Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 33


__ADS_3

Thalia merebahkan tubuh lelahnya di ranjang. Seharian pergi bersama Ardi cukup menguras tenaganya, belum lagi emosinya yang dibuat bak rollercoaster oleh Ardi. 


"Masih ada waktu bentaran sebelum magrib, aku tidur dulu deh 15 menit cukup buat ngilangin ngantuk."


Tak lama Thalia pun terlelap dalam tidurnya. Tubuhnya yang letih benar-benar meminta untuk beristirahat hingga ia tidak merasakan apa pun lagi dan terbuai dalam mimpi terdalamnya. Sebuah bisikan terdengar jelas ditelinga kiri Thalia.


Thalia … Thalia …,


Suara yang asalnya entah darimana menyadarkan Thalia dari tidurnya. Ia terkejut, dadanya terasa berdebar lebih kencang karena bangun mendadak.


Siapa yang panggil aku tadi? Suaranya deket banget, tapi bukan suara Sean.


Tangan Thalia seketika menyambar ponsel yang tergeletak di sebelahnya. Ia membuka aplikasi baca novel gratis berlogo biru. Matanya langsung terbuka lebar saat melihat notifikasi pesan masuk untuknya.


Dengan hati berdebar dan penasaran, Thalia membuka pesan yang diterimanya.


"Eh, ya Tuhan ... dia beneran balas pesanku!" Senyum lebar menghiasi bibir Thalia yang tipis. 


Kamboja Merah membalas pesan yang dikirim sebelumnya,


Hai, salam kenal juga. 


Saya panggil kamu siapa, Thalia or …,


Thalia, itu nama saya. Boleh saya tahu siapa nama aslinya?


Thalia membalas pesan dari sang penulis yang entah bagaimana ia yakini seorang pria. Tak lama pesan balasan itu datang lagi.


Kenapa mau tahu?

__ADS_1


Biar manggilnya enakan dikit, bolehkan?


Thalia menunggu jawaban dari Kamboja Merah. Perasaan Thalia tidak karuan seperti layaknya anak ABG yang baru saja mengenal cinta dan sedang menunggu jawaban kekasih hatinya. 


Ia membuka dan menutup aplikasi sampai berkali-kali berharap mendapat jawaban dari penulis itu. Hingga akhirnya sebuah notifikasi ia dapat. Thalia tersenyum, jantungnya berdebar sangat kencang. Ada rasa takut ditolak oleh Kamboja Merah.


Kenapa rasanya gini, kayak aku lagi nembak cowok aja sih! Gila ini mah ngelebihin ABG rasanya!


Thalia membuka pesan masuk itu dan benar saja penulis itu mau memberikan nama aslinya membuat Thalia melonjak kegirangan dari atas tempat tidurnya.


Erick.


'Nice name Erick …,' batin Thalia 


Kamu cowok?


Ya masa nama Erick cewek.


Ya


Thalia bingung mau membalas apa lagi. Jawaban penulis yang akhirnya memberikan nama aslinya itu selalu singkat tanpa basa basi layaknya orang yang berkenalan. Ini membuat Thalia ragu untuk kembali menulis pesan.


"Ni orang jutek banget kayaknya, sadis masa balas pesan cuma gitu aja!" katanya pada diri sendiri.


Thalia melemparkan ponselnya, ia memutuskan untuk tidak mengirim pesan lagi.


"Iiish baru aja kenal tapi dah bikin ilfill, udah ah sholat dulu aja."


Rasa kesal Thalia pada Erick, sikap Erick yang dingin membuatnya tidak ingin melanjutkan percakapan. Untuk beberapa saat Thalia bahkan tidak membuka aplikasi baca itu lagi. Sikapnya lebih mirip seseorang yang sedang bertengkar dengan pacarnya. 

__ADS_1


Thalia mengalihkan perhatiannya dengan menonton acara dari salah satu stasiun televisi swasta. Namun, usahanya itu tidak berhasil. Matanya menatap ke arah televisi tapi pikiran dan hatinya tertuju pada Erick, penulis pria yang telah mencuri hatinya.


Tatapannya kosong dan ia hanya bisa membayangkan wajah si penulis misterius itu. Ia hanya mengenalnya lewat sebuah karya, tapi Thalia merasa begitu dekat dengan Erick. Mereka bahkan belum pernah mengobrol dalam waktu yang lama. Hanya sebatas perkenalan, tapi Thalia merasa yakin dirinya telah jatuh hati pada Erick.


Sesuatu yang aneh kembali terjadi pada diri Thalia, sebuah bisikan seolah memanggil namanya dan mengatakan,


Cari dia, dekati dia …,


Tubuh Thalia kembali bereaksi, dan itu sangat menyiksanya. Thalia menggeliat, mencengkeram kuat sisi sofa yang bisa ia pegang. Nyeri, dingin, panas bercampur menjadi satu. Bisikan itu kembali datang.


Cari dia cepat Thalia!


Thalia kembali ke kamarnya dan meraih ponselnya. Dengan gemetar tangannya membuka kembali aplikasi baca itu dan memutuskan menghubungi Erick.


Saya berniat jadi penulis juga, apa kamu bisa bantu aku?


Sebuah pertanyaan yang mengalir begitu saja dari pikiran Thalia. Ia hanya berharap Erick mau membalasnya sekali lagi. Rasa nyeri kembali datang bersamaan dengan datangnya pesan balasan dari Erick.


Kamu serius mau jadi penulis? Pilih genre apa?


Thalia tersenyum, ia membalas pesan Erick.


Belum tahu, ada saran?


Horor, misteri?


Ada saran lain nggak?


Thalia bingung, awalnya ia hanya ingin mengajak bicara Erick tak disangka pertanyaannya berbalik padanya sendiri.

__ADS_1


Apa aku benar-benar gila? Aku, jadi penulis horor? Wah impossible!


__ADS_2