
Aktivitas Anggi pagi ini diawali dengan mual, bangun tidurnya langsung ke kamar mandi, biasanya dia akan malas-malasan dulu di tempat tidur, tapi kali ini mau tidak mau harus bangun.
Huek huek
Anggi kembali ke tempat tidurnya untuk berbaring lagi, belum sampai disana mual nya kembali lagi, segera ia berlari menuju Kamar mandi.
"sayang, pelan-pelan jangan berlari begitu, entar kamu jatuh" teriak Rama yang sentak bangun dari tidurnya
"bawel banget" batin Anggi
"gimana udah mendingan" tanya Rama dengan suara khas bangun tidurnya,
Rama menghampirinya khawatir
"udah" singkat Anggi lalu memeluk Rama setelahnya.
"kenapa sayang?" tanya Rama
"capek" ucap Anggi lemah
"capek mualnya"
"Bukan" geleng Anggi didada Rama
"terus apa yang capek"
"pulang balik kamar mandinya"
"lalu"
"gendong" manja Anggi
Rama langsung mengangkat tubuh Anggi ke Tempat tidur mereka.
"kamu baring disini yah istirahat dulu, aku mau mandi lalu ke kantor"
"iya"
Ngomong-ngomong soal kuliah Anggi, Rama sudah mengambilkan surat cuti untuk Anggi.
Mereka sudah memutuskan semuanya, jika nanti setelah Anggi melahirkan, dia bisa melanjutkan kuliahnya Karena mengingat kondisinya yang tidak mungkin untuk beraktivitas di kampus. Walaupun di kampusnya sudah tau kalau Anggi itu sudah menikah tapi tetap saja, hamil terlalu cepat untuk umurnya.
Rama sudah di beri amanah oleh Papanya untuk mengurus perusahaan, posisinya sekarang sudah resmi sebagai CEO, karena Rama akan segera menjadi seorang Ayah makanya papanya memberikan posisi itu supaya bisa menghasilkan uang sendiri Rama harus bertanggung jawab menafkahi keluarganya nanti agar keuangannya tidak bergantung pada orang tuanya.
Bukan Papanya yang menyuruh, tapi inisiatif Rama sendiri. Dia ingin lebih mandiri,sebenarnya tabungannya juga sudah cukup untuk menafkahi Anggi dan calon anaknya nanti, hanya saja lebih baik jika di tambah karena kebutuhan mereka bukan hanya itu itu saja.
"sayang, aku pergi dulu yah" pamit Rama mengecup kening Anggi lalu beralih ke bibir ranum itu yang menjadi candunya
"hmm, hati-hati yah"
"jagain mama yah, jangan nakal" ucap Rama seraya memegang perut Anggi
Rama berjalan keluar kamar yang disusul oleh Anggi, Rama heran kenapa Anggi mengikutinya padahal ia menyuruhnya istirahat
"mau kemana? " berbalik menghadap Anggi
" mau liat kamu berangkat"
Rama terkekeh mendengar ucapan Anggi, sungguh istri yang sangat baik, dia bahkan ingin melihat suaminya berangkat kantor
"sayang, bukannya sudah kubilang, kamu istirahat saja"
"aku ngga sakit cuman mual aja, lagian malas tinggal dikamar seharian"
__ADS_1
"yah udah, tapi jangan melakukan aktivitas yang berat"
"okey" spontan Anggi yang langsung menurut
Seperginya Rama, Anggi langsung menelpon sahabatnya Dara, ingin menyuruhnya datang Kerumahnya jika pulang kuliah.
"Ra" panggil Anggil di balik ponselnya
"hmm, ada apa"
"pulang kampus mampir kerumah yah, bosan nih"
"keluar aja, entar aku jemput"
"kamu tau sendiri kan, Rama ngelarang aku keluar tanpa se izin dia"
"lain kali aja deh"
"oh gitu yah sama aku, karena udah ada kak Vino jadi udah lupain aku"
" bukan gitu Gi, tapi aku malas aja nongkrong di rumah kamu, ngga bebas gitu"
"lagian cuman aku dan bibi aja kok dirumah"
"hmm, yah udah deh"
"gitu dong, ehh kalau kesini jangan lupa bawain aku makanan yah"
"mau makan apa?, aku beliin demi calon ponakan aku"
"terserah kamu aja, kamu tau selera aku kayak gimana"
"baik lah"
...--------------------------...
Sudah seminggu sejak kejadian dia mengikuti Anggi, tapi tetap saja dia masih memikirkannya, siapa lelaki itu dan Rumah itu apa mereka tinggal bersama. Lalu apa hubungan mereka.
Tok tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat lamunannya buyar.
"masuk" singkatnya
"maaf Pak, Ada yang ingin bertemu dengan Anda" ucap sekretaris lelaki itu
"sudah ku bilang kosongkan jadwalku hari ini aku tidak ingin menemui siapapun" tegasnya
"tapi orangnya sudah ada di depan pak"
"yah sudah suruh dia masuk"
"baik pak"
"silahkan masuk Nona" ujar sekertaris ke wanita yang sudah ingin menyelonong masuk ke Ruangan CEO
Saat masuk ke ruangan itu pandangannya tertuju ke wajah tampan itu, betapa beruntungnya wanita yang akan memilikinya. Tapi sayang sifatnya sangat cuek, dingin tak tersentuh, punya pacar saja katanya dia tidak pernah.
"hai" sapa nona cantik dan modis itu
"Mama kamu menyuruh ku datang kemari, membawakan makanan untukmu" ucapnya lagi
"aku simpan dimana?" tanyanya lagi
__ADS_1
Karena tidak ada balasan dari semua perkataan yang di keluarkan barusan, dia berinisiatif sendiri untuk duduk di sebuah sofa panjang yang letaknya dekat dengan jendela kaca.
Sesekali dia menengok ke arah lelaki itu, namun keberadaannya seperti tidak dianggap
Sama sekali
"Yudha" panggil nona itu
Yudha hanya mendongkakkan kepalanya mencari asal suara yang baru saja memanggil namanya, kemudian fokus ke depan komputer lagi
Merasa di cuekin oleh Yudha, dia menghampirinya.
"Apa kau pura-pura tidak melihatku" kesalnya
"tidak" singkat Yudha
"lalu kenapa tidak menjawab pertanyaanku"
"apa?"
"jadi kau memang tidak mendengarku"
"jangan sok akrab padaku" tegasnya
"kamu sangat keterlaluan Yudha"
"tidak suka, keluar" ucapnya datar seraya mengarahkan dagunya ke pintu menyuruhnya keluar ruangannya
Nona itu berjalan keluar ruangan dengan perasaan kesal, liat saja kamu akan tunduk padaku, batin Nona itu yang bernama Viona.
Wanita yang sekarang ini ingin di jodohkan oleh orang tuanya, bahkan Wanita itu adalah 10 dari beberapa wanita yang tidak tahan dengan sikap Yudha.
Yudaha berharap kali ini Wanita itu tidak akan kembali lagi.
Dering telponnya berbunyi, dengan menebak itu pasti Mamanya, karena mungkin Wanita itu sudah melaporkannya
"iya Mah"
Lalu ponselnya dia letakkan di atas meja, dia yakin untuk kesekian kalinya Mamanya akan berceramah lagi yang tiada habisnya
"kamu kenapa selalu saja bersifat seperti pada wanita"
"kalau kamu seperti itu kapan kamu akan menikah, mengenalkan wanita saja pada Mama tidak pernah"
"Yudha kamu dengar Mama ngga sih"
"pokoknya kali ini, kamu harus kenalan sama Viona, Mama suka sama gadis itu"
Karena dirasa Mamanya tidak berbicara lagi, Yudha mengambil ponselnya kembali, ternyata masih tersambung
"sudah" singkat Yudha
"sama Mama aja kamu cueknya bukan main, Ingat Mama ngga mau kamu nolak wanita pilihan Mama"
"Yudha akan cari sendiri yang tepat untuk bisa mendampingi Yudha, bukan karena paksaan dari Mama"
"baik lah, kalau begitu bawa wanita pilihan kamu dalam sebulan ke rumah mama mau liat, jika kamu tidak membawanya siap- siap aja Viona akan jadi Istri kamu" ancam Mama Yudha
"tapi Mah" tawar Yudha
"kenapa, Mama sudah kasi kamu penawaran, kita liat saja bagaimana cara kamu dapat wanita dalam sebulan"
Yudha menghembuskan nafasnya kasar, dari mana dia dapat wanita yang bisa jadi istrinya, dekat saja hanya beberapa orang.
__ADS_1
Saat ini Yudha sangat frustasi karena desakan dari orang tuanya.
Bersambung...