Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 40


__ADS_3

Thalia mencoba berkomunikasi dengan makhluk halus itu melalui pikirannya. Ia tidak mungkin terang terangan berbicara dengan sosok itu secara langsung.


Thalia tidak ingin Langit ketakutan. Ia pun meminta Langit untuk kembali menutup kaca jendela. 


"Pak Ujang berangkat aja duluan, nanti kami nyusul dari belakang!" kata Thalia pada Sopir Vina.


"Siap Bu dokter, tapi aman kan kalo kita jalan? Saya takut Bu dokter?!" tanya Pak Ujang


"Aman kok, udah jalan dulu aja kasian Langit sampai gemetaran gitu?!" perintah Thalia.


Pak Ujang menuruti permintaan Thalia dan segera pergi keluar dari area villa. Sean mendekati Thalia, ia khawatir padanya.


"Ada apa sama Langit?"


"Biasa, tuh diganggu dia!" jawab Thalia sambil menunjuk ke arah sosok wanita yang masih saja berdiri menatapnya.


"Cckk, udah jangan diajak bicara! Kita pergi sekarang, nanti magriban di jalan aja!"


Sean segera menarik tangan Thalia untuk pergi. Ia tidak ingin Thalia berinteraksi dengan sosok gaib lagi. Thalia menuruti keinginan Sean, ia pun masuk ke dalam mobil dan segera menyusul Langit.


"Aku nggak suka kamu selalu melibatkan diri sama yang nggak kasat mata Thalia! Itu nggak baik, badan kamu bisa sakit kalo terus terusan begitu!" kata Sean dengan nada sedikit tinggi.

__ADS_1


"Lho kan bukan aku yang minta Sean, mereka yang datang sendiri ke aku!" Thalia mencari pembenaran untuk dirinya.


"Ya kamu seharusnya diam saja, pura-pura aja nggak lihat mereka kan bisa! Mereka tahu kamu bisa lihat, nanti lama lama mereka manfaatin kamu, Thalia!" Sean tampak tidak senang Thalia mendebatnya.


"Oke fine, aku salah. Case closed!"


Ardi hanya diam, ia tidak ingin mencampuri urusan kakak beradik yang sedang bersitegang. Ia berusaha fokus mengendarai mobilnya. Thalia memilih diam dan tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Sean. 


"Eehm, boleh aku ngomong nggak?" Tanya Ardi.


"No!" Jawab Sean dan Thalia bersamaan.


"Oh, oke sori?!" Ardi pun memilih diam menunggu salah satu dari mereka bicara.


Thalia lega karena tidak harus mengurus anak seaktif Langit. Ia berharap Langit tetap tidur hingga mereka tiba di Jakarta. Ponsel Thalia berdering, Vina memanggil.


"Hai Thalia udah sampai mana nih kalian?" tanya Vina


"Baru masuk tol Ciawi kenapa nih?" tanya Thalia balik.


"Cuma mau nanya aja, apa semua lancar?"

__ADS_1


"Lancar, mereka sudah kembali ke tempatnya. Langit juga anteng nggak rewel kok." 


"Oh gitu, baguslah. Oke aku cuma mau nanyain itu aja. Eh satu lagi?!"


"Apa?"


"Gimana Ardi, lumayan kan?" goda Vina pada Thalia.


"Vina!" 


"Ups, forget that bye Thalia!" Vina langsung menutup teleponnya tanpa menunggu Thalia menjawab.


Thalia menutup ponselnya. Ia merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi. Rasa lelah membuatnya tertidur dalam sekejap. Ia kembali bermimpi. 


Thalia bertemu dengan seorang pria yang tidak asing baginya. Pria itu tersenyum padanya, usianya mungkin sekitar dua puluhan lebih. Pria itu hanya mengucapkan satu kata yang membuat Thalia terjaga dari tidurnya.


"Hai!"


Thalia tersentak kaget, suara itu seolah berada dekat di telinganya. Mimpinya terasa begitu nyata. Sebuah perasaan aneh mendorongnya untuk segera membuka pesan di ponselnya. Itu Erick.


Hai, maaf kalau pertanyaanku mengganggumu. You don't have to answer if you don't mind. I'm sorry?

__ADS_1


Thalia yang memang merasa keberatan memilih untuk tetap diam. Meski rasa nyeri yang ia rasakan semakin lama semakin menjadi. Thalia meletakkan ponselnya dengan kesal. Hari yang sungguh menguji kesabarannya sekali.


Umur buat wanita itu sensitif tau nggak! Aku nggak mau jawab tapi … aah, apa kata besok aja!


__ADS_2