
Thalia meminta izin pada Tante Alena untuk tidak menangani Langit hari ini. She feels bad mood, dan takut bisa mempengaruhi proses konseling. Thalia ingin istirahat dan melupakan kejutan yang terjadi hari ini.
Winda datang membereskan ruangan Thalia, dan memberitahukan jadwal Thalia besok.
"Dokter mau pulang sekarang?"
"Iya, nggak tahu ni bad mood aja. Lagi pengen rebahan dirumah, apa saya ada jadwal besok?" tanya Thalia.
"Untungnya besok kosong dok, jadi dokter bisa datang bisa juga nggak." jawab Winda.
"Syukurlah kalo gitu, besok saya datang siangan aja." Thalia memberitahukan pada Winda sebelum Winda bertanya.
Ia bersiap keluar ruangan ketika Ardi membuka pintu ruangannya.
"Hai, sudah siap, yuk pulang?"
"Eh, kamu masih disini? Seharian di rumah sakit emang nggak ada kerjaan lain?" Thalia heran dengan sikap Ardi yang hari ini seolah mengekori dirinya.
"Hei, aku calon investor disini. Apa salahnya kalau aku lihat-lihat rumah sakit yang bakal aku kasih dana?"
"Ok, alasan yang masuk akal." jawab Thalia sambil tersenyum.
"Shall we?" Ardi mempersilahkan Thalia berjalan duluan, Ardi melirik Winda yang memperhatikannya sedari tadi.
"Suster Winda, saya permisi dulu ya?!" pamit Ardi membuat Winda yang sedang mengagumi ketampanan Ardi tergagap.
__ADS_1
Ardi menyusul Thalia yang berjalan mendahuluinya. Sesekali mereka menyapa pegawai rumah sakit yang kebetulan berpapasan. Hari ini suasana rumah sakit terlihat lebih ramai dari biasanya padahal waktu beranjak sore.
Beberapa dokter memilih jadwal praktek sore agar bisa berbagi jadwal dengan rumah sakit lain. Thalia sendiri memang hanya praktek di siang hari. Beberapa tawaran untuk mengisi konseling di perusahaan dan sekolah masuk melalui emailnya tapi Thalia belum memutuskan untuk menerima salah satu dari tawaran itu.
"Kita belum makan siang, kamu nggak lapar? Ini malah udah sore lho?" tanya Ardi mengingatkan pada Thalia.
"Boleh, perutku juga lapar." jawab Thalia.
Mereka pun pergi menuju salah satu restoran tempat kenalan Ardi. Restoran dengan makanan khas Sunda yang dikemas dengan modern tanpa meninggalkan ciri khas daerah Sunda.
Ardi memilih saung yang mendapat view bagus tepat di samping taman kecil dengan pancuran mekanik dari bambu. Suara gemericik air begitu menenangkan ditambah lagi alunan merdu nan lembut dari degung khas Sunda yang sengaja diperdengarkan kepada para tamu.
Thalia menikmati suasana yang dingin dan menenangkan. Sedikit hiburan untuk mood booster.
"Kamu suka?" tanya Ardi
"Oh ya, orang mana memang?" tanya Ardi penasaran.
"Cirebon, kota yang unik masuk Jawa Barat tapi bahasa mereka kebanyakan malah Jawa." jawab Thalia sambil membuka kembali ponselnya.
"Aku pernah denger itu, malah kalo nggak salah yang berada di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah bahasanya Sunda banget. Padahal kota itu masuk Jawa tengah, betul nggak?" tanya Ardi
"Hmm, betul. Unik memang."
Thalia kembali fokus pada ponselnya, ia penasaran apakah Erick mengirim pesan padanya. Rasa sakit itu tidak muncul dan memang tidak ada pesan masuk dari Erick.
__ADS_1
Thalia menutup ponselnya dan kembali menikmati suasana layaknya pedesaan yang dipilih Ardi untuknya. Beberapa tahun tinggal di Baltimore membuatnya merindukan saat-saat seperti ini.
"Thalia!"
Seseorang tiba-tiba menyapanya dari belakang, Thalia terhenyak ia mengenali suara itu.
"Rendy …" gumamnya
Benar saja ketika ia berbalik untuk melihat siapa yang menyapanya, Rendy sudah berdiri tepat di hadapan Thalia. Ia sedang bersama seorang wanita cantik yang mungkin berusia dua puluhan. Thalia menatap Rendy dan wanita itu bergantian.
Masih sama seperti dulu rupanya, waktu nggak bisa mengubah sifat seseorang …, batin Thalia.
"Lama nggak ketemu ya, apa kabar?" sapa Rendy sambil mengulurkan tangannya pada Thalia.
"Baik." jawab Thalia singkat dengan senyum yang dipaksakan.
"Dia …" Rendy menatap Ardi dan secara tidak langsung meminta Thalia mengenalkan Ardi padanya.
"Oh, ini Ardi salah satu investor di rumah sakit kami." sahut Thalia
"Hai, aku Ardi dan kamu ini, Rendy? Mantan suami Thalia? Betul kan?" tanya Ardi detail membuat Thalia membelalakkan matanya pada Ardi.
Rendy tertawa mendengar pertanyaan Ardi, "Wah, rupanya anda sudah kenal saya ya? Nggak usah diperjelas mantan suaminya, udah lama juga. Ya kan Thalia?!"
Thalia menanggapi dengan ekspresi yang rumit. Sementara wanita cantik yang berada di sebelah Rendy terus menatapnya dengan tajam seolah merasa terancam Thalia akan merebut Rendy darinya.
__ADS_1
Kenapa dia natap aku gitu! Dia takut aku CLBK, no way!