
Thalia terkejut mendengar perkataan yang meluncur dari mulut Langit. Bingung bercampur rasa penasaran menyelimuti hati Thalia. Logikanya ingin menolak tapi hatinya bicara lain.
Kenapa Langit bisa tahu? Apa benar penulis itu laki-laki, tapi namanya kenapa pake bunga?
Thalia berusaha mengabaikan pertanyaan dalam hatinya, ia mendekati Langit dan mulai berinteraksi dengannya.
"Langit suka main Lego?" tanya Thalia berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Suka, tapi nggak sesuka mereka." jawab Langit sambil memandang kearah 5 sosok yang berada disampingnya.
"Coba Tante mau lihat, bisa buatkan Tante model helikopter begini?" pinta Thalia sambil menunjukkan model gambar yang tertera dalam buku panduan.
"Kenapa Tante minta helikopter, Tante mau ke tempat om penulis itu ya?" tanya Langit tanpa menoleh pada Thalia membuat Thalia kembali terkejut.
"Eeh, bukan … maksud Tante cuma …"
"Tante penasaran kan sama om itu, Deket kok, Tante tinggal naik pesawat aja sekali dah nyampe kesana!"
__ADS_1
Thalia belum sempat menyelesaikan perkataannya tapi Langit sudah memotong dan kembali mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal baginya.
"Langit, bisa nggak kita bahas yang lain sayang? Tante kesini kan mau ngobatin kamu!" pinta Thalia.
"Langit nggak sakit kok kenapa diobatin? Yang sakit itu Tante, iya kan?" tanya Langit dengan tatapan tajam pada Thalia.
"Eeh, kenapa jadi Tante yang sakit? Kan Tante dokternya?" Thalia mulai merasa bingung menghadapi kecerdasan Langit yang pintar membalas setiap perkataannya.
"Tante sakit setiap kali baca novel om itu kan? Tante butuh dia, Tante harus cari dia. Om itu penyembuhnya Tante!" ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Langit, sudah ya jangan ngomongin om itu terus nanti dia bersin-bersin lho disana. Kasian!" Thalia kembali meminta Langit untuk berhenti bicara.
"Tante harus temuin om itu segera, kalo nggak badan Tante bakal semakin sakit!"
"Langit … " Thalia menghela nafas panjang.
"Tante harus percaya Langit. Deketin dan cari om itu sampai dapat!"
__ADS_1
Thalia menatap Langit, ia tidak lagi tahu bagaimana cara menghentikan ocehan Langit. Akhirnya ia memutuskan untuk menanggapi perkataan Langit.
"Ok, Tante Percaya Langit. Terus Tante harus gimana dong, kan Tante nggak tahu siapa om itu? Nanti kalo om nya nggak mau Tante deketin gimana, Tante kan malu sayang?" tanyanya dengan lembut.
Langit hanya menggelengkan kepalanya, lalu menyentuh tangan Thalia. Tangan Langit dingin seperti tangan sosok teman gaibnya.
"Tante udah gede tapi pikirannya kayak anak kecil, kenalan dong! Tante kan bisa rayu om nya. Dia ganteng lho Tante, tapi hati-hati penggemarnya juga banyak!"
Eits ni anak, ampun dah mulutnya … dia pikir gampang kali kenalan ma orang, main suruh ngerayu segala, sabar Thalia …, batin Thalia kesal
"Tante tau nggak biarpun om itu penggemarnya banyak tapi dia baik kok, asal Tante sabar ngadepinnya."
Hadeeeh, Vina dulu ngidam apa sih kamu sampe ni anak sok dewasa banget begini … bisa nyeramahin gue lagi, luar biasa.
Thalia hanya bisa tersenyum karena malas menanggapi ocehan Langit tentang pria yang bahkan tidak dia kenalnya sama sekali.
Langit termasuk anak gifted yaitu anak yang memiliki kemampuan dalam bertanya dan menjawab lebih baik, tajam dan tepat dibandingkan dengan anak seusianya.
__ADS_1
Thalia tidak heran akan hal itu karena memang penderita ADHD terkadang memiliki kelebihan sebagai anak gifted dengan IQ superior. Tapi sebagai cenayang, Thalia masih meragukannya.