Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 105


__ADS_3

David masih menunggu jawaban Thalia, hatinya sakit melihat wanita pujaannya menangis.


"Sean menunggu, lebih baik kita masuk." Thalia berusaha menghindar.


David meraih tangan Thalia dan menahannya pergi dengan tubuhnya. "Jangan buang air mata untuk seseorang yang bahkan tidak menghargai pengorbanan mu."


Thalia yang berada sejajar dengan David hanya bisa tersenyum, "Thanks."


Thalia melepaskan tangan David dan kembali menemani Sean. Dari kejauhan David menatap Thalia yang terus menyemangati Sean setelah melihat rekaman video salah satu saksi.


Thalia, andai aku bisa mengobati lukamu …, batin David


...----------------...


...Thalia mendekati Sean yang tampak tegang setelah melihat video itu. "Are you ok, Sean?!"...


"Yeah, I'm ok. Thalia, katakan padaku kalau aku salah lihat?!"


Thalia terdiam dan menatap Sean ragu, "Please, jangan bohongi aku?! Aku pasti salah lihat kan?!" 


"Sean … menurutmu siapa dia?" Thalia balik bertanya.


Sean ragu menjawabnya, "Entahlah, aku … tidak bisa memastikannya?!" 


"Itu Natasya, Sean … I'm sorry." sahut Thalia pelan, ia mengusap tangan Sean berharap Sean tidak terkejut.


"Ya Tuhan, kenapa dia ada disana? Dan kenapa dia berubah seperti itu?!" Sean menahan suaranya, matanya terus menatap ke arah video yang kembali diputar ulang.


"Sepertinya Skizofrenia yang diidap Natasya telah berubah, Sean." 


"Mana mungkin itu terjadi?" 

__ADS_1


"Itu mungkin terjadi Sean, sangat mungkin terjadi, jika Natasya tidak mendapatkan pendampingan keluarga yang baik, juga mengabaikan pengobatannya."


"Tapi nama, usia, suara bahkan ekspresi nya berbeda?! Apa kau yakin itu Natasya?!" Sean mencoba mengelak kenyataan yang jelas-jelas di depan matanya.


"Kita akan pastikan saat bertemu dengannya nanti." jawab Thalia.


David menerima telepon dari salah satu anak buahnya, mereka berhasil mencocokkan sidik jari yang terdapat di pisau keramik dengan salah satu saksi. 


Sidik jari yang ditemukan itu cocok dengan milik Natasya atau Alexa, saksi yang sempat dimintai keterangan polisi.


David menatap lurus ke arah Thalia dan Sean, memperhatikan interaksi keduanya. Thalia menyadari ada yang aneh dari sikap David, lalu bertanya. "Apa ada sesuatu?" 


"Mereka mendapatkan sidik jari pelaku."


"Lalu?"


"Sidik jari Natasya alias Alexa cocok."


 "Sean, bersiaplah untuk ikut aku ke kantor. Kami butuh keterangan mu." 


"David, bisa aku minta perlindungan untuk Sean. Ancaman itu membuatku khawatir?" pinta Thalia.


"Anak buahku sedang bergerak menjemput Natasya, jangan khawatirkan itu."


"Aku harap Natasya bisa ditemukan." 


"Tenanglah, sampai kita dapat kabar kepastian penangkapan Natasya, lebih baik kalian berdua tetap berada dirumah." David menenangkan Thalia.


"Hhm, lagipula ini Sabtu kan? Kami juga nggak ada keperluan di luar." 


Thalia menatap Sean yang masih terpaku pada video itu. Bayangan kejadian malam mengerikan itu kembali muncul dalam memorinya.

__ADS_1


"Natasya …" Sean masih belum bisa menerima kenyataan.


"Sean, everything is gonna be ok. Calm down." Hibur Thalia.


"Aku hanya tidak habis pikir, Natasya yang aku kenal tidak sekejam itu. Dia begitu lembut bahkan bicaranya pun halus sekali."


"Everyone has a different side in life Sean. Natasya mengalami fase yang luar biasa, doakan saja yang terbaik untuknya."


"Serial killer Thalia! I don't believe it!" Sean benar-benar geram. Ia merasa tidak mampu melindungi Natasya, tapi apa yang terjadi pada gadis itu diluar kemampuan Sean.


Thalia mengusap punggung saudara kembarnya itu, berharap Sean kuat dan siap berhadapan lagi dengan Natasya. David memintanya untuk kembali mengenali Natasya yang ia lihat malam itu. Sean menyanggupi nya dan tentu saja Thalia akan menemani Sean saat hari itu tiba.


...----------------...


Sore menjelang, belum ada tanda-tanda kepastian tertangkapnya Natasya. Thalia mulai khawatir dengan keselamatan Sean, pikiran buruk tentang Natasya mulai bermunculan.


David masih berada di rumah Thalia, ia menemani Sean dan berbicara panjang lebar tentang kemungkinan situasi yang akan dihadapi Sean.


"Dave, apa ada kabar tentang Natasya?" Thalia mendekati mereka berdua yang sedang asyik mengobrol.


"Belum, semoga aja sebentar lagi ada kabar." David menjawab pertanyaan Thalia dengan sedikit ragu.


Thalia menangkap pesan sesuatu telah terjadi, dari gesture David. 


Firasatku jelek tentang ini …, batin Thalia.


Thalia dan David saling bertatapan sejenak, David tampak menggeleng samar pada Thalia. 


See, my feeling is right … ini akan jadi weekend yang melelahkan untuk kami berdua.


 

__ADS_1


__ADS_2