
setelah kejadian Yudha melihat Viona bersama Rama, Yudha tidak tanggung-tanggung ingin membatalkan pernikahan mereka.
baginya satu kesalahan pasti akan dia akan melakukan kesalahan lainnya
"ikuti Viona dan Lelaki yang bersamanya di klub" titah Yudha dibalik teleponnya
sejam kemudian Viona datang dikantor Yudha, ingin meminta penjelasannya.
"Yudha, aku tau kau ada di dalam" ucapnya
"suruh dia keluar dari kantor ku" titah Yudha pada sekertaris nya
"dia tidak mau keluar pak"
"seret paksa saja, dasar tidak tau malu" kesal Yudha
"aku mau minta penjelasan padanya apa maksudnya tiba-tiba ingin membatalkan pernikahan kita disaat tinggal beberapa bulan lagi"
"lepaskan aku, aku mau bertemu dengannya"
"pak Yudha tidak mau bertemu dengan anda" ucap sekertaris Yudha
"baiklah kalau dia tidak mau bertemu dengan aku, tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada wanita yang kamu suka selama ini, kau pikir aku tidak tau hah kau masih sangat menyukainya makanya ingin membatalkan pernikahan kita"
Yudha mendengar semua perkataan Viona yang mengancam dirinya, sentak Yudha tersenyum miring dengan apa yang di ucapkan Viona
"jika kau berani menyentuh nya walau hanya sehelai rambut pun, aku tidak akan tinggal diam"
mulai saat itu juga, Yudha selalu menyempatkan dirinya untuk melihat keadaan Anggi walau hanya dari kejauhan, dia khawatir jika terjadi sesuatu pada Anggi hanya karena dirinya
namun Perkiraan Yudha selama ini salah, ternyata Viona bukan untuk mencelakai Anggi secara langsung namun ingin menyakiti perasaan Anggi secara perlahan dengan mendekati Rama.
Yudha baru menyadari saat orang suruhannya mengatakan jika Kedua orang itu sebenarnya sudah kenal lama, tapi baru bertemu kembali setelah tamat SMP.
jadi apa yang Yudha liat saat itu hanya salah paham, pelukan itu hanya sebuah sapaan seorang yang lama baru bertemu, namun nasi sudah jadi bubur, Viona sudah tersulut emosi seperti ingin membalas dendam namun targetnya dilimpahkan ke Anggi
"jika Aku tidak bisa memilikimu, maka jangan berharap kalau orang yang kamu suka bisa merasakan kebahagiaan, aku akan membuat mu sama sepertiku" pikir Viona
dengan informasi yang dia Terima dari orang kepercayaannya, awalnya dia sempat kaget karena Anggi ternyata sudah menikah, dan yang paling membuatnya sangat heran bahwa Suaminya Anggi itu Rama.
__ADS_1
sentak Viona tersenyum miring, karena menurutnya bukan sesuatu yang buruk jika dia merebut suaminya itu jatuh ke pelukannya terlebih Rama pernah menjadi cinta pertamanya
seperti kata pendapat orang diluar sana,akan sangat sulit melepas cinta pertama karena dari dialah kita bisa mengenal arti dari sebuah cinta. walaupun hanya permainan anak remaja waktu itu tapi kita akan sulit melupakannya
RAMA POV
setahun yang lalu, Rama merasa sangat tertekan selalu mendapat desakan dari mama nya yang terus-terusan meminta cucu darinya.
apa yang harus dia lakukan, kepalanya sangat pusing memikirkan cara agar mamanya berhenti meminta hal yang sangat sulit dia kabulkan, pasalnya Anggi istrinya tidak kunjung hamil.
tidak mungkin dia memberi tahu mamanya mengenai Anggi yang sulit memiliki anak, dan dia juga tidak bisa memberi tahu Anggi dengan kondisi dia sebenarnya
keajaiban, sampai kapan dia menunggu, bagikan 'menanti kucing bertanduk' begitu kata pribahasa
"seseorang yang hanya menghabiskan waktunya untuk menunggu hal yang sudah jelas tidak akan terjadi atau tidak mungkin"
selama ini Rama sudah mencoba berbagai hal tanpa sepengetahuan Anggi. pernah suatu waktu saat Anggi sedikit demam diam-diam Rama memberikan pil cepat hamil ke Anggi yang mengakuinya hanya obat biasa, namun tidak ada efek sama sekali
untuk melepas frustasinya Rama mengajak Dion ke klub malam, namun tidak menyentuh alkohol sedikit pun, pikirnya hanya cukup untuk bersenang-senang saja.
saat di klub malam, tanpa sengaja dia bertemu dengan Viona teman SMP nya dulu yang tak lain adalah cinta pertama nya, mereka berpisah begitu saja setelah saat pertemuan pertamanya di klub setelah beberapa tahun lamanya.
"Viona" sapa Rama kembali
"hay, apa kabar" ucapnya seraya refleks memeluk Rama
sentak Rama menegang karena perlakuan Viona yang tiba-tiba, mungkin dia senang karena baru bertemu Rama lagi setelah sekian lama.
"oh, aku baik, sepertinya kamu juga baik"
"yah tentu saja"
Panggilan dari Dion membuat Rama langsung menoleh, lalu meninggalkan Viona
"ehh aku pergi yah, dia sudah mau pulang " ucap Rama membuat alasan payah
"kau belum berubah, masih saja selalu mencari alasan yang tidak masuk akal, kau tau kau yang mau pulang kan"
"iya" singkat Rama menggaruk tengkuknya karena malu
__ADS_1
"yah sudah, sampai ketemu lagi" kata Viona berlalu menuju ruangan yang berisi teman-temannya.
seminggu kemudian Rama mencoba datang kembali namun kali ini dia datang sendiri karena pusing dengan desakan mamanya
dia memesan sebotol minuman yang beralkohol lalu langsung meneguk nya.
pengalaman pertamanya meminum alkohol, Rama sudah berpikir pantas saja orang menyukainya efeknya memang sangat membuat orang melayang bahkan seketika dapat melupakan masalah yang selama ini membuat nya frustasi.
seseorang wanita datang dari arah yang berlawanan berjalan sempoyongan kemudian duduk disamping Rama sepertinya wanita itu juga sedang sangat mabuk namun keduanya masih bisa mengimbangi dirinya
"kau menungguku disinia atau hanya kebetulan kita bertemu,apa ini yang namanya takdir" ucap wanita itu dengan senyum manisnya yang Rama kenal dengan sebutan Viona
Rama hanya menaikkan alisnya sebelah, lalu tersenyum miring setelah mendengar kata terakhir Viona yang mengatakan Takdir
" takdir itu bisa kita rencanakan dan kita kendalikan sendiri namun terkadang takdir juga bisa membuat rencana kita menjadi tidak sesuai yang kita inginkan" ucap Rama disela-sela tegukannya
"jika aku ingin takdirku bersamamu, apa kau bisa mengabulkan itu agar kita berdua ditakdirkan bersama" sahut Viona yang sudah mabuk berat sepertinya dia mengira yang dihadapannya itu adalah Yudha
sentak Rama sedikit bingung dengan maksud Perkataan Viona.
dengan berani Viona menggoda Rama dan menarik kerah kemejanya agar menatap dirinya
"aku bilang, kita di takdirkan untuk bersama dan tidak ada yang bisa merebutmu dariku" ucap Viona tepat di depan wajah Rama
mereka berdua saling menatap satu sama lain, seperti menginginkan satu sama lain saat itu juga. sentak Rama mematung saat benda kenyal itu mendarat tepat di bibirnya.
bukannya menolak atau membantah perlakuan Viona, malah Rama membalas ciuman Viona dengan agresif.
karena merasa tidak nyaman dengan kelakuan mereka yang berada di tempat umum, Rama menarik Viona menuju kamar yang memang sengaja disiapkan bagi Pengunjung yang ingin menginap.
dengan langkah lebar Rama membawa tubuh Viona di atas ranjang dengan mendorongnya secara kasar.
"jangan menyesal setelah ini karena kau sendiri yang menggodaku" ucap Rama tepat ditelinga Viona
"aku tidak pernah menyesali apa yang aku perbuat" balas Viona dengan mendekatkan bibirnya ditelinga Rama seraya mengecup nya sekilas
ucapan Viona sepersekian detik sukses membuat Rama menjadi tidak karuan atas perlakuan Viona yang begitu membuatnya tidak bisa berpikir jernih malam itu.
bersambung...
__ADS_1