Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 100


__ADS_3

Thalia terus memperhatikan rekaman dengan saksi yang ditunjukkannya. Tangannya perlahan mengepal menahan rasa.


Why do you do that! Batinnya geram.


Rahangnya mengeras, matanya terasa panas menahan sedih. Semuanya bercampur menjadi satu dalam hatinya.


David mengerutkan keningnya, ia sudah menduga Thalia mengenal salah satu saksinya. Thalia menghentikan video, "Aku rasa sudah cukup."


"Kenapa? Kamu baru lihat satu saksi, it's enough?" tanya David dengan heran.


"Aku lelah, itu aja. Bisa antar aku pulang sekarang. Kita lanjut besok,ok?" 


David menatap Thalia, ia kemudian menghela nafas panjang. Tanpa menjawab permintaan Thalia, David merapikan file yang berantakan di meja dan menutup laptopnya.


"Ayo, aku antar pulang."


Thalia masih diam, dan mengikuti langkah David keluar ruangan. Sepanjang jalan Thalia terdiam, pertanyaan demi pertanyaan menghiasi benak Thalia. Ia bingung apa yang harus di lakukan. Satu hal yang pasti, Sean berhutang penjelasan padanya.


"Besok aku jemput jam berapa?" tanya David saat membukakan pintu untuk Thalia.


"Sekitar jam 11 siang mungkin."


"Oke, sampai jumpa besok. Sampaikan salam ku untuk Sean." David berpamitan.


"Ok, hati-hati dijalan."


Thalia segera masuk ke dalam rumah, rupanya seseorang sudah menantinya di ruang tamu.


"Wah, rupanya sekarang banyak yang deketin kamu ya?!"


Thalia terkejut, "Rendy? Kamu ngapain disini, kalau Sean lihat kamu bisa …"


"Bisa menghajarku? Dia nggak ada dirumah kan?" Rendy menjawab dengan sinis.


Ia kemudian melanjutkan perkataannya, "Nggak ada yang bisa jagain kamu hari ini kan?"


Thalia berusaha menjaga jarak dengan Rendy. "Lebih baik kamu pulang sekarang, nggak baik dilihat tetangga."


Rendy mendekati Thalia, "Tetangga? Siapa yang peduli juga, its Jakarta babe!"


Thalia yang jengah dengan sikap Rendy memilih berlalu meninggalkan Rendy, "Terserah kamu aja, aku capek! Kamu tahu kan pintu keluar ada dimana?!"

__ADS_1


"Thalia!" Rendy menahan Thalia dengan menarik tangannya kasar.


"What are you doing Rendy?! Take my hands off!" Thalia menggertak Rendy.


(Apa yang kami lakukan?! Lepasin tanganku!)


"Nggak, sampai kamu mau dengerin penjelasan aku!" Rendy menatapnya tajam.


"Penjelasan? Penjelasan apa, nggak usah aneh-aneh deh! Kita sudah selesai lama Ren, kamu dan aku sudah punya kehidupan masing-masing! Apa lagi yang mau kamu jelasin?!"


"Aku mau kita rujuk!"


"Apa?! Gila kamu, otak kamu kemana!" Thalia berusaha melepaskan cengkeraman Rendy di tangannya.


"Aku cinta sama kamu, dan aku nyesel dengan keputusan itu." Rendy mulai mengendurkan cengkraman tangannya.


"Thalia, please kasih aku kesempatan kedua. Cuma kamu yang selama ini sabar banget hadapin aku. Aku janji nggak akan macam-macam lagi. Aku janji bakal jagain kamu, dan cuma kamu yang berhak ada di hati aku."


Thalia terdiam, ia hanya bisa menatap mantan suaminya yang kini memohon untuk kembali kepadanya. 


"Menyesal? Setelah nggak ada lagi wanita yang bisa kamu bohongi? Sepuluh tahun lebih hampir sebelas malah, saya sudah cukup menerima kelakuan kamu."


"Aku tahu, aku minta maaf untuk itu?! Aku benar-benar menyesal. Kamu mau kan maafin aku, please Thalia … i need you so much?!"


"Aku tahu, dan aku minta maaf untuk itu semua! Aku khilaf!"


"Khilaf? Sampai tahunan?! Come on kamu pikir aku anak kecil!"


"Thalia, tolong percaya aku! Aku masih cinta kamu, kita bisa mulai lagi dari awal kan?!"


Thalia diam dan menatap takjub pada Rendy, "Ren, get out of here I don't want to see your face again! Hubungan kita its over, no second chance again!"


(Ren, pergi dari sini, aku nggak mau lihat muka kamu lagi! Hubungan kita sudah berakhir, nggak ada kesempatan kedua!)


"Thalia …"


"Urus aja itu cewek-cewek kamu yang bener! Its over Ren … Our story is over and there is no happy ending on my story."


(Cerita kita sudah berakhir dan tidak ada akhir yang bahagia dalam ceritaku.)


Thalia segera berlalu meninggalkan Rendy, ia melepas paksa tangan Rendy. Hari yang melelahkan bagi Thalia. Tadinya ia berharap ingin segera beristirahat dan menunggu Sean datang. Tapi Thalia malah harus berhadapan dengan Rendy.

__ADS_1


Khilaf katanya … yang benar aja, dia nggak akan pernah bisa berubah!


...----------------...


Jam menunjukkan pukul sebelas malam, dan belum ada tanda-tanda Sean pulang.


"Kemana dia? Ponselnya juga nggak aktif, aku jadi khawatir begini?!"


Thalia mondar mandir menunggu Sean pulang. Rasa cemasnya mengalahkan rasa keingintahuannya tentang salah satu saksi yang ia kenal. Jam berdentang tepat pukul dua belas malam, Sean belum juga pulang. Firasatnya mengatakan sesuatu telah terjadi pada Sean.


"Sean, come on pick up the phone!" Thalia kesal.


Sebuah pesan masuk, its Erick.


"Are you ok?"


"No,I'm not!" Balas Thalia


"Kenapa?"


Thalia menceritakan kegelisahan hatinya pada Erick dan ia selalu menjadi pendengar yang baik. Berbicara dengannya membuat Thalia tenang. He healed Thalia's heart.


(Dia menyembuhkan hati Thalia.)


"Tidurlah … it will make you better."


"Maybe …"


"Jangan dipikirin nanti ngaruh ke badan."


"Can I hug you beb?" Thalia membutuhkan pelukan seseorang untuk menenangkan dirinya.


"Sure, come close babe."


Dan terjadi lagi, pelukan yang hanya dikisahkan dalam tulisan terasa nyata bagi mereka berdua. Thalia merasa nyaman berada dalam dekapan Erick, meski itu hanya ilusi yang diciptakan khodam mereka masing-masing.


"Tidurlah … sleep tight, night Beib." Erick menyematkan emoticon hati pada pesannya.


Ajaibnya setiap kali Erick berkata 'tidur' Thalia akan merasakan kantuk yang luar biasa, dan dalam hitungan menit ia langsung terlelap tidur.


Entah apa itu namanya, yang jelas ikatan itu benar-benar membuat mereka menyatu tak peduli jarak, waktu, bahkan perbedaan generasi keduanya.

__ADS_1


Does anyone experience the same thing as them in this world?!


(Apakah ada yang mengalami hal yang sama dengan mereka di dunia ini?)


__ADS_2