Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 97


__ADS_3

Thalia berdiri menatap nanar pada wajah korban yang penuh sayatan. Ia ngeri membayangkan kekejaman pelaku. Ia berjalan perlahan mendekati korban yang menyisakan satu helaan nafas terakhirnya.


"Tolong …"


Mata itu seolah tidak sedang menatap malaikat kematian yang menjemputnya tapi menatap Thalia yang masuk dalam masa lalu. Thalia melihat sekeliling, berusaha mencari petunjuk.


"Terlalu gelap, dimana pelakunya …pasti belum jauh, korbannya masih bernafas." batin Thalia.


Ia berkeliling di sekitar korban berusaha menemukan petunjuk. Nihil. Ia berbalik menatap korban, nafasnya telah menghilang. Hati Thalia teriris melihat penderitaan wanita itu. Tangan dan kakinya terikat. Luka tusuk dan sayatan menghiasi hampir seluruh tubuhnya. Darah menggenang disekitar korban, airmata Thalia tak terbendung lagi.


Thalia limbung, ia harus segera kembali jika tidak ingin terjebak di masa lalu. Darah segar menetes dari hidungnya. David terperanjat.


"Thalia … " David mencari tissu untuk menyeka darah yang menetes dari hidung Thalia. Tangan Thalia gemetar, ia terlalu memaksakan dirinya.


"Kamu nggak apa-apa? Kalo memang belum siap jangan memaksakan diri." David dengan sabar membersihkan darah yang juga mengotori tangan Thalia.


"Aku nggak apa-apa kok. Ini kali pertama masuk ke masa lalu. Sebelumnya aku belum pernah, aku cuma bisa lihat masa depan."


"Maaf, aku bikin kamu repot." David menyesali tindakannya, ia takut Thalia terluka.


Setelah semua darah berhenti menetes dan Thalia membersihkan tangannya, ia kembali duduk.


"Jadi pelakunya belum ditemukan?"


David menggeleng, "kami kehilangan jejak."


"Saksi?"


"Ada tapi semuanya kasih penjelasan abu-abu, nggak jelas." jawab David sambil mengintip dari balik tirai jendela.


Thalia yang memperhatikan sikap David heran, ia ikut memperhatikan luar. "Apa ada yang kamu tunggu?"

__ADS_1


David yang merasa diperhatikan Thalia salah tingkah, "Ehm, nggak cuma … jaga-jaga aja?"


"Hei, jangan bikin saya takut dong? Jaga-jaga it mean someone is stalking you?" (Seseorang menguntit kamu?)


"Ehm, bisa jadi." jawab David dengan senyuman misterius.


"What? You hidding something from me? Apa ada petunjuk lain sampai kamu harus diikutin, atau … pelaku itu tahu kamu?"


David menatap Thalia, ia terperangah dengan tebakan Thalia yang tepat.


"Kamu beneran psikolog ya bisa baca orang."


"Heem, saya baru kali ini diragukan orang."


"No, saya nggak meragukan kamu cuma baru kali ini saya berhubungan sama orang dengan talenta seperti kamu?!"


Thalia tersenyum, "Tell me, ada apa?"


"Oh my God … kenapa jadi sengeri itu?" Thalia prihatin dengan kondisi David.


"Resiko pekerjaan, saya gugur dalam tugas sih nggak apa asal jangan mengancam nyawa keluarga."


Thalia mulai kagum dengan sosok David. "Pernah kamu mergokin seseorang ngikutin kamu?"


"Pernah, dia ngikutin sampai ke rumah. Saya dah perhatiin tingkah laku dia di jalan, dan bodohnya saya malah pulang kerumah. Itu karena mama telepon meminta saya segera pulang."


Thalia mengangguk tanda mengerti. "Bisa bawa saya ke salah satu lokasi penemuan mayat?" pinta Thalia.


"Kamu udah selesai?"


"Udah, lagipula ini bukan hari sibuk saya. Harusnya saya off today."

__ADS_1


"Ok, lokasi penemuan terakhir nggak jauh dari sini."


Mereka berdua sepakat untuk menuju lokasi penemuan mayat korban terakhir. Sekitar dua puluh menit kemudian mereka tiba. Thalia memperhatikan lingkungan sekitar. 


"Seminggu yang lalu, kami menemukan jasad Nita disini." David menjelaskan.


"Nita?"


"Korban kelima, dia ditemukan tergeletak dengan tangan dan kaki terikat. Korban kelima sedikit berbeda. Pakaian yang dikenakan hampir terlepas dari tubuhnya."


"Maksud kamu, kemungkinannya korban diperkosa pelaku sebelum dibunuh?" Tanya Thalia sambil memperhatikan jejak yang masih sedikit terlihat meski hujan telah merusak TKP.


"Kelihatannya begitu, tapi saya meragukannya." 


Thalia menatap David, ia paham maksudnya. "Kamu benar bisa jadi itu hanya kamuflase pelaku, dia mengaburkan maksud dan tujuannya untuk mengecoh polisi."


Thalia berjongkok di garis yang mendapat semprotan cat putih. Garis itu memberikan jejak tubuh si korban. Tangan Thalia menyentuh tanah yang masih menyisakan sedikit darah korban. Ia kembali mencoba melihat masa lalu.


Malam hari, hujan, seseorang dengan mantel jas hujannya mengikuti seorang wanita yang berlari ketakutan. Wanita itu telah terluka di kakinya. Thalia melihat orang misterius itu memegang pisau panjang dengan darah masih menempel.


Thalia melihat ke arah wanita yang sedang dikejar, ia berkali kali terjatuh dan meminta pertolongan. Tidak ada yang mendengar suaranya apalagi di malam hari dengan hujan selebat itu. Wanita itu terus berlari hingga akhirnya terjerembab dan kehabisan tenaga.


Ia pasrah dengan kematian yang telah berada di depan mata. "Tolong saya, selamatkan nyawa saya?!" Thalia mendengar rintihan lirihnya.


Sekali lagi mata wanita itu seolah menatap Thalia. Ia meminta tolong pada Thalia, sebelum pisau itu menghujami tubuhya. Melubangi setiap sudut tubuhnya. Belum lagi sayatan yang dilakukan orang misterius itu pada wajahnya. 


Thalia memalingkan wajahnya, ia hanya bisa mengepalkan tangannya menahan rasa ngilu, ia ikut merasakan penderitaan si korban. Jerit dan rintihan mohon ampun itu akhirnya menghilang. Wanita itu telah pergi dijemput malaikat kematian.


Thalia memberanikan diri untuk melihat keadaan wanita malang itu. Ia terperanjat, si pelaku membuka jati dirinya. Senyuman iblis tersungging di bibirnya. Ia puas bisa menghabisi lagi nyawa wanita incarannya.


Thalia berjalan mendekat mencoba melihat dengan jelas siapa pelaku misterius itu. Semakin dekat dan dekat, hingga akhirnya ia berhadapan langsung dengan wajah si pelaku. Thalia terkesiap.

__ADS_1


"Ya Allah … "


__ADS_2