Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Kecurigaan


__ADS_3

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Sekertaris itu mengatakan bahwa Tidak ada jadwal pertemuan dengan klien di luar kota


"bohong" batin Anggi


"maaf mba, apa boleh saya tau anda siapa yah?" tanya Sekertaris perempuan itu


"aku hanya teman bisnisnya saja" sahut Anggi


"apa boleh aku melihat jadwalnya pak Rama, siapa tau aku mau bertemu dengannya tapi malah seperti ini tidak bisa bertemu" kata Anggi


"tentu saja, ini mba" sahutnya menyodorkan map yang berisi beberapa jadwal kegiatan Rama.


Rahangnya mengeras menunjukkan emosi yang tertahan, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Selama setahun terakhir ini dia kemana, tidak ada jadwal keluar kota atau pun meeting di kantor yang harus membuatnya kerja sampai lembur.


"mba" panggil Sekertaris itu mengusik lamunan Anggi


"ohh terima kasih yah" Ucap Anggi sadar dari lamunannya


Anggi berjalan meninggalkan Sekertaris itu, kemudian beralih ke ruangan Dion. Mungkin Dion ada diruangannya.


Kebetulan Dion memang ada diruangannya,terlihat beberapa tumpukan kertas di depannya, saat ini dia sedang memeriksa beberapa file.


Tok tok


"boleh aku masuk"


Dion mendongkakkan kepala, setelah melihat Anggi, Dion sedikit panik dan terlihat gelagapan.


"Anggi, tentu saja ayo masuk"


"aku tidak mengganggu kerjaan Kak Dion kan"


"ngga kok, hanya memeriksa kembali saja"


"ada apa kamu kemari, biasanya juga malas datang ke kantor"


"memangnya ngga boleh yah aku sesekali datang kesini"


"tentu saja boleh, ngga ada yang ngelarang"


"kamu mau ketemu sama Rama yah" tebak Dion


Anggi hanya tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi mendengar ucapan Dion, seperti sedang memaksakan senyumnya itu yang Dion bisa tangkap


"sayang banget, Ramanya lagi keluar kota, mungkin sekitar seminggu dia akan pulang"


"kamu bohong sama aku karena Rama yang suruh untuk mengatakan ini sama aku atau kamu memang ngga tau apa-apa" pikir Anggi


Saat ini Anggi merasa dilema harus mempercayai siapa, jelas-jelas Anggi sudah melihat jadwal kegiatan Rama, tidak mungkin itu salah


"oh gitu yah"

__ADS_1


"memangnya dia ngga pulang, padahal dia mau mengatakan padamu, sekalian mengambil pakaian nya untuk dibawa seminggu ini"


"oh jadi dia emang benar pergi yah, aku pikir dia itu marah sama aku tadi soalnya gelagatnya kayak mau pergi dari rumah gitu" ucap Anggi sedikit bercanda,nyatanya dia tau Rama bohong tidak ada jadwal keluar kota hari ini


"Anggi" panggil Dion


"hmm, ada apa"


"muka kamu pucet banget, kamu sakit yah"


"aku baik-baik aja, kalau begitu aku pulang dulu yah, seperti kamu masih banyak kerjaan" ucap Anggi berlalu meninggalkan Dion di ruangannya yang masih menatap Anggi lekat merasa bersalah atas kebohongannya


Berbicara tentang Nada, dia sudah tidak kerja di kantor Rama lebih tepatnya setelah kejadian pengakuannya keesokannya dia sudah pergi menyusul orang tuanya di luar negeri. Baginya tidak ada gunanya dia tinggal di kota ini jika alasan awal untuk dia menetap disini hanya untuk Rama.


Sepulang Anggi dari kantor Rama, dia langsung melesat pergi entah kemana arah mobil membawa dirinya hanya Anggi yang tau


Bunyi dering telpon menyadarkan fokusnya dijalan. Segera ia meraih ponselnya menampilkan Dara yang sedang menelponnya.


"kamu dimana Gi?" tanya Dara


"lagi di jalan, kenapa? " jawab Anggi


"kamu bisa kesini ngga, ada yang mau aku bicarakan, penting!!! " seru Dara


"yah udah, kirim alamat kamu, aku kesana sekarang" balas Anggi


Setelah mendapat pesan singkat dari Dara, Anggi langsung melesatkan mobilnya membelah keramaian menuju tempat tujuan


Setibanya disana, tentu saja Dara dan seorang pria yang sudah berada disana duduk berdampingan. Ketika melihat Anggi yang baru masuk, Dara melambaikan tangan memberikan isyarat dimana posisinya sekarang


"Ada apa manggil aku" ujar Anggi


Anggi melirik seseorang dekat Dara dan itu Ardan yang memasang wajah kesalnya.


"Ardan, kamu juga disini" tanya Anggi


"hmm" gumam Ardan


"dari mana aja kamu, selama ini ngga ada kabar"


"Jerman" cuek Ardan


"kamu ketularan penyakitnya Yudha yah, irit banget" sahut Dara


Anggi hanya cekikikan melihat tingkah Ardan.


"kapan kamu pulang?" tanya Anggi lagi


"sebulan yang lalu"


"ihh, bisa ngga sih kamu kayak dulu aja, aku sebal kalau sikap kamu seperti ini"

__ADS_1


"ngga usah peduliin dia, sepertinya dia masih kesal karena dia ketahuan sama aku"


"emangnya dia kenapa?" penasaran Anggi


"Dia.. "


"ehem ehemm" dehaman Ardan spontan membuat Dara menghentikan kalimatnya


"dia kenapa, kalian itu aneh deh" ucap Anggi seraya mengeryitkan keningnya bingung penuh kecurigaan


Dua jam lalu, Ardan tengah menerima telpon dari orang suruhannya, karena tidak percaya dengan perkataannya Ardan beriinisiatif sendiri membuktikannya


Sesampai disana, dia menyaksikan kejadian yang membuatnya tidak bisa berkata-kata. Dia bahkan sudah memberikan pelajaran pada lelaki itu, sebelum dia meninggalkan rumah sakit 3 tahun yang lalu, tapi kenapa lelaki itu tidak jera juga malah mengulang kesalahannya


Dengan dongkol dia ingin masuk ke halaman rumah itu yang tepatnya sepasang lawan jenis tengah bermanja dengan candaan yang membuatnya tertawa lepas seakan tidak merasa bersalah di sebuah bangku taman rumahnya


Ketika Ardan ingin melangkah masuk, langkahnya tiba-tiba dicekal oleh Seorang gadis yang sangat ia kenal yaitu Dara. Dara mencekalnya masuk agar tidak berbuat keributan dan bahkan malah merusak rencananya


Dengan perasaan kesal, Ardan uring-uringan tidak ingin mengajak Dara berbicara.


Berakhirlah dia sekarang di tarik paksa oleh Dara ke sebuah kafe agar bisa mendinginkan emosinya.


"jangan-jangan kalian ini ada hubungan spesial yah" selidik Anggi


"bukan aku yang ada hubungan spesial tapi suami kamu" batin Dara


"ngga mungkin lah, walaupun aku ini sekarang jomblo, aku juga pilih-pilih lah" ucap Dara tidak menerima tuduhan Anggi


"mending kalian jadian aja deh, cocok banget serasi menurut aku" ledek Anggi


"aku menyukai seseorang, tapi bukan dia" tunjuk Ardan


Dara hanya memutar matanya malas, aku juga tidak suka denganmu.


"kalian itu lucu deh, kadang benci itu bisa jadi cinta loh"


"benci yah benci, cinta yah cinta, dan terkadang cinta bisa jadi benci bukan hanya benci jadi cinta Gi" tambah Dara menimpali perkataan Anggi


"berlaku buat kamu juga" sahut Ardan kali ini


"iya iya aku tau kok perasaan itu bisa berubah kapan saja"


"nah itu kamu tau" spontan Ardan


"Ra, katanya mau ngomong sama aku penting"


"sebenarnya aku ngga yakin kamu akan percaya dengan apa yang aku katakan, tapi aku sudah cukup bersabar untuk menahan diriku untuk memberi tahumu, karena aku takut kamu akan marah padaku jika mengatakan ini tanpa sebuah bukti"


Dara dan Ardan sudah merundingkan kesepakatan jika ingin memberi tahu Anggi sebenarnya tentang suaminya itu, ditambah bukti yang mereka pegang, tidak mungkin Anggi masih tidak percaya dengan apa yang mereka akan tunjukkan nanti


"Gi" Panggil Dara

__ADS_1


"yah udah kamu bilang aja" Ucap Anggi yang sedikit was-was maksud ucapan Dara itu apa, raut wajah mereka terlihat sangat serius tidak seperti biasanya, apa sebenarnya yang akan mereka katakan


Bersambung...


__ADS_2