Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 71


__ADS_3

Thalia tiba di rumah sakit tempat jam sebelas siang. Ia sedikit tergesa gesa karena Winda terus menghubunginya. Pak Rahmat membukakan pintu untuk Thalia.


"Pagi dokter Thalia." sapanya


"Pagi pak Rahmat, thanks." jawab Thalia sambil berlari kecil.


Thalia bergegas menuju ruang prakteknya. Tampak dari kejauhan seseorang yang sudah menanti dirinya. Thalia tersenyum sekilas dan menunduk hormat pada seorang lelaki paruh baya itu. Winda telah menunggunya di dalam. 


"Maaf, traffic jam seperti biasanya Win." sesal Thalia pada Winda karena terlambat.


"Kamu bisa suruh masuk dia Win." perintah Thalia.


"Siapa dok?"


"Itu bapak-bapak yang ada didepan, dia pasiennya kan?" Tanya Thalia seraya memakai jubah putihnya.


"Hari ini dokter kan kosong jadwalnya." jawab Winda keheranan.


"Eeh, trus kalo kosong kenapa kamu telepon terus tadi?!" Thalia bingung.


"Saya? Lho dari tadi saya nggak telepon dokter lho." jawab Winda dengan ekspresi rumit, ia segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Thalia.


"Lihat, nggak ada panggilan ke dokter lho." Winda memperlihatkan ponselnya dan memang benar tidak ada satupun panggilan ke nomor Thalia.


"Win, kamu nggak bercanda kan? Serius ini dari tadi di jalan kamu telepon saya, minta saya cepat datang. Lihat ini di panggilan saya … " Thalia terperanjat catatan panggilan dari Winda tidak ada padahal ia yakin betul Winda menghubunginya.


"Dok, kok nggak ada? Aduh kenapa saya jadi merinding, deketan sama dokter bikin parno nih horor mulu dari kemarin?!" Winda meraba tengkuknya sembari melihat kekanan dan kiri.


Thalia juga tak kalah bingung dari Winda, jika bukan Winda yang menghubunginya lalu siapa?


Hembusan angin terasa menerpa wajah Thalia, pintu ruangan prakteknya terbuka perlahan. Thalia dan Winda menoleh bersamaan ke arah pintu.


"Dokter … apa lupa nutup pintu tadi?" tanya Winda pelan.

__ADS_1


Thalia terperanjat, lelaki paruh baya yang tadi duduk di kursi tunggu tampak berdiri di depan Thalia dengan senyuman di bibirnya. Alarm tubuh Thalia langsung bisa merasakan jika pria yang berdiri di depannya adalah salah satu roh gentayangan. 


"Hmm kayaknya begitu tadi Win … udah jangan dipikirin, bisa kamu ambilkan saya file konseling besok?" pinta Thalia.


Winda yang penasaran dengan pintu yang terbuka dan ocehan Thalia tentang teleponnya semakin dibuat bingung dengan sikap Thalia yang tiba-tiba berdiri dan memaksanya keluar ruangan.


"Eh, dokter tapi besok kan …" Belum sempat Winda menjelaskan Thalia sudah menutup pintunya.


"Iiish ini dokter aneh bener dah, saya agak merinding nih sejak kejadian kemarin. Ya udahlah terserah dia aja, hiii … merinding lama-lama disini."  Winda segera segera pergi dari depan ruang praktek.


...----------------...


Thalia menutup pintu ruang prakteknya. Ia menatap sosok lelaki paruh baya yang masih berdiri di depannya. Ia memakai pakaian berwarna putih tulang. Rambutnya yang memutih tampak tersisir rapi ke belakang. Wajahnya begitu sendu, meskipun tampak pucat tapi ia sama sekali tidak menyeramkan.


"Selamat siang dokter Thalia." sapanya


"Siang, anda siapa?" tanya Thalia perlahan seraya mendekati sosok itu.


"Saya? Hanya orang lewat biasa saja." jawab sosok itu sambil tersenyum.


Ia kembali tersenyum dan menjawab. "Maaf jika sudah mengganggu dokter."


Thalia duduk di kursinya sementara sosok itu masih berdiri. "Silahkan duduk."


"Dokter Thalia, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih." kata sosok itu sambil menarik kursi di depannya.


"Untuk apa?" 


"Untuk Qiara." 


Thalia terkejut, "Qiara? Maksudnya?"


"Saya melihat semuanya dokter, apa yang dokter lakukan untuk dia itu sangat berani. Menantang wanita jahat yang memangsa Qiara, adalah tindakan terkonyol  yang pernah saya lihat."

__ADS_1


"Saya tidak berhasil membawanya dengan selamat, jadi rasanya ucapan terima kasih itu terlalu berlebihan." sesal Thalia.


Sosok lelaki itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Tindakan dokter sudah yang terbaik. Dokter tidak bisa menyelamatkan Qiara dari takdir yang sudah tertulis. Saya hanya menghargai usaha dokter."


"Anda benar saya tidak bisa menyentuh takdir yang digariskan." gumam Thalia mengingat salah satu pengajaran yang tertulis dalam novel Erick.


"Jangan salahkan dirimu atas takdir Qiara."


"Hhmm, saya cuma belum bisa menerimanya saja."


"Kamu sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang manusia."


Thalia terdiam, ia menatap sosok itu baik-baik. Wajahnya tampak tidak asing bagi Thalia. Seperti pernah bertemu sebelumnya tapi ia lupa dimana dan siapa.


"Apa kita pernah bertemu?" tanya Thalia penasaran.


Sosok itu tersenyum, dan memandang Thalia lembut.


"Kakek …" tiba-tiba saja Amy muncul didepan mereka.


"Amy?"


"Kau sudah berkenalan dengan kakek Thalia?" tanya Amy


"Kalian saling mengenal? Jadi dia kakekmu?" tanya Thalia.


"Bukan, saya sudah menganggap Amy sebagai cucuku. Kami berteman cukup lama, bukan begitu Amy?" 


"Hmmm, sangat lama. Ayo kek kita pergi, aku punya sesuatu untuk kakek." Amy menarik tangan sosok pria itu.


Sosok pria ramah itu menurut dan beranjak pergi meninggalkan Thalia yang masih terheran-heran.


"Saya pergi Thalia, oh ya jangan lupakan novel perdana kamu. Saya suka kamu menjalin hubungan dengan mereka." kata pria itu penuh arti.

__ADS_1


Eeh, novel? Dia tahu aku menulis novel? Wah nggak sopan kenapa aku merasa privasiku dilanggar! Apa dia mengintip ku juga? 


__ADS_2