
Sebulan berlalu Setelah kejadian itu yang membuat Anggi tau bahwa dia punya saudara kembar
Anggi pun sudah menghubungi orang tuanya di Paris, dan memang benar ternyata dia hanya di adopsi, kenangan saat kecil pun terulang kembali di memori otaknya.
Walaupun seperti itu orangtuanya tidak mempermasalahkan jika Anggi bertemu dengan keluarga aslinya, tentu saja Anggi tetap menjadi bagian dari keluarganya, mengingat saat kecil mereka lah yang merawatnya.
Saat ini Rama tengah menjalani masa magangnya di perusahaan Papanya.
Rama sengaja magang disana agar lebih mudah jika setelah lulus nanti dia bisa langsung menggantikan jabatan Papanya sebagai CEO.
Selama seminggu terakhir ini Rama belum pulang kerumah karena sibuk mengurus proyek yang sedang dia tangani, dia harus keluar kota untuk meninjaunya langsung.
Terlebih lagi, papanya menyuruhnya untuk menghandle semua pekerjaan kantor.
"sudah seminggu Rama tidak menghubungiku, sesibuk itukah sampai lupa memberi ku kabar" pikir Anggi
"lebih baik aku coba telepon dia saja, mungkin dia tidak sibuk"
Tutt... Tutt..
"halo" seorang wanita mengangkat telepon Rama
"iya halo, Bisa bicara dengan Rama" ucap Anggi
Bertanya tanya
"Rama sedang mandi, ada perlu apa yah nanti aku sampaikan"
Anggi mengerutkan keningnya, siapa wanita ini, apalagi dia bilang Rama sedang mandi, maksudnya apa, dia dimana sih
"kalau boleh tau anda dengan siapa yah" tanya Anggi
"oh aku.. " ucapnya tertahan saat Rama berbicara
"siapa" ucap Rama keluar dari kamar mandi
panggilan masih tersambung
"itu suara Rama" jadi benar dia sedang bersama wanita lain dalam satu kamar
Anggi mulai meneteskan airmatanya, merasa kecewa dengan Rama, pikirannya sudah menerawang tak kuasa menahan rasa sakit didadanya
"oh maaf aku mengangkat telponmu, siapa tau penting jadi aku angkat"
"kenapa kamu angkat" bentak Rama
Rama merebut ponselnya kasar, lalu melihat ponsel nya, ternyata panggilan telepon Anggi masih tersambung.
"halo"
Tidak ada jawaban dari Anggi
"Anggi, kau masih mendengar ku kan"
Anggi memutus panggilan telepon.
"ahhh" teriak Rama frustasi
"kau tau aku sengaja tidak ingin menelpon nya karena ingin memberinya surprise" kata Rama ke Nada
__ADS_1
Wanita itu namanya Nada, sahabat kecil Rama yang baru bertemu kebetulan dia dan Rama mengurus proyek yang sama dengannya
"maaf" ucap Nada menyesal
"lalu apa yang kamu lakukan dikamar ku" cuek Rama
"aku cuma mau mengambil berkas yang Ayah suruh"
Rama membuang nafasnya kasar
"Anggi pasti sudah berpikiran yang tidak tidak tentangku"
"aku minta maaf Rama, aku tidak bermaksud seperti itu"
"lalu apa saja yang kamu katakan tadi"
"aku hanya bilang kau sedang mandi"
Rama tambah frustasi mendengar ucapan Nada, kemudian menghembuskan nafas kasar untuk kedua kalinya
"yah sudah, kenapa tidak keluar dari kamarku"
"aku belum mengambil berkasnya"
"ini, sana keluar"
"Rama aku sudah minta maaf, kenapa kau sangat kasar padaku"
"tinggalkan aku sendiri, mood ku sedang tidak baik" ucapnya
Setelah Nada keluar, Rama langsung menghubungi Anggi.
"Anggi ku mohon angkat telponku" gumamnya
"kenapa kamarnya tidak aku kunci tadi" sesal Rama atas keteledorannya sendiri
Rama mengirim pesan ke Anggi, tapi belum ada pesan yang Anggi baca satupun dari beberapa pesannya
Saat ini Anggi hanya duduk termenung menatap ponselnya.
Dia tidak ingin menjawab telepon dari Rama, dia tidak berani menerima kenyataan jika Rama benar benar selingkuh dibelakangnya. Mengingat seminggu ini dia tidak pernah menghubunginya.
Tidak ada jawaban dari Anggi, Rama sudah frustasi, dia tidak bisa kehilangan cintanya begitu saja hanya karena kesalahpahaman saja.
Saat itu juga Rama memutuskan untuk kembali ke jakarta agar bisa menjelaskan langsung ke Anggi.
Saat keluar dari kamar hotelnya, Nada melihat Rama sedang menarik kopernya tergesa gesa
"Rama mau kemana" tanya Nada
"aku mau kembali ke jakarta"
"besok kita ada rapat penting"
"aku tidak peduli sama rapat itu, kamu bisa mengurusnya tanpa aku"
"tenangkan pikiranmu, aku akan membantu mu menjelaskannya"
"Kenapa Rama begitu peduli dengan wanita itu, memangnya wanita itu siapa" gumam Nada
__ADS_1
"Tapi Anggi, dia tidak menjawab panggilanku"
"lebih baik selesaikan urusanmu dulu disini, aku tidak bisa mengurusnya sendiri apalagi proyek ini sangat penting bagi perusahaan kita, setelah selesai Rapat kita langsung kembali ke Jakarta, lagi pula tinggal sehari Rama"
"kenapa tidak mengirimkan pesan saja, lalu kau jelaskan semuanya" lanjut Nada
"tanpa kamu bilang aku sudah melakukannya" ketus Rama
"kalau dia percaya padamu, dia mungkin tidak akan berpikiran yang macam macam, apalagi kamu sudah memberi tahunya"
Rama menimbang- nimbang usulan Nada yang ada benarnya
Lagi pula papa nya pasti akan marah besar jika tau Rama tidak bisa mengurus pekerjaan disini.
"baiklah, tapi kamu harus janji padaku, akan membantu ku menjelaskannya"
"iya aku janji" ucap Nada meyakinkan
Mereka masuk ke kamarnya masing-masing,
"Rama kenapa kau sangat peduli dengannya, sedangkan aku sudah menunggumu bertahun tahun lamanya, aku bahkan rela tidak mendekati lelaki, karena kau yang memintaku untuk tidak mendekati lelaki selain kamu" pikir Nada
Di satu sisi Anggi mengambil Ponselnya, membaca semua pesan yang di kirim Rama.
"kau pikir aku semudah itu percaya padamu, kamu dan Adik mu itu sama saja" tertawa sinis merutuki kebodohannya yang terlalu memercayai Rama
"kau tau Rama semuanya sudah aku berikan padamu, tapi semudah itu kau berpaling padaku" ucap Anggi sambil mengusap airmata di kedua pipinya kasar
Anggi mencari kunci mobilnya yang di simpan di laci, dia sudah tidak tahan lagi membendung airmatanya, dadanya sesak mengingat suara wanita itu.
Segera Anggi menuju garasi mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, Anggi membelah jalanan ibu kota tanpa tau dimana tujuannya, pikirannya benar benar tidak terkontrol saat ini.
Mobilnya terparkir di sebuah tempat makam, Anggi berjalan di gelapan mengalahkan rasa traumanya, saat menemukan makam orang tuanya dia melihat ada sebuah buket bunga yang masih baru, entah siapa yang baru saja datang mengunjungi makam ini
" Mama Papa, maafkan Anggi baru tau kalau Kalian adalah orang tua ku, maafkan Anggi juga karena melupakan kalian selama ini, Anggi baru datang mengunjungi kalian"
Airmata Anggi tak henti hentinya menetes, sesak di dadanya semakin memuncak, menahan isakannya saja dia sudah tidak sanggup.
Anggi memukul mukul dadanya berharap dapat meredakan sesaknya. Tiba tiba dia mendengar sebuah isakan lain dari belakang tubuhnya.
Segera Anggi berbalik kemudian mendapati Anggun yang sedang duduk menatap sebuah makam.
"Anggun, sedang apa kau di tengah malam begini"
Anggun menatap Anggi menahan tawa, namun mengeluarkan airmatanya bersamaan.
"kamu kenapa"
"kau salah makam Anggi, itu bukan makam orang tua kita, saat bersamaan aku juga sedih mendengar mu mengucapkan kalimatmu barusan"
Anggi melongo "lalu apa yang kamu lakukan disini"
"aku rindu sama mama dan papa" ucap Anggun berlinang air mata
Anggi hanya terdiam
"lalu apa yang membuatmu datang di tengah malam begini"
"sama sepertimu" bohong Anggi
__ADS_1
Bersambung...