
"kenapa Rama lama sekali" tanya Anggi ke Dion
"ngga tau, biar aku susul"
"yah udah"
Dion melangkah meninggalkan dua wanita itu kemudian berjalan menuju toilet, samar-samar Dion mendengar Rama berbicara sendiri yang Dion yakini dia sedang berbicara di telpon.
"anak itu sedang menelpon rupanya"
"kamu tenang yah, aku kesana kalau begitu" ujar Rama pada lawan bicaranya di telpon
"hey, Anggi mencari mu, kenapa kamu begitu lama di toilet" tegur Dion tiba-tiba membuka pintu toilet
"aku sedang menelpon" ucap Rama setelah selesai menutup panggilan telponnya
"memangnya siapa yang menelpon"
"Nada" ungkap Rama
"dia kenapa? " Tanya Dion
"aku juga tidak mengerti, sepertinya dia sangat frustrasi bahkan asistennya tidak bisa membuatnya tenang"
"Ingat yah jangan beri tahu Anggi" tambah Rama
Disisi lain, Anggi mengkhawatirkan Rama apa dia sakit perut, kenapa dia lama sekali akhirnya Anggi memutuskan untuk membayar tagihan makanannya sekalian menghampiri Rama dan Dion
"Ra aku mau bayar dulu yah" ucap Anggi
"baiklah" balasnya
Setelah sampai di meja kasir ingin membayarnya, tetapi kata Kasirnya Sudah dibayar oleh Pak Yudha tadi, sentak Anggi geleng-geleng kepala, Anggi baru ingat kafe ini kan miliknya
"terima kasih yah mbak"
"oh iya toiletnya sebelah mana yah"
"mba lurus aja lalu belok sebelah kiri"
Anggi berjalan menuju toilet, sesampainya Anggi mendengar pembicaraan Rama dan Dion, betapa kagetnya Anggi setelah tau ternyata Rama menelpon dengan Nada, tapi apa maksudnya melarang memberitahuku
Setelah mendengar langkah kaki mereka yang ingin keluar toilet, Anggi bergegas masuk ke toilet wanita, untung saja letaknya berdampingan dengan toilet Pria jadi Anggi tidak ketahuan jika sedang menguping pembicaraan antara Rama dan Dion
"kenapa kamu menyembunyikannya dari Anggi"
"aku ngga mau dia banyak pikiran, terlebih lagi dia sedang hamil, emosinya belum stabil dia orangnya sangat cemburuan". Jelas Rama
"walaupun seperti itu kamu harus memberi tahunya agar dia tidak salah paham"
"lebih baik dia tidak tau"
"terserah kamu saja" pasrah Dion
__ADS_1
Sekembalinya Rama dan Dion ke toilet, Rama tidak menemukan adanya Anggi disana hanya Dara yang sedang sibuk memainkan ponselnya
"Anggi mana? " tanya Rama
"ke kasir" jawab Dara yang masih sibuk dengan ponselnya
"oh iya kalau Anggi kembali, bilang yah aku duluan mau ke kantor ada urusan mendadak"
"ngga mau pamit dulu dengan Anggi"
"bagaimana yah, tapi orang kantor tadi nelpon katanya ada yang harus aku tanda tangan segera"
"oh gitu, yah udah entar aku sampaiin"
Didalam toilet Anggi sibuk dengan pikirannya, matanya mulai berkaca-kaca sekali kedip saja air matanya akan menetes.
Anggi menahan rasa sedih itu, menghapus pikiran negatif tentangnya, pasti Rama punya alasan mengapa ingin merahasiakannya.
Segera Anggi keluar toilet setelah perasaannya kembali normal, keningnya mengeryit heran tidak menemukan seorang pun disana.
"mba, orang yang duduk disini kemana yah" tanya Anggi ke salah satu pelayan kafe
"wanita yang duduk tadi memberi tahu kalau dia pulang duluan soalnya Mamanya masuk rumah sakit"
"gitu yah, trus 2 lelaki yang duduk disini juga kemana"
"tadi udah pulang duluan" kata Pelayan itu
Anggi berjalan keluar kafe, segera menelpon sopir pribadinya untuk menjemputnya tepat di depan kafe.
"jemput aku di kafe, tepat di depan perusahaan Rama" kata Anggi di seberang sana yang sudah di angkat oleh sopirnya
"baik, saya segera kesana"
Perasaannya benar-benar kalut sekarang, kenapa semua orang meninggalkannya dengan semua urusan mereka masing-masing.
Tidak perlu waktu lama menunggu sopirnya datang, Anggi melihat dari kejauhan mobil yang akan menjemputnya. Dengan langkah ringan Anggi bergerak berjalan agar Sopirnya tidak akan susah berbelok arah lagi
tapi naas nya tiba-tiba ada pengendara motor yang ugal-ugalan melaju dengan kecepatan tinggi kearah Anggi. Dalam hitungan detik
Brukkkk
Pengendara motor itu menghantam tubuh Anggi. Bahkan tubuhnya sempat melayang ke udara lalu terhempas jatuh membentur badan jalan.
"Nyonya" teriak sopir Anggi setelah menyaksikan kejadian yang mengenaskan menimpa majikannya tepat di depan matanya
Anggi terbaring merasakan kepala dan badannya tak bisa digerakkan lagi karena lemah, darah segar mengalir di pelipisnya tanpa henti.
Anggi merasakan kesakitan disekujur tubuhnya, tapi bagian perutnya begitu menyakitkan, tak henti-hentinya dia meremas bagian perutnya.
"ku mohon bertahanlah sayang" batin Anggi
Selang beberapa menit penglihatannya mulai gelap dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Dengan secepat kilat Ambulance dan aparat polisi datang kelokasi kejadian untuk menangani kasus kecelakaan itu.
Anggi segera di bawa ke rumah sakit terdekat untuk memberikan penanganan.
Sopir Anggi tak hentinya menelpon Rama tapi tidak ada jawaban dari sekian banyak telponnya yang masuk.
Disisi lain Rama tengah menenangkan Nada di ruangannya bersama Dion.
"kamu tenang yah, ada aku disini" ucap Rama seraya menepuk punggung Nada agar lebih tenang
Seketika Nada tenang dan memeluk erat tubuh Rama.
"Dion ambilkan air" titah Rama
Dion memutar matanya malas, kenapa juga harus dia yang disuruh.
"baiklah, tunggi sebentar tuan" ujar Dion
Beberapa karyawan sedang membicarakan kejadian diluar setelah mereka kembali dari makan siang, bahwa ada kecelakaan diluar sana. Tapi dia tidak begitu jelas melihat korban karena begitu banyak orang yang berkerumun.
Dion hanya mendengar seperti angin lalu, tidak memedulikan perkataan mereka, beban hidupnya sudah berat tidak ingin menambahnya lagi, rasa kasihan dirasakan oleh Dion karena dia seorang Dokter, jiwanya pasti ingin tau bagaimana kondisi orang kecelakaan tersebut.
Dion kembali membawa Segelas air dari dapur kantor, dan betapa kagetnya Dion setelah melihat dua orang yang berlawan jenis itu sedang berciuman.
"astaga, kalian sedang apa" tegur Dion
Seketika Rama kaget lalu berdiri secepat mungkin seperti orang yang sedang ketahuan selingkuh
"Nada, kau sudah gila"
"kenapa kau menciumku" bentak Rama
"tidak seperti yang kamu liat Dion" ungkap Rama ke Dion
"iya aku sudah gila, dan itu semua karena kamu, aku tergila gila denganmu, sampai aku tidak senang saat Anggi datang ke kantormu lalu mengakui dirinya bahwa dia itu istrimu, kau tau hati ku sangat panas mendengarnya" teriak Nada seraya mengacak rambutnya frustrasi
"kau memang sudah gila, sudah ku katakan aku mencintai Anggi, kenapa kamu masih terlalu berharap padaku"
"aku tidak peduli kau mencintai Anggi, yang penting kau menjadi milikku Rama"
"kau tidak bisa memaksakan perasaan seseorang Nada, seharusnya kau mencari orang yang cinta denganmu pula"
"aku hanya cinta denganmu, dan aku yakin kau bisa cinta denganku juga karena aku lebih baik di banding Anggi"
"sepertinya kau memang sudah tidak waras, apa tadi kamu bilang Anggi datang ke kantor ku, tapi kenapa tidak memberi tahuku"
Rama segera pergi dari ruangan Nada dan memilih keruangannya, Dion hanya mengikuti langkah Rama di mana pun dia pergi.
Saat masuk ruangan, terdapat sebuket bunga yang telah memenuhi mejanya dan beberapa tumpukan berkas penting karena penasaran siapa pengirimnya Rama mengambil note yang terselip di beberapa helaian bunga.
"Anggi" gumam Rama setelah melihat nama pengirimnya
Bersambung..
__ADS_1