Jatuh Cinta Dengan Istriku

Jatuh Cinta Dengan Istriku
Mati Saja


__ADS_3

pikiran Anggi tidak hentinya berputar mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Aurel, Dia harus ngomong apa, berkata jujur di hadapan kakek, membuatnya takut apa lagi kakek sangat membenci Rama.


" Aunty kok melamun sih" ucap Aurel menyadarkan Anggi dari lamunannya


"oh dia bersama Om Dion, karena mereka selalu saja meminta untuk ikut bersamanya, makanya Aunty biarkan mereka saja"


"oh gitu"


"lebih baik kalian makan sini, berhenti mengobrol, berbicara tidak akan membuatmu kenyang" tegur Anggun


"iya iya"


"kakek senang keputusan mu untuk pulang kembali sangat tepat"


"tapi aku cuma.. " ucap pelan namun perkataan Anggi terpotong saat Anggun tiba- tiba menambahkan pembicaraannya


"aku tau kau belum bisa melupakan masa lalu mu, tapi kau harus belajar untuk menghadapinya, 6 tahun sudah waktunya untuk kau kembali seperti dulu lagi"


"bukannya aku belum bisa berdamai dengan masa lalu ku, aku sudah memaafkan semuanya, aku sudah memulai hidupku dengan kehadiran anak-anakku"


"lalu apa lagi yang membuatmu begitu lama untuk kembali" ucap Anggun


"tidak usah mengungkit yang sudah berlalu, sekarang Anggi sudah pulang lagi kan" kata Kakek


"tapi aku cuman ingin mengambil anakku lalu kembali lagi, bukan untuk menetap disini" batin Anggi


"Kakek akan menyuruh Sekertaris Lee, untuk mengurus perusahaan di sana"


"iya Kek" Pasrah Anggi sebenarnya dia tidak ingin menetap di Indonesia, tapi kenapa Kakek beranggapan seperti itu


"Anggi Kakek tau semuanya" batin Kakek


"Kakek, Anggi pergi dulu yah" ucap Anggi saat selesai menghabiskan sarapannya


"Hati-hati"


"baik kek"


Anggi melajukan mobilnya menuju rumahnya dulu, tidak peduli dia datang pagi ini, mungkin penghuni rumah itu masih tertidur, intinya dia hanya ingin menjemput anaknya.


walaupun saat ini perasaan Anggi bercampur aduk, entah apa yang akan dia katakan dengan Rama jika bertemu nanti, mungkin ini pertemuan pertamanya setelah sekian lamanya mereka berpisah


Tak perlu waktu lama, mobil Anggi sudah berada tepat di depan rumah nya dulu.

__ADS_1


Dengan mata yang sedikit berair, Anggi hanya menatap nanar rumah itu, rumah yang tidak pernah berubah setelah 6 tahun dia tinggalkan.


setiap kenangan terekam jelas di pikirannya, mulai dia menginjakkan kakinya pertama kali dirumah ini, setelah mengingat kembali kenangan itu, Anggi baru tersadar jika dia merindukan tempat ini, terbukti dengan Pipinya yang sudah basah karena genangan air mata yang mengalir deras.


sekali usap, Anggi menghapus jejak air matanya lalu menetralkan perasaannya, masa lalu tetap lah masa lalu


walaupun banyak kenangan di rumah ini yang membuatnya rindu tetap saja ada kenangan yang menyedihkan yang tidak pernah bisa hilang dan membekas di otaknya.


Anggi turun dari mobilnya lalu berjalan menuju pagar, harusnya dia bisa saja langsung masuk tanpa menyuruh penjaga membukakan pintu.


ini sudah 6 tahun mungkin saja penjaga rumah ini tidak mengenalinya, atau kah sudah berganti orang


"Permisi Pak" ucap Anggi sopan


"iya" balasnya


"bisa buka pagarnya, aku mau masuk"


"tapi maaf, saya tidak bisa membiarkan orang sembarang masuk dirumah ini"


"baiklah, heeh aku baru nyadar kalau memang aku ini sudah jadi orang lain dirumah ini" batin Anggi


"kalau begitu, beri tahu pemilik rumah ini, kalau ada seseorang yang ingin menjemput anaknya" titah Anggi


setelah menunggu beberapa menit, akhirnya penjaga membukakan pintu pagar dengan sangat lebar.


Anggi menghirup nafasnya dalam lalu mengeluarkannya kasar, baiklah aku akan menghadapi mu secara langsung


tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pintu itu sudah terbuka lebar, seakan penghuni rumah itu tau kalau akan ada tamu yang akan datang


Anggi menatap isi rumah nya dulu, betapa herannya dia bahkan letak hiasannya tidak ada yang berubah, padahal sudah bertahun tahun lamanya dia meninggalkan tempat ini, kenapa tidak ada yang merubah nya, apa mereka tidak bosan, bahkan foto yang berukuran besar dengan jelas menampakkan dua insan yang dulunya saling mencintai masih setia tergantung di tembok itu.


"kau sudah datang" suara khas yang hampir Anggi lupakan kini terdengar kembali di telinganya, membuatnya sontak berbalik menatap nanar sang empu


"dimana anak- anakku" balas Anggi tanpa basa-basi


"mereka masih tidur" ucap Rama santai, namun dia menyembunyikan rasa gugupnya


melihat penampilan Anggi yang banyak berubah, seakan terasa canggung untuk mengajaknya berbicara, terlihat dewasa jika Rama mendeskripsikannya.


"tunjukkan padaku di mana mereka"


"biarkan mereka tidur sebentar lagi, jangan membangunkannya"

__ADS_1


"dia anakku, aku tau bagaimana memperlakukan mereka"


"mereka juga anakku Anggi"


"siapa kamu, yang berani mengakui mereka kalau dia anakmu juga" tegas Anggi membantah ucapan Rama


"Mereka darah daging ku" balas Rama


"aku yang melahirkannya, aku yang menjaganya, bahkan saat dalam kandungan ku kau hampir membunuhnya, kau masih ingin mengakui nya sebagai anakmu, bahkan kau saja tidak menginginkannya, kau hanya menjadikanku sebagai pelampiasan mu saja, jika perlu aku ingatkan kembali" kesal Anggi yang tidak bisa menahan emosinya


"oke, waktu itu aku memang mengatakannya padamu, tapi semuanya hanya kebohongan, aku tidak tau jika waktu itu kamu hamil"


"kau menyesal sudah mengatakannya padaku" tanya Anggi


"aku sangat menyesal, dan ingin memperbaikinya"


"hmm, simpan rasa menyesal mu itu, karena tidak akan berpengaruh padaku"


"lalu apa yang harus aku lakukan sehingga kau memaafkan aku, aku benar-benar sangat menyesal"


"kau mau tau, hanya satu yang perlu kau lakukan, jangan menampakkan wajahmu lagi di hadapanku"


"aku tidak bisa melakukannya, aku sangat merindukanmu aku tidak bisa jika kau menyuruhku untuk menjauhimu, kecuali jika aku mati aku tidak bisa melihatmu lagi"


"kalau begitu kau mati saja" singkat Anggi bahkan tidak peduli dengan apa yang barusan dia katakan fokusnya hanya melihat beberapa pintu kamar yang tertutup


"jika kau menginginkannya, aku bisa saja melakukannya, karena aku tidak bisa hidup tanpamu, berjauhan dari mu sudah membuatku sangat frustasi apa lagi jika menyuruhku untuk tidak bertemu denganmu lagi, selama ini aku mencarimu seperti orang gila, disaat kau kembali mana mungkin aku dengan mudahnya untuk berhenti begitu saja" gumam Rama yang menunduk lesu


"beri tahu padaku dimana kau sembunyikan anakku" ucap Anggi seraya menarik kerah baju Rama


dengan sekali tarik, Rama memegang lengan Anggi cukup erat


"Katakan padaku sekali lagi, kau menginginkan aku mati"


"Iya, aku ingin kau merasakan sama seperti yang aku rasakan dulu"


"apa kau tidak tau bagaimana rasanya, hidup dalam kesepian dirumah ini, sakit disaat tau kau menduakan aku dan dengan gampangnya kau tidak peduli denganku lagi karena seorang anak yang sangat ingin kau miliki, kau tau bahkan aku bertahan diujung kematian tapi Tuhan tidak ingin mengambil nyawaku, kau tau aku ingin mati saat itu juga, tapi aku memikirkan anak-anakku, kejadian yang dulu tidak ingin aku ulangi, aku ingin mereka melihat dunia ini" kata Anggi yang airmatanya sudah tak bisa dia bendung lagi


"aku minta maaf, ku mohon maafkan aku, aku sangat egois tidak memikirkanmu" ucap Rama seraya berlutut di hadapan Anggi


"tidak semudah itu untuk bisa memaafkanmu, aku memang sudah berdamai dengan masa lalu ku, tapi luka yang kau goreskan tidak segampang Kau mengatakan maaf"


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2