Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 48


__ADS_3

Thalia menantang Ardi untuk jujur pada perasaannya dan Ardi pun menjawabnya, bahkan ia berbalik menantang Thalia untuk mau menjalani hubungan bersama.


Jauh dari lubuk hati Ardi ia berharap fobianya pada pernikahan bisa terobati dengan kehadiran Thalia. Wanita yang telah mencuri hatinya meski baru tiga hari berkenalan.


"Gimana, kamu mau?" tanya Ardi sekali lagi pada Thalia.


"No, saya nggak mau! Nggak segampang itu buat dapetin cinta saya, pak Ardi!" jawab Thalia.


Ardi tersenyum ia sama sekali tidak kecewa, jawaban Thalia justru membuatnya semakin penasaran untuk mendekati Thalia. 


"Ok, kasih aku waktu tiga bulan buat nunjukin bahwa aku pantas buat dapetin hati kamu!" pinta Ardi


"Boleh, coba aja kita lihat apa kamu memang layak buat aku cintai." tantang Thalia. 


Ardi yakin ia bisa menaklukan Thalia sementara Thalia yakin Ardi akan kesulitan menghadapinya. Mereka saling berpandangan seolah mengibarkan bendera perang.


Ketukan pintu dari Winda membuat tatapan mereka buyar, "Maaf dok, sesi kedua bisa dimulai sekarang?" tanya Winda sambil meletakkan file rekam medis milik pasien selanjutnya.


Mata Winda melirik kearah Ardi yang terus memperhatikan Thalia. "Pak Ardi, maaf Bu direktur titip pesan bapak disuruh ke ruangannya sekarang." 


"Oh, saya? Sekarang ya?" tanya Ardi


"Iya pak sekarang?!"


"Ok, dokter Thalia sampai ketemu jam 2!"


Ardi berjalan dan meninggalkan mereka berdua. "Dia bilang jam dua ya Win, saya nggak salah dengar kan?" tanya Thalia pada Winda.


"Yup jam dua. Sepertinya Pak Ardi serius sama dokter." 

__ADS_1


"Tante Alena, semua ini ulahnya dia. Tau deh Win, kita liat aja gimana kedepannya. Suruh masuk deh pasiennya." Thalia meminta Winda memanggil pasien konseling.


Konseling kali ini berjalan dengan lancar, tidak ada kendala yang ditemui Thalia baik dari kondisi pasien ataupun makhluk-makhluk aneh yang menyertai pasiennya.


Rasa sakit itu kembali datang, Thalia mengambil ponselnya. Its him again.


Lagi ngapain? 


Kerja …, balas Thalia


Kamu day off kapan? 


Sabtu Minggu aja, tapi dalam seminggu cuma praktek 3 hari sisanya on desk …, jawab Thalia lagi.


Praktek apa? 


Saya kan sudah bilang saya pembaca karakter orang …, Thalia tidak mau menjelaskan pekerjaannya, ia tidak mau terlibat lebih dalam dengan Erick.


Thalia membalas dengan emoticon tertawa. 


Just guest apa pekerjaan saya?


Kamu pernah menikah? Tanya Erick.


Ya, kenapa


Nothing


Thalia merasa cukup menjawab pertanyaan Erick, sekali lagi pertanyaan Erick membuatnya sakit. Seseorang yang tidak ia kenal mengungkit pernikahannya yang gagal. Itu sangat menyakitkan.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus menanyakan itu Erick, that's hurt me! Aku benci ada orang menanyakan itu padaku." gumamnya sambil menatap layar ponselnya yang telah mati.


Thalia menangis, hatinya bagai teriris sembilu. Pertanyaan itu mengingatkan dirinya lagi. Seolah mengulang memori menyakitkan di benaknya. Tanpa disadari Thalia pun tertidur di atas meja kerjanya.


Ia hanya terlelap sejenak ketika sebuah suara kembali memanggilnya. Ia terkejut dan menyerukan sebuah nama,


"Erick!"


Thalia bingung, seluruh tubuhnya gemetar. Yang ada dalam pikirannya hanya Erick. Rasa penasaran dalam hati Thalia mendorongnya untuk kembali menghubungi Erick.


Hai, apa aku mengganggu? 


Nggak, aku baru aja mau hubungi kamu? ... balas Erick.


Oya, kebetulan banget. Saya juga baru aja mikirin kamu ... balas Thalia


Wow amazing kok bisa samaan


Entah saya juga heran. Apa kamu mikirin saya? ... tanya Thalia lagi


Kenapa nanya gitu?


Aku … rasanya bermimpi tentang kamu? ... Thalia yang penasaran nekat mengatakan apa yang terjadi padanya.


Eeh, kok bisa gitu? ... tanya Erick.


Nggak lupain aja, anggap aku nggak pernah bilang ini ke kamu. Sorry?! ... balas Thalia.


Erick membalas dengan emoticon menguap khas dirinya. Thalia hanya tersenyum, ia merasa sangat bodoh mengatakan hal itu pada Erick.

__ADS_1


Logika yang biasa ia pakai dalam setiap konselingnya seolah menguap begitu saja. Tergantikan dengan hal diluar nalar yang terjadi antara Erick dan Thalia. Ia masih belum menyadari hal aneh yang terjadi pada dirinya.


Perlahan tapi pasti benang perjodohan itu semakin terlihat nyata dan mengikat keduanya. Sesuatu yang bersemayam dalam diri masing-masing telah bangkit dari tidur panjangnya. Terpancing oleh mantra gaib pengikat sukma yang tidak sengaja dibaca Thalia.


__ADS_2