
"Ya ampun siapa sih pagi pagi begini sudah ganggu orang tidur aja"
Dengan langkah yang sedikit susah karena perutnya yang buncit. dia berjalan secara perlahan menuruni anak tangga satu persatu.
Wajah bangun tidurnya berubah jadi emosi karena sang empu yang menekan bel rumah begitu tidak sabaran, tidak biasanya ada orang yang datang ke rumah ini kecuali Dion. Tapi Dion tidak pernah datang jika tidak di panggil dulu.
Pintu bercat putih itu pun terbuka sedikit lebar menampilkan wajah cantik namun terlihat sedikit pucat.
Yang membuka pintu pun sempat panik dan kaget dengan kedatangan orang yang tidak disangkanya
Selama ini dia tidak pernah bertemu dengannya begitupun dengan Anggi, ini adalah pertama kalinya Anggi melihat sosok wanita yang diyakini merebut suaminya.
" Aku ingin bertemu dengan Rama" Ucapnya terlihat tenang, namun ada perasaan sakit di lubuk hatinya, melihat penampakan wanita itu secara langsung
"Buat apa kamu bertemu dengannya"
"Itu hak aku mau bertemu dengan siapa, lagi pula aku cuman mau bertemu dengannya bukan denganmu"
"Rama masih tidur, dia capek semalam main sama aku"
Anggi memutar matanya malas, ada sedikit rasa panas yang menjalar di setiap aliran darahnya, namun dia tetap tenang menanggapi ucapan wanita ular didepannya ini. Baginya saat ini hanya meminta penjelasan dari Rama, terserah kamu mau melakukan apa, karena pikirnya Lelaki itu sudah membuatnya kecewa dan jatuh begitu dalam sejak melihat adegan yang tidak pantas dia liat.
"Panggil dia kesini, kalau dia ngga mau, aku yang akan menemuinya langsung" Gertak Anggi
"Sudah ku bilang dia masih tidur"
Anggi hanya tersenyum miring, tidak menanggapinya
"dasar wanita ******, perebut suami orang" Cibir Anggi lalu berlalu melewati Viona yang sedang melipat kedua tangannya.
Viona sempat kesal mendengar cibiran pedas dari mulut Anggi yang sangat menusuk hatinya.
Memang benar maksud awalnya dia ingin merebut suaminya, tapi setelah mereka menjalaninya Viona berubah menjadi sangat mencintainya setelah tau sifat Rama yang sangat menghormatinya dan bahkan selalu memberikan perhatian walaupun itu hal yang kecil, berbeda dengan Yudha yang hanya cuek padanya.
"Mau kemana kamu" Ucap Viona menahan langkah Anggi
__ADS_1
"Tentu saja mencarinya, aku tidak pernah main-main dengan ancaman ku" Bentak Anggi
Viona pikir Anggi adalah wanita yang lemah lembut, sopan dan sabar, makanya Yudha sangat menyukainya, namun dia salah, Wanita ini bisa berbuat nekat dan sangat keras kepala, bagaimana bisa banyak orang yang suka padanya.
Bahkan Rama sendiri selalu saja menyembunyikan identitasnya, dan selalu pergi jika malam hari dan akan datang jika sudah pagi, jika ditanya dari mana, dia akan bilang urusan kantor, padahal Viona tau Rama itu berbohong padanya, namun Viona tidak mempermasalahkan itu, tapi saat Kehamilannya sudah menginjak 7 bulanan, Viona seakan tidak ingin melepaskan Rama darinya.
Anggi bersih keras menaiki tangga namun Viona selalu saja mencekal nya, bahkan tangan Anggi sudah menghempas leraian tangan Viona, namun hal yang tidak diinginkan Viona sedikit terhempas dan hampir terjatuh di tangga pertama.
"Sudah ku bilang jangan halangi aku" Ucapnya berbalik menghadap Viona.
Dari ujung tangga paling atas Rama menyaksikan dua wanita yang sedang beradu mulut, namun dia begitu kaget saat melihat ada Anggi di sana dan yang paling membuatnya begitu kaget ketika Mereka saling mencekal sentak Rama langsung menghampiri mereka karena hampir saja Viona terjatuh akibat dorongan dari Anggi.
"Kamu tidak apa-apa kan" Ucap Rama lembut lalu menatap Anggi tajam
"Apa kau tidak sadar, hampir saja kau mencelakai nya" Bentak Rama
"Salah dia sendiri yang melarang ku menemui mu" Jawab Anggi menantang bentakan Rama
"Kau itu sudah salah tapi masih saja menyalahkan orang lain"
"Tentu saja, ini bukan wilayah mu, tapi kenapa kau berbuat seenaknya disini" ketus Rama
Anggi tersenyum miring, mendapat perkataan yang kurang mengenakkan.
"Kau benar, sepertinya aku orang lain di sini, sama diantara kita, kau menganggap ku orang asing dan terbukti caramu memperlakukanku"
"Kau memang sangat keras kepala, kamu bisa kan tidak berbuat ulah di rumah kami, ini masih pagi dan kau membuat orang sangat terganggu"
"Karena aku terlanjur mengganggu ketenangan kalian, aku hanya ingin tau apa hubungan kalian"
"Perkenalkan saya istrinya Rama Viona " sambil mengulurkan tangannya
Anggi melotot mendengar pengakuan wanita hamil didepannya itu
"Kamu jangan asal ngaku yah, bagaimana bisa kamu menikah tanpa persetujuanku dahulu "
__ADS_1
"Tentu sangat bisa, tanpa persetujuan mu, aku sudah lama memikirkan ini, karena alasannya kau tidak bisa memberikan ku keturunan, bagaimana pun kita berusaha sepertinya kau tidak ditakdirkan untuk memiliki anak, kau itu susah hamil"
Degg
Sakit, itu yang Anggi rasakan saat ini, perkataan Rama begitu menusuk bagai ditancapkan sebuah pisau belati di jantungnya, seakan detak jantungnya ingin berhenti berdetak.
"Jadi selama ini kau memang sengaja melakukannya, kenapa kau berbohong padaku selama ini"
"Karena aku tidak ingin melukai perasaanmu, jika kau tau kau pasti akan sangat terpuruk, seharusnya kau bersyukur karena aku masih punya hati nurani padamu selama ini"
Bukan lagi tatapan sedih karena terlihat sangat kasihan di mata Rama, tatapan itu berubah seperti tatapan ingin marah dan balas dendam
"Lalu kenapa kau selalu meminta padaku jika kau tau apa yang kita lakukan menurutmu hanya percuma sedangkan kau punya wanita lain "
"Anggi, kau jangan sok polos menanyakan ini padaku, kau lihat tubuh mu itu sangat menggoda, aku hanya menyalurkan hasrat ku yang selama ini selalu tertunda karena istriku sedang hamil, aku hanya takut menyakitinya"
"Jadi selama ini aku hanya sebagai pelampiasan mu"
Kini air matanya sudah mengalir begitu saja, tanpa diizinkan keluar, Anggi berpindah menatap wanita disamping Rama begitu tajam dari atas sampai bawah lalu tersenyum remeh
"Aku baru tau ternyata seleranya itu seorang ******, asalkan kau bisa memberinya anak, sepertinya kau itu hamil dari luar nikah kan makanya Rama menikahimu" Tuduh Anggi
Viona sudah tidak tahan dengan semua ucapan Anggi yang terlalu kasar, walau bagaimana pun juga dia itu wanita,mana ada wanita yang ingin disebut ******.
"Kau sangat keterlaluan" Ucap Viona yang maju selangkah untuk memberikan Anggi pelajaran.
Namun Anggi berhasil membalasnya kembali, karena Viona kurang seimbang perutnya yang besar, dia hampir jatuh untung saja Rama cepat menangkapnya
Tanpa segan Rama langsung memberikan satu tamparan keras dipipi kanan Anggi lalu mendapat tambahan dorongan cukup keras dari Viona yang masih sangat kesal, terlihat memar disudut bibir Anggi yang terdapat sedikit darah disana.
Rama sigap mencekal tangan Viona untuk tidak melakukannya lagi, setelah dia menampar Anggi dia baru sadar apa yang dilakukannya barusan sangat keterlaluan, tapi sudah terlambat tidak mungkin dia menyesalinya.
di ambang pintu rumah itu, semua perlakuan dan perkataan yang dilakukan Rama, Viona dan adu mulut Anggi tadi tertonton jelas oleh Yudha, Ardan dan Dara yang tidak sabar menyusul Anggi karena menunggunya begitu lama di luar. betapa kagetnya mereka melihat Rama tega menampar Anggi
"Astaga Gi, kau tidak apa-apa" khawatir Dara melihat Anggi yang sudah terduduk lemah.
__ADS_1
bersambung...