Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 84


__ADS_3

Malam itu Thalia tertidur dengan perut kosong, Bu Inah membuatkannya teh hangat sebelum tidur untuk mengisi perutnya yang terkuras habis. 


Tak berapa lama Thalia kembali terbangun, bisikan gaib memanggil namanya. Membuat Thalia terjaga di tengah tidurnya.


Suara jam berdetak terasa bagaikan hitungan mundur untuk terjun bebas ke alam lain. Thalia merasakan perubahan suhu disekitarnya. Sesuatu sedang bergerak mendekatinya. Thalia yang menyembunyikan dirinya di balik selimut merasakan tekanan di kaki. 


Seperti sebuah tangan yang sedang menggerayangi tubuhnya. Berjalan perlahan dan mulai naik ke atas. Merayap dan menyapu tubuhnya. Jantung Thalia berdegup kencang. Ia berusaha mengintip dari balik selimut, siapa gerangan yang dengan lancang menyentuhnya. 


Dalam bayangan Thalia itu sebuah tangan yang cukup besar. Tangan itu terus bergerak naik hingga hampir membuka selimut yang menutupi Thalia. Seketika Thalia memberanikan diri untuk menyalakan saklar lampu kecil yang ada di sebelahnya.


Tidak ada seorangpun di dekat Thalia. Tapi Thalia masih merasakan sesuatu. Bayangan hitam berdiri di sudut kamar. Bayangan itu begitu samar terlihat dan segera menghilang saat Thalia hendak turun dari ranjang.


Siapa itu? Diakah yang berani menyentuhku?


Bulu di tubuh Thalia meremang, ia ngeri membayangkan apa yang hampir saja terjadi padanya. "Sial, berani banget dia! Awas aja kalo balik lagi?!" ujar Thalia kesal.


Bunyi alarm mengagetkan Thalia. Jam dua pagi, seketika Thalia teringat Erick. Rasa itu kembali datang.


 "Tiap aku mikirin dia, rasa ini kembali lagi. Apa dia bangun? Pasti nggak nyaman ya, pasti sakit. Aku disini juga kesakitan. Sabar ya, everything gonna be ok beb." Thalia berbisik sambil menatap ponsel, berharap ia bisa memasuki kembali alam bawah sadarnya. Dan ia kembali terlelap.


****


Keesokan harinya Thalia sudah bersiap. Tubuhnya terasa lebih baik. Sean pagi pagi sekali sudah menyiapkan sarapan. Ia mendengar dari BI Inah kalau Thalia tidak enak badan semalam. Air lemon hangat plus madu sudah disiapkan Sean untuk Thalia.


"Morning Sean?!"


"Hmm, gimana badan kamu? Udah enakan?" Sean menggeser gelas berisi potongan lemon dan madu hangat ke Thalia.


Thalia segera meminumnya. "Much better."


"Kamu telat makan?"


"Mungkin, tapi juga tidak." jawab Thalia ragu.


Sean mengambilkan sarapan untuk Thalia. "Makan, semalam perut kamu kosong kan. Kamu harus sehat Thalia, kalo kamu sakit aku juga yang repot nanti."


"Thanks Sean." Dengan lahap Thalia menghabiskan isi piringnya sampai tak bersisa. Ia benar-benar kelaparan.


"Tell me, aku tahu semalam itu kejadian aneh. I can feel it! Rasa apa itu Thalia!" tanya Sean dengan melipat tangannya di dada.


"Kau juga merasakannya?"


"Aku merasakan kamu menderita. Just it!"


Thalia terdiam sejenak, ia lalu berkata "Kamu masih ingat dia sakit kan?"

__ADS_1


Sean mengangguk, "Aku merasakan sakitnya Sean, merasakan sakit pasca operasinya, ngerasain nggak nyamannya bau rumah sakit, ngerasain pusing after the anesthetic disappears."


(pasca bius menghilang)


"Kamu bercanda?! Mana mungkin bisa sedetail itu Thalia. Look at me, we are twins tapi nggak pernah sampai begitu! Aku cuma bisa rasain kamu sedang sakit tapi bukan sakitnya?! That's so ridiculous!"


( Lihat aku, kita kembar …. Itu sangat konyol!)


"Sean, aku tahu kamu pasti nggak percaya but trust me this feel is real." jawab Thalia.


(tapi percaya padaku rasa ini nyata)


Sean menggelengkan kepalanya, "Kamu terlalu dalam memasuki dirinya Thalia. Kamu nggak berpikir itu bahaya?! Sadarlah Thalia, aku cuma takut kamu terluka." 


Thalia menghabiskan air lemonnya. Ia tidak menjawab Sean, Thalia juga bingung apa yang sebenarnya terjadi.


"Sean, semakin aku berusaha melupakan dirinya semakin kuat mereka datang. Aku nggak pernah memintanya Sean mereka datang dengan sendirinya. Seperti halnya penjaga yang selalu kasih aku laporan tentang apa dan bagaimana dia." 


"Kamu terlalu lemah Thalia, kamu dibawah kuasa penjagamu. Selama ini kamu bahkan nggak pernah berhubungan dengan mereka kan, but now look at you?! Kamu selalu dalam pengawasan mereka." Sean kesal tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak.


Thalia memang unik, itu juga yang dikatakan teman Sean kemarin. Sean telah berusaha mendatangi beberapa ahli ilmu kebatinan untuk mengobati Thalia. Tapi dari semuanya itu tidak ada yang bisa memahami apa yang terjadi pada Thalia. Mereka hanya berandai andai tanpa penjelasan jelas. Ini adalah hal baru yang unik. 


Dan hebatnya lagi setiap mereka hendak melihat apa yang terjadi pada Thalia dan Erick, mereka terhalang tabir yang sangat tebal dan tinggi. Tidak seorangpun yang berhasil menembus dan melihat permasalahan Thalia dan Erick dengan mata batinnya.


Pembicaraan mereka terhenti saat Ardi datang. Thalia hanya diam, ia tidak ingin Sean tahu kejadian Ardi dengannya kemarin sore.


"Pagi …" sapa Ardi pada mereka berdua.


"Hei, Ardi. Pagi banget kamu datang?! Kalian mau pergi?" tanya Sean menyambut tangan Ardi.


"Yup, kami ada acara. Kamu belum siap sayang?!" tanya Ardi pada Thalia yang masih asyik memainkan gelasnya.


"Hhm, jam berapa ini? Bukannya masih terlalu pagi untuk pergi?" sahut Thalia.


"Beb, ini sudah jam 9 apa kamu mau menunggu dia?" 


"No! Siapa yang mau nungguin dia?! Ok, tunggu sebentar." Thalia berlalu meninggalkan kedua lelaki dewasa itu.


Sean dibuat terheran heran dengan Thalia, "Ada apa, siapa yang mau ketemu sama dia?"


"Rendy!"


"Whaat, kapan dia mau kemari? Cepat bawa Thalia pergi. Aku nggak mau dia sampai ketemu Thalia?!" pinta Sean.


"I Will, makanya aku jemput dia pagi."

__ADS_1


Tak berapa lama, Thalia selesai bersiap. Ia hanya mengikat rambut sebahunya dengan asal dan membiarkan beberapa helai rambutnya menjuntai tak beraturan.


"Sean, aku pergi." pamit Thalia sambil mencium kedua pipi Sean.


"Ok, hati-hati Thalia. Ardi tolong jaga dia untukku!" pesan Sean yang ditanggapi Ardi dengan ibu jarinya.


...----------------...


Ardi membawa Thalia berkunjung ke salah satu kantornya, ada hal yang harus dia urus sendiri. Thalia diminta untuk menunggu di salah satu ruangan. 


"Hhm kirain mau diajak kemana, ujungnya ke kantor juga! Ya lumayan deh daripada harus ketemu Rendy. Setidaknya disini aman." 


Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk. 


"Erick … " Thalia berbinar ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Erick sudah mengirimkan pesan. 


"Hai, feel better today abis dapat transfusi darah dua kantong." 


Rupanya semua pesan Thalia terbaca, Erick membalasnya dengan mengirimkan sebuah foto tangan lengkap dengan selang untuk transfusi darah. Mata Thalia seketika mulai panas, melihat foto itu membuat hatinya sakit. 


"Sabar yaa … doaku selalu untukmu." 


Kerinduan Thalia terbayar dengan sebuah foto yang dikirimkan Erick. Dia baik-baik saja itu sudah cukup bagi Thalia. Ia akan menunggu Erick hingga ia kembali pulih. Ia rindu obrolan panjang mereka, rindu perdebatan mereka dan rindu akan canda tawanya lagi.


"Get well soon, Erick."


...****************...


...Janji senja pada cakrawala...


...Aku akan seindah purnama...


...Janji bintang pada angkasa...


...Aku akan selalu ada...


...Janji malam pada gulita...


...Aku akan membawa cahaya...


...Janji pujangga pada Chandra...


...Aku akan tetap setia...


...🌼🌼🌼❤️❤️🌼🌼🌼...

__ADS_1


__ADS_2