
Malam sudah cukup larut tapi Thalia belum juga bisa memejamkan matanya. Ia membayangkan Erick, rasanya ingin sekali memeluknya, mendampinginya, memberinya ketenangan.
"Andai aku disana, cuma bisa doain dia dari jauh. Semoga semua dilancarkan."
Lelah menangis membuat Thalia akhirnya tertidur. Thalia kembali terbangun pukul tiga dini hari. Thalia bersujud di sepertiga malamnya untuk mendoakan kesembuhan Erick.
Thalia seolah ikut merasakan ketegangan yang dihadapi Erick. Ia terus menerus melihat jam di dinding. Detik, menit, rasanya begitu lambat berjalan. Jarum jam yang berdetak membuat Thalia semakin tegang.
"Kenapa aku jadi ikutan tegang coba? Aneh deh."
Jam menunjukkan pukul lima pagi. Thalia memutuskan untuk keluar kamar dan menghirup udara pagi. Meski hanya tertidur beberapa jam tapi mata Thalia belum juga mengantuk. Ia kembali merasakan emosi Erick. Dan Thalia hanya bisa berbisik,
"Tenanglah, aku ada untukmu."
Ia terus berdoa hingga akhirnya jam menunjukkan pukul tujuh pagi, waktunya bagi Erick menjalani major surgery. Pikirannya sudah tidak bisa lagi terfokus. Berkali kali ia keluar masuk dari rumah ke kebun belakang. Thalia bingung.
Thalia membuka ponselnya ingin rasanya ia menghubungi Erick, tapi mustahil. Tiga jam dari jadwal operasinya Thalia mengirim pesan.
"Hai, apa semua baik-baik saja?"
Thalia hanya ingin mengirim tanpa mengharapkan balasan. Ia belum bisa merasakan Erick itu berarti Erick belum siuman. Thalia menyibukkan dirinya dengan membuka video Langit yang dikirim pagi ini oleh Vina.
"Tumben pagi bener kirimnya, baru tahu kalo ada video masuk. Oke … coba kita lihat, kamu ngapain lagi Langit?!"
Thalia terkejut karena bukan video yang Thalia harapkan. Video itu berisi Langit yang sedang bermain dengan Amy.
"What the hell, Amy ngapain kamu ada disana?!"
Amy bermain bersama Langit. Bagi orang awam pasti tidak akan bisa melihat keberadaan Amy, tapi dimata Thalia Amy sedang bermain petak umpet bersama Langit. Dalam video itu Langit berlarian dan tertawa bersama Amy. Dan untuk beberapa detik Amy berhenti dan melambaikan tangan ke arah kamera seolah tahu Thalia akan melihatnya.
"Hai Thalia!"
"Eh, ni hantu satu dikira main dunia lain kali pake melambaikan tangan segala." Thalia tersenyum.
Thalia kembali memperhatikan video yang diunggah Vina, setelah Amy kini giliran Langit yang bicara.
__ADS_1
"Tante dokter, makasih ya udah kasih Langit temen lagi. Seru main sama dia, cantik lagi. Oh Ya jangan lupa hadiah untuk Langit ya. Kucing kayak punya Tante!" Langit berbicara dengan suara tersengal-sengal karena lelah berlarian.
Thalia terkejut, ia menyadari kebodohannya menjanjikan sesuatu pada Langit. "Haaaiish, saya lupa bagian itu! Kucing yaa, dimana belinya?! Bikin pusing kepalaku aja?!"
Suara ketukan pintu kamar membuat Thalia menghentikan Video Langit.
"Iya, tunggu sebentar."
Thalia membuka pintu kamarnya dan mendapati salah satu asisten rumah tangga nya berdiri didepan kamar.
"Ada apa Bi?"
"Ada tamu nyariin non Thalia."
"Siapa?"
"Yang tempo hari datang malam-malam bawa martabak non." jawabnya
"Ardi … suruh tunggu dulu bi, bentar lagi saya keluar."
Thalia kembali masuk ke kamar mematikan notebooknya. Ia malas menghadapi Ardi apalagi sikapnya yang agresif membuat nya sedikit tidak nyaman.
"Cckk, iya tunggu kalo nda sabar suruh pulang aja sekalian bi!" Thalia kesal.
"Enak bener nyuruh cepetan siapa dia? Disini dia bukan bos, saya bosnya?!" gerutunya.
Dengan malas Thalia menemui Ardi, tapi ia bingung karena tidak mendapati siapa pun disana.
"Kemana orangnya? Kok nggak ada?"
Thalia mencari Ardi hingga keluar rumah, tapi yang ia dapati hanya mobil mewah kesayangan Ardi.
"Udah pergi ya, ya udah saya mau tidur aja mumpung off!"
Dan ketika Thalia berbalik, dihadapannya muncul sebuah buket bunga besar yang membuat Thalia terkejut.
__ADS_1
"Surprise for you Beib." Kepala Ardi menyembul dari balik buket itu dengan menunjukkan wajah konyol. Thalia pun tertawa dibuatnya.
"Wow, aku pikir tadi kamu kurcaci bunga lho." sarkas Thalia.
"Cckk, hargai dikit usaha saya kenapa sih Beib … masa kurcaci bunga, saya tinggi lho ini." gerutu Ardi yang kesal mendengar perkataan Thalia.
Thalia kembali tertawa,"Ok, sorry … thanks for the flower."
Ia mengambil buket bunga dari Ardi dan meletakkannya di meja. "So, ada perlu apa kamu kesini? Bukannya kamu kerja kan, kamu bolos?"
"Nothing, cuma mau ketemu kamu aja. Kangen!" jawab Ardi santai.
"Kangen? Emang kalo ketemu harus karena kangen dulu?"
"Oh jadi maksud kamu, aku bisa ketemu kapan aja tanpa harus kangen gitu? Anytime, anywhere?" Ardi mulai menggoda Thalia.
Thalia salah tingkah, ia menanyakan sesuatu yang konyol. "Bukan begitu, cuma nanya doang. Salah ya?"
"Buat kamu nggak ada yang salah." jawab Ardi.
"Iiish, orang itu perlu juga salah kali biar belajar dari kesalahan."
"Tapi ada juga lho orang yang bisa belajar dari kesalahan?!" Ardi mulai mendebat Thalia.
"Ohya? Siapa?"
"You! Kamu nggak belajar dari kesalahanmu dengan Rendy dan membiarkan diri kamu sendiri jatuh dalam ilusi kamu." Ardi menatap tajam Thalia.
"Maksudnya?"
"Kamu sama penulis itu dan juga Rendy apa bedanya? Kenapa kamu nggak biarin saya untuk mengisi hati kamu. Saya real, nyata lho."
Thalia masih terdiam dan mengamati wajah Ardi, ia mencari kebenaran dengan mempelajari wajah Ardi. Thalia kembali dikejutkan dengan sikap Ardi yang tiba-tiba mendekat dan bersimpuh dihadapannya.
"Thalia … please, beri aku sedikit aja ruang di hati kamu. Aku janji nggak akan seperti Rendy aku bakal bikin kamu bahagia. Aku janji kasih kamu kebahagiaan nyata bukan pura-pura seperti dalam ilusi penulis itu. May i get that chance?!"
__ADS_1
(Bisakah aku mendapatkan kesempatan itu?)
Checkmate!