
Suasana berubah menjadi tidak nyaman bagi Thalia. Sekian tahun ia berusaha menghindari pertemuan dengan Rendy tapi hari ini rupanya takdir mengharuskan mereka kembali bertemu.
"Gimana kabar Sean?" tanya Rendy
"He's good." (dia baik)
"Salam buat dia ya, kapan-kapan nanti aku mampir ke rumah."
"Eh, mau ngapain?" tanya Thalia dengan nada tidak suka.
"Main aja, lama nggak ketemu Sean kangen ngopi bareng. Kenapa kamu takut?" tanya Rendy.
"Takut? Apa yang harus aku takutkan dari kamu?" tanya Thalia balik.
"Entahlah, mungkin … takut kehadiran aku merusak hubungan kamu sama dia?!" jawab Rendy sambil mengedikkan kepalanya pada Ardi. Dia terang terangan menyerang Ardi dan Thalia.
"Whaaat? Very funny! Sebaiknya kamu pergi aja deh, kasian pacar kamu nungguin. Keburu ngambek dia!" sahut Thalia sarkas. Ia membalas perbuatan Rendy.
Wanita cantik itu hanya tersenyum masam dan menarik lengan Rendy untuk segera pergi. Ardi hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat sepasang mantan suami istri di depannya saling menyerang.
"Ok, maaf sudah mengganggu kalian. Sampai ketemu lagi dilain hari." pamit Rendy, ia pun pergi meninggalkan Thalia dan mengikuti langkah wanita cantik yang sedari tadi sudah cemberut karena tingkahnya.
Thalia menghela nafas panjang, hal yang ia hindari terpaksa harus dihadapinya.
"Are you ok?" tanya Ardi. (kamu baik-baik aja)
"I'm fine. Cuma sedikit keganggu aja. Maaf?!" jawab Thalia.
"Never mind. Suatu saat juga nanti aku bakal ketemu dia juga kok. Kamu tahu dia salah satu chief manager di bank yang support usahaku?!" ( lupakan)
"Oh ya, baguslah naik jabatan rupanya!" jawab Thalia dingin.
Memorinya kembali berputar pada kenangan Rendy, dengan dalih mengejar karir Rendy selalu sibuk dan pulang malam. Bahkan di jam yang menurut Thalia tidak masuk akal. Lembur memang sering terjadi apalagi jika terjadi kesalahan hitung di bagian front office, tapi setiap hari bagi Thalia itu tidak masuk akal.
__ADS_1
Pesanan mereka datang, Ardi mengulurkan minuman dingin untuk Thalia.
"Minumlah, lumayan bisa bikin adem hati yang panas!" goda Ardi
"Wah, makasih lho. Kamu memang paham bener ya, ada kata-kata yang lebih tajam nggak nih?"
Ardi tertawa mendengarnya, "Ada, mau denger?" tanyanya.
"No, enough please!" (tidak, sudah cukup!)
Makan siang yang terlalu sore itu dilewati Thalia dengan rasa yang tidak nyaman. Rendy sesekali menatap Thalia dari kejauhan. Saung tempat makan mereka berseberangan membuat mereka berdua bisa saling melihat dengan jelas apa yang dilakukan masing-masing.
Dengan susah payah Thalia berusaha menelan makanannya. Tidak ada makanan sehat kali ini, hanya makanan khas Sunda yang ia rindukan rasanya. Tapi kehadiran Rendy membuatnya sulit menikmati makanan. Ardi sesekali tertawa dan sengaja mengerjai Thalia dengan menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ardi, kamu sengaja ya?!"
"Mas! Berapa kali aku harus ngingetin kamu Beib?!"
"Hei, aku cm bantu kamu aja. Nggak sadar apa mereka dari tadi ngeliatin kamu terus. Mereka sengaja tuh bikin hati kamu panas. So, I do like them! Ngikutin permainan mereka!" Ujar Ardi menjelaskan pada Thalia.
"Iya siih, cuma aku nggak nyaman aja begini. Kita bukan pasangan,ok?!"
"Well, anggap aja ini latihan. Ingat our challenge? Latihan kalo aku resmi jadi pacar kamu?!" tatap Ardi dengan penuh harap.
Thalia balas menatap Ardi sejenak lalu beralih pada makanan di atas piringnya.
Dia pede amat bisa menangin hati aku, tapi maaf nggak semudah itu aku bisa jatuh cinta!
Ardi memang benar Thalia beberapa kali sempat beradu pandang dengan Rendy. Ia juga tampaknya sengaja membuat Thalia cemburu dengan bersikap mesra bersama kekasihnya, atau lebih tepatnya wanita yang menganggap dirinya adalah kekasih Rendy.
Acara makan siang Thalia terasa begitu menyebalkan untuknya. Ia sama sekali tidak bisa menikmati makannya. Suasana yang tadinya begitu nyaman berubah menjadi tidak menyenangkan karena pertemuannya dengan sang mantan.
"Bisa kita pergi sekarang? Aku nggak mau ketemu lagi sama mereka di parkiran!" pinta Thalia.
__ADS_1
"Ok, as you wish!" (ok, seperti keinginanmu!)
Mereka pergi meninggalkan restoran. Harapan Thalia tidak bertemu lagi dengan Rendy pun terkabul. Ardi mengantar Thalia hingga masuk ke dalam rumah, ia ingin memastikan Thalia baik baik saja sebelum ia tinggalkan.
"Kamu bisa pergi sekarang, kenapa harus ngikutin aku terus?" keluh Thalia
"Aku harus dapat jaminan kamu baik-baik saja sebelum aku tinggalin!" Ardi menatap Thalia intens meminta jawaban pasti dari Thalia.
"Ardi …"
"Mas!"
"Ok, mas Ardi I' m fine, nggak apa-apa Rendy nggak akan begitu aja bisa bikin aku sedih lagi and look at me now, am i looks sad?!"
(Saya baik-baik saja … dan lihat aku sekarang apa aku terlihat sedih?!)
Ardi menatapnya sejenak, "Yeah, you're right you look good. Ok, aku tenang dan bisa ninggalin kamu sekarang."
"Good, pergilah!" Usir Thalia dengan kesal, ia merasa konyol dengan sikap Ardi.
Ardi mendekati Thalia yang memegang keningnya karena merasa lelah menghadapi hari. Ardi mencium pipi Thalia tiba-tiba membuat Thalia terkejut dengan keberaniannya.
"Aku pergi, tenangin diri kamu. Kamu terlihat baik tapi aku tahu kamu bersandiwara Beib!" bisiknya dengan lembut.
"Kamu …"
"Ssst … don't talk more again, i know what I'm doing is wrong but this is friendship kisses no more!"
(Ssst … jangan bicara lagi, aku tahu yang aku lakukan salah tapi ini ciuman persahabatan tidak lebih!)
Thalia bingung, ia hanya bisa menatap tajam Ardi yang berhasil mencuri ciuman dari nya.
Ciuman persahabatan?! Tidak ada dalam kamus hidupku seperti itu, kamu memang perayu handal Ardi!
__ADS_1