
Thalia yang bersedih, Thalia yang malang, kehilangan cinta yang memang bukan menjadi miliknya. Menyesalinya juga sudah terlambat, kini ia dihadapkan pada dua pilihan terus bertahan dengan segala resiko atau mundur untuk selamanya.
Sementara itu di lain tempat, Erick merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Keringat membanjiri tubuhnya, rasa mual kembali menyerang.
"Mom, tolong!" Erick memanggil sang ibunda yang selalu mendampinginya.
"Kamu kenapa?"
"Nggak tahu, ini sakit mom." Wajah Erick semakin pucat menahan sakit yang luar biasa pada lukanya.
"Jangan-jangan ada yang salah, besok kita cek lagi ke dokter."
Erick hanya bisa berpegangan pada ibundanya untuk menahan rasa sakitnya. Berkali kali sang ibunda menyeka keringat dingin yang membanjiri tubuh putra kesayangannya itu.
Erick yang masih kesulitan untuk bangun karena lukanya harus mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Ia bahkan sudah berpikiran tentang hal buruk yang menimpanya, kematian. Siksaan itu terus berlanjut dan itu baru berhenti saat adzan subuh berkumandang.
Penjaga Thalia tersenyum puas melihat Erick yang tersiksa.
Itu balasan dari ulahmu sendiri yang telah menyakiti tuan kami. Ini baru permulaan, dan kami masih mengampuni mu.
Mereka kembali ke sisi Thalia yang kini tengah tertidur pulas di dalam kamar.
"Mengapa kalian menyakitinya? Jika Thalia tahu itu akan menyakiti dirinya"
Salah satu khodam penjaga yang mengikat Thalia dan Erick bertanya pada yang lainnya. Ia sama sekali tidak bisa berbuat banyak untuk bisa melindungi Erick dan juga Thalia.
"Mereka harus belajar tentang banyak hal. Dan ini hanya salah satu dari tugas kita."
"Bagaimana kalau mereka tidak bisa belajar, ikatan ini adalah suatu perjanjian!"
"Seseorang harus jatuh di titik terendah sebelum belajar sesuatu."
"Aku hanya tidak ingin salah satu dari mereka terluka."
__ADS_1
"Mereka harus terluka untuk memahami ikatan ini."
Keempat penjaga Thalia hanya bisa memandang wajah lelah pemiliknya. Meski salah satu diantara mereka telah saling jatuh hati mereka tidak bisa berbuat banyak.
Tugas dan kewajiban khodam pelindung adalah menjaga pemiliknya dari kondisi apapun. Mereka akan berada di garis terdepan untuk melindungi tuannya.
"Maaf, Thalia …"
*****
Keesokan paginya, Thalia terbangun pikirannya tertuju pada Erick.
"Dia sakit …" bisik salah satu penjaganya.
Thalia segera mengirimkan pesan pada Erick. "Morning … are you ok? Sleep well?"
Hatinya merasakan sesuatu yang salah pada Erick, jantungnya berdegup kencang menantikan jawaban dari Erick.
Erick belum juga membalas pesannya, dan itu membuat Thalia semakin panik. "Something happened to him. Badanku nggak enak banget."
Tak lama berselang pesan balasan itu datang. "Hai, bad. I can't sleep."
"Why?"
"Semalam perut saya sakit banget, keringat dingin udah kayak orang mau mati aja."
"Serius? Apa kamu salah makan, or do something?"
"No, nda makan macam-macam. Juga nda gerak yang berlebih. Cuma saya ngerasa aneh aja."
"Aneh? Aneh gimana?"
"Ya aneh aja." Erick mulai mencurigai sesuatu telah terjadi padanya, tapi ia masih belum yakin apa itu.
__ADS_1
"Udah jangan dipikirin, positif thinking aja. Coba cek lagi ke dokter, konsultasi ada apa." saran Thalia.
"Nanti sore, mom udah bikin janji sama dokternya."
Obrolan ringan kembali bergulir di antara keduanya. Thalia memberikan perhatian lebih intens dengan mendengarkan keluhan dan cerita Erick. Sama seperti ia memperlakukan para pasien konselingnya.
Semakin Thalia mendengarkan cerita Erick semakin ia memantapkan keputusannya untuk tetap bersamanya. Ia tidak peduli meski harus menjadi yang kedua, asalkan Erick tetap ada disampingnya. Thalia, belum belajar dari kesalahannya.
"Kamu istirahat aja dulu, nggak usah gerak berlebih. Totally bed rest, jangan ngeyel!"
Erick hanya menjawab singkat dan tentu saja sebuah emoticon lucu selalu ia sematkan.
Thalia menyudahi obrolan panjang mereka karena harus menjawab panggilan dari Winda. Tante Alena memintanya untuk segera datang ke rumah sakit siang ini, ada rapat mendadak yang harus dihadiri para pegawai dan dokter yang terlibat, termasuk Thalia.
Setelah menutup panggilan Winda, ia kembali teringat obrolan dengan Erick. Ia juga merasakan sesuatu yang janggal.
"Feelingku bilang itu juga aneh, tapi … apa ya?"
Dan Thalia mengingat sesuatu, "Semalam, suara itu … apa jangan-jangan mereka beneran datang?"
"Bisakah begitu? Khodamku berkeliaran sendiri? Mustahil, semoga bukan itu." Thalia menepis dugaannya meski ia juga meyakini hal itu bisa terjadi.
Erick menuruti saran Thalia. Beristirahat dan membuang pikiran jeleknya adalah pilihan terbaik. Setelah mengirimkan pesan singkat pada kekasihnya, ia berusaha memejamkan matanya.
Meski itu tidak terlalu berhasil baginya, rasa sakit dari luka sayatan di perutnya masih mengganggunya. Ibunda Erick sesekali memeriksa keadaan putranya. Beliau juga dilanda kekhawatiran yang luar biasa, apalagi semalam Erick begitu kesakitan.
Bayangan Thalia kembali memasuki pikiran Erick, pikirannya seolah menolak untuk berhenti memikirkan Thalia meskipun itu sangat ingin ia lakukan.
Rasa penasaran terhadap sosok Thalia berusaha ditekan bukan karena tidak ingin mengetahuinya tapi, Erick hanya takut semakin ia mengetahui lebih jauh siapa Thalia, semakin sulit ia untuk melepaskan diri. Erick menyadari batasan yang telah ia buat bersama Thalia.
Ia tidak memungkiri obrolan mereka sepanjang waktu yang dilakukan intens setiap hari menumbuhkan benih cinta dihatinya. Cinta yang mereka dapatkan dari mantra pengasihan.
Cinta yang mengikat kedua khodam penjaga mereka dalam satu perjanjian. Dan cinta itu telah menyulitkan kedua tuannya.
__ADS_1