Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 108


__ADS_3

Bisikan dari khodam penjaga Thalia kembali terdengar di telinganya. Rasa tidak nyaman itu juga kembali ia rasakan.


Perjanjian tidak bisa diubah … kami akan membuat kalian bertemu …,


"Ya … ya, mungkin itu sebabnya Erick akan datang. Apa kalian memaksanya?"


Kami hanya memberinya petunjuk, sudah waktunya kalian bertemu …,


"Ok, fine … kami memang akan bertemu, kalian yang jatuh hati kami yang repot. Apa setelah ini ikatan itu akan hilang juga?"


Kami tidak bisa mengatakannya, tapi ikatan itu adalah bagian dari perjanjian kami …,


"Menyusahkan saja, boleh aku bertanya? Apakah cinta yang aku rasakan juga sebuah ilusi dari kalian, atau memang aku benar-benar mencintainya?"


Sesuatu tidak terjadi dengan sendirinya Thalia … tidak mungkin kami bersatu jika tuan dari kami tidak merasakan cinta yang sama. Hanya saja ini terlalu rumit untuk bisa kalian pahami …,


"Jadi maksud kalian, rasa ini hanya ilusi?"


Kami menuntun kalian untuk terus bersama hingga saat ini, dan kalian bisa merasakan satu sama lain, apakah itu disebut ilusi? Tidak Thalia … yang kalian rasakan benar adanya, sayangnya perjanjian itu harus jatuh pada generasi yang berbeda … takdir berjalan berlawanan arah dengan keinginan kami …,


...----------------...


...Aku dibunuh cinta...


...Oleh puisi mantra pemberi bahagia...


...Aku disiksa rindu...


...Oleh senyum manis yang mengusik kalbu...


...Aku dijatuhkan hati...


...Oleh cerita indah dalam dunia imajinasi...


...Diri ini memang milikmu ...


...Dalam dua bayangan yang sulit dipisahkan...


...Hati ini berharap kasihmu...


...Dalam keremangan ilusi tak berkesudahan...


...Aku ingin lelah itu hadir...


...Untuk mengikis rasa yang tak seharusnya ada...


...Dalam diam...

__ADS_1


...Kusadari hadirmu tak pernah nyata...


...Dan mimpiku sudah terlalu jauh berkelana...


El.Z


...----------------...


Thalia menunggu David memesan makanan di salah satu meja pengunjung. Obrolannya dengan para khodam penjaga membuatnya berpikir untuk perlahan menjejakkan kaki pada dunia nyata.


"Artinya jika mereka telah bersatu, ikatan itu akan hilang kan? Dan semua kembali normal." 


"Jadi … aku hanya cukup mencari pengganti Erick dihatiku kan? Sesimpel itukah?"


"Kenapa kamu suka bicara sendiri begitu, Thalia?" bisik David tepat di telinganya membuat Thalia terkejut.


"Bisa nggak kamu jangan sukanya ngagetin gitu Dave?"


"Karena kamu terlalu fokus sama lamunan mu, sampai nggak sadar aku ada di belakangmu." David kembali berbisik tapi kali ini Thalia merasakan sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya.


Suara David terdengar berbeda, dan membuatnya meremang. 


Ya ampun, suaranya kenapa kedengaran lain di telingaku … iiish, aku jadi mikir yang aneh-aneh ini …, 


"Apa pesanannya sudah siap? Kasian yang di rumah dah nungguin?!" Thalia mengalihkan pembicaraan agar dia bisa mengontrol tubuhnya.


Bukan karena sibuk, tapi hati Thalia terus berdebar saat bertatapan dengan David. Kebersamaan mereka seharian membuat keduanya semakin dekat dan mengenal satu sama lain.


"Itu pesanan kita dah selesai, tunggu bentar ya?!"


Thalia mengangguk, akhirnya ia bisa bernafas lega. Thalia mendengar sebuah bisikan lagi dari khodam.penjaganya.


Thalia … awas!


Terlambat, seorang wanita telah berada dekat dengannya dan mendekatkan pisau tajam di perut Thalia.


"Hai Thalia … aku merindukanmu?!" bisiknya.


Thalia terkesiap dan merasakan pisau itu menempel di perut dan terasa menembus pakaiannya, nyeri dan basah.


"Natasya?" kata Thalia lirih 


"Natasya? I'm Alexa!"


"Apa maumu, membunuhku di tempat ramai? Itu bukan sifatmu kan?" Thalia mencoba berbicara mengulur waktu sampai David datang.


"Berdiri, dan berjalanlah dengan tenang! Bawa aku pada Sean!"

__ADS_1


"Sean? Untuk apa mencarinya, bukannya lebih baik kau bunuh aku sekarang?!"


"Hmmm, ide bagus tapi tidak sekarang Thalia! Tidak sebelum aku mendapatkan Sean, adikmu tersayang?!" Alexa dalam tubuh Natasya kembali bicara.


"Sekarang, bangun dan jalan. Jangan bergerak berlebihan atau ini akan semakin menyakitimu!" Alexa melanjutkan perkataannya seraya menekan ujung pisau lebih dalam ke perut Thalia, membuatnya semakin kesakitan.


Thalia perlahan berdiri, dan mengikuti perintah Alexa. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, David memanggilnya.


"Thalia …" dari nada suaranya Thalia tahu kalau David curiga.


"Berbalik perlahan, dan katakan padanya untuk mengantarkan kita pulang. Ingat Thalia, per-la-han!" Alexa memberikan instruksi pada Thalia.


Thalia menurut dan berbalik perlahan ke arah David yang kini hanya menyisakan jarak dua meter lagi.


"Dave, aku rasa kita harus segera pulang." Mata Thalia memberi kode pada David.


David yang mengenali Natasya, dan melihat pisau yang diarahkan ke perut Thalia, terkesiap. 


"Ok, kita pulang … Natasya, tolong jangan gegabah. Jangan sakiti Thalia, bisakan?"


"Kau mengenal Natasya rupanya! Bawa aku pada Sean sekarang atau Thalia akan menjadi gantinya!" Alexa menekan kata-katanya yang mengancam pada David.


David menuruti keinginan Alexa dan berjalan didepan mereka berdua. Sebenarnya bisa saja David menyerang balik Natasya tapi dengan pisau yang mengarah pada Thalia dan posisi mereka yang berada di keramaian membuat David memilih bersabar menunggu momen yang tepat.


Mereka sampai di parkiran mobil. Thalia dan Natasya duduk di bangku penumpang, David segera mengarahkan mobilnya kembali ke rumah Thalia.


"Jangan macam-macam, atau kau akan melihat perut Thalia terbuka dan isinya di mobilmu!"


"Wow … calm down Natasya, jangan nekat! Kau lihat aku sudah menuruti semua keinginan kamu!"


"Kalian bisa saja menipuku! Sedikit saja kau berbuat curang, wajah cantik Thalia akan tergores dengan indahnya!"


"Natasya, please jangan begini?! Kita bisa bicara baik-baik kan?!" pinta Thalia.


"Diam! Jangan banyak bicara lagi!" Natasya semakin menekan pisau di tangannya dengan kuat dan berhasil menggores kulit di perut Thalia.


Thalia meringis kesakitan, luka itu semakin dalam digoreskan Natasya. "Sakit? Ini menyenangkan bukan!"


"Kau gila Natasya!" ujar Thalia menahan sakit.


"Alexa! My name is Alexa!" teriaknya di telinga Thalia.


"Alexa, please tenangkan dirimu! Kita sudah hampir sampai ok?!" pinta David.


Mereka tiba di rumah Thalia, Alexa dan Thalia Turun perlahan. David berusaha menjaga jarak. Mereka berjalan memasuki rumah. David melihat keenam rekannya sedang melihat televisi, ia segera memberi kode pada mereka.


Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi, terkejut dengan kedatangan Thalia dan tentu saja Natasya. Gadis cantik yang sedang berada dalam penguasaan Alexa itu menyeringai pada Sean.

__ADS_1


"Sean … apa kau merindukanku?!" 


__ADS_2