah mama dulu"
Begitu isi chat dari Rama
Anggi sejenak berpikir, kemana Rama pergi
Anggi masuk kekamarnya, segera ke kamar mandi membersihkan kan dirinya dari debu
Saat melihat tubuhnya di cermin, begitu banyak bekas cakar di lengannya.
Saat membasahi tubuhnya dengan shower di atasnya, membuatnya meringis menahan perih dari bekas cakar.
Selesai mandi dia melilitkan handuk ketubuhnya terlihat jelas bekas cakar dimana mana
Anggi menggapai kotak P3K di lemari bagian atas, berniat mengambil obat merah agar bisa membantu meredakan lukanya.
Saat membalut lukanya Anggi cukup kesusahan
Rama membuka pintu kamar melihat Anggi yang hanya memakai handuk dan sedang melakukan sesuatu
Rama memperhatikan tingkah Anggi cukup lama, setelah mengerti Rama langsung menghampirinya
"biar aku bantu"
Anggi cukup kaget tidak menyangka Rama pulang cepat, dilihat dirinya yang cukup memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Sadar dengan tingkah Anggi yang malu, Rama segera memalingkan mukanya, membiarkan Anggi memakai bajunya dulu
Terlihat pipi Rama yang langsung memerah setelah menyuruh Anggi memakai pakaiannya terlebib dahulu
Bersambung
__ADS_1