Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 43


__ADS_3

Thalia malas berdebat dengan Ardi. Ia memutuskan untuk segera berangkat sebelum Sean kembali menggoda Thalia. Masih satu jam sebelum jadwal praktek Thalia dimulai.


"Kamu keberatan kalo mampir ke kantor dulu?" tanya Ardi membuka percakapan.


"Ke kantor kamu? Ngapain?" 


"Aku lupa ada berkas yang harus ditandatangani. Sekretaris aku barusan chat minta aku datang ke kantor sebentar." jawab Ardi menjelaskan pada Thalia.


"Oh, ok."


Thalia kembali terdiam, pikirannya hanya tertuju pada Erick. Dia belum membalas pesannya, membuat Thalia berpikir kalau Erick tidak mungkin mau berteman dengannya. 


Thalia berkali-kali menatap layar ponselnya. Menghidupkan dan mematikannya kembali. Hal itu terus berulang. Ia gelisah. Ardi rupanya memperhatikan sikap Thalia yang merasa tidak nyaman.


"Apa ada masalah?" 


"Eh, nggak ada." jawab Thalia gugup.


"Kamu bohong, kayaknya gelisah banget? Apa kita langsung ke rumah sakit aja?" tanya Ardi lagi.


"Nggak usah, urusan kamu lebih penting. Aku nggak apa-apa kok!" 

__ADS_1


"Kamu yakin?" Ardi memastikan sekali lagi pada Thalia. Dan Thalia hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Thalia kembali terdiam, pikiran nya kembali melayang pada Erick. Entah mengapa ia merasa begitu sedih, Air mata membasahi pipinya. Thalia merasakan sesuatu yang membuatnya benar-benar sedih, sesuatu yang diluar nalar.


Ada apa ini, kenapa rasanya sedih banget begini? Cuma karena Erick nggak balas pesan masa sampai begini? Kenapa aku jadi melow gini ya, aneh?


Mereka tiba di kantor Ardi. Sebuah bangunan megah berlantai lebih dari sepuluh, bisa dikatakan kantor ini lebih mirip sebuah hotel berbintang lima ketimbang gedung suatu perusahaan.


Ardi membukakan pintu mobil untuk Thalia, tanpa ragu ia meraih tangan Thalia dan menariknya untuk segera mengikuti langkahnya. Membiarkan mobil mewah milik Ardi diurus oleh salah satu karyawannya.


Thalia yang terkejut dengan sikap Ardi hanya bisa diam tanpa banyak bicara. Ia terus menatap genggaman tangan Ardi yang terasa menguat saat memasuki lift.


Apa mungkin aku harus membuka hati untuknya? Tapi aku …,


Thalia mencoba tersenyum pada Ardi, dan mereka pun memasuki lift hanya berdua saja. Thalia yang merasa tidak nyaman berusaha melepaskan tangan Ardi.


"Bisa dilepas nggak, aku bukan anak kecil lho pake digandeng segala!"


"Biar romantis dikit." sahut Ardi membuat Thalia memandangnya aneh.


"Romantis? Disini?" 

__ADS_1


"Anggap aja gitu, atau kamu mau kita ke tempat lain yang lebih mendukung biar romantis?" tanya Ardi mendekatkan wajahnya pada Thalia membuat dirinya bergerak menjauh sedikit dari Ardi.


"Eh, nggak gitu maksudnya?!"


"Lalu?" tanya Ardi semakin mendekatkan dirinya pada Thalia.


"Ardi stop, please! Saya nggak nyaman begini!" pinta Thalia sedikit mendorong tubuh Ardi dengan tangannya.


Ardi tertawa melihat Thalia yang merona, "Kamu nggak nyaman apa malu?"


"Stop it!" Thalia kembali meminta pada Ardi untuk berhenti menggodanya.


Ardi masih tertawa dan akhirnya ia mengalah memundurkan tubuhnya untuk wanita cantik di hadapannya. Sesosok makhluk tak kasat mata seolah mengintip Thalia dari balik tubuh Ardi. Thalia terkejut, rasa tidak nyaman menyerangnya.


Sosok itu kembali menyeringai pada Thalia, mencuri pandang dari balik tubuh Ardi.


Ya Allah, ada lagi … ada lagi. Kenapa setiap lift yang aku temui nggak beres sih?


Makhluk dari dunia lain ini suka menjahili karyawan di kantor Ardi. Wajah pucatnya menyeringai pada Thalia dengan mulutnya yang lebar, matanya besar dengan kepala yang nyaris tak berambut. Kepalanya terus menerus mengintip Thalia dari balik tubuh Ardi seolah mengajaknya bermain petak umpet.


Thalia spontan meraih tangan Ardi dan mencengkeramnya dengan erat. Ia berusaha menghilangkan rasa tidak nyaman dengan berlindung pada Ardi. Hal itu tentu saja membuat Ardi senang, ia mengira Thalia mulai melunak. Sementara dalam hati Thalia berkata,

__ADS_1


Maaf ya Ardi aku pinjam tangan kamu bentaran, daripada tu makhluk ngintip mulu bikin aku sakit mata!


__ADS_2