Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 89


__ADS_3

Satu hari sebelum Erick keluar dari rumah sakit …,


Obrolan bersama Thalia beberapa waktu lalu membekas di hati Erick. Peringatannya pada Thalia bahwa hubungan mereka akan berbuntut panjang jika tidak segera diakhiri sepertinya diabaikan oleh Thalia. 


Perempuan yang mengusik pikirannya itu seolah menantang untuk lebih dalam memahami ikatan aneh yang menghubungkan mereka.


"Kamu akan kelabakan mengikuti pikiran, emosi dan semua tentangku, Thalia! Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauh … jangan salahkan aku jika kamu ikut merasakan sesuatu yang aneh atau tidak nyaman," gumam Erick jahil. 


Pikiran muda dan isengnya kumat, dia mengambil ponselnya dengan seringai miring. Membuka aplikasi chatnya dan mulai menulis.


Thalia yang sedang menunggu kedatangan salah satu pasien konselingnya kembali menerima pesan dari Erick.


"May i kiss?" Pesan yang dikirim dengan Erick dengan menahan tawa. 


Tapi uniknya hati Erick berdesir seperti sedang melihat Thalia di depannya.


Thalia terkejut melihat pesan itu, Ia tertawa kecil, "What the hell he want to kiss me?"


Thalia pun dengan iseng membalas, "With pleasure."


Tak lama kemudian sebuah pesan dari Erick kembali datang, pesan yang memancing hasrat mereka. Setiap kata setiap baris yang tertulis merasuk jauh ke dalam pikiran mereka berdua.


Erick larut dalam ciuman panjang bersama Thalia. Bukan hanya jantungnya yang berdetak kencang, tapi hasratnya ikut naik ke permukaan.


Menyadari hal ganjil terjadi, Erick menghentikan pikirannya tentang Thalia. Dia langsung mengakhiri pesannya saat itu juga. "Udah … maaf!"


"Iya." Melihat jawaban singkat Thalia, Erick menebak perempuan itu terbawa emosinya. Erick tertawa sendiri dan mengumpat kasar pada dirinya. 


Thalia merasakan hal sama, setiap sentuhan Erick. Gigitan, kecupan dan bisikan Erick terasa begitu nyata menyapu wajah Thalia yang mulai memanas. 


Ya Tuhan … ciuman itu, apa aku sudah gila? Erick apa ini?!

__ADS_1


Thalia mengatur nafasnya sejenak. Ia bingung dengan apa yang terjadi. "Amy, inikah yang kamu maksud? Aku bisa merasakan hasratnya?!" 


Erick meletakkan ponselnya, memikirkan Thalia seraya memperbaiki posisi tidurnya agar perutnya lebih nyaman.


...----------------...


Pintu ruang kamar tempatnya di rawat dibuka dari luar dan satu sosok cantik datang dengan senyum cerahnya. 


"Hai sayang, gimana hari ini? Udah enakan?" 


Erick menyambut kedatangan pacarnya dengan wajah sumringah. Kunjungan pertama dari perempuan yang hampir dua tahun mengisi hatinya serasa jadi obat anti sakit yang sedang dirasakannya.


"I really miss you, babe!" kata Erick menarik tangan pacarnya dan mencium telapaknya. Meletakkan tangan halus itu di pipi seperti biasanya, minta dibelai dan mengharap mendapatkan ciuman lembut di bibir.


Ciuman singkat dari pacarnya tidak pernah memuaskan Erick, dia selalu membuatnya menjadi lebih lama dan dalam. Berhenti jika pacarnya sudah terengah-engah atau marah karena kepanasan. 


Erick lupa apa yang dia lakukan barusan bersama pacarnya pasti juga dirasakan oleh Thalia.


Erick menyeringai, "Yang sakit kan perutnya."


"Udah! Stop it now!" 


Erick hanya nyengir saat tangannya yang hampir kemana-mana dihentikan pacarnya. 


Untuk menetralisir hawa panas, perempuan seumuran Erick itu mengambil buah untuk dimakan bersama.


"Makan yang lain bisa? Males makan buah!" pinta Erick manja.


"Duh rewel amat, mau makan apa emangnya?" 


"I want you, Babe!" kata Erick iseng.

__ADS_1


"No! Ada mom di luar."


Erick tertawa, "Kamu nggak lama berarti?"


"Nggaklah, abis kamu makan buah ini aku pulang." 


Sementara itu di lain tempat, Thalia kembali merasakan hal yang baru saja ia rasakan saat berciuman dengan Erick. Hasratnya kembali muncul tanpa permisi, ia bahkan sulit mengatur nafasnya kembali. 


"Sial, dia ngapain coba?! Apa dia lagi bareng sama pacarnya?" gerutu Thalia dan ia sangat meyakini perasaannya benar.


"Coba aku tanya dia deh!"


Pikiran mereka yang menyatu tersambung begitu saja. Erick mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chat saat pacarnya sedang mencuci apel yang akan diberikan padanya.


"What are you doing, Erick?" tanya Thalia dalam chatnya.


"Nothing." Erick membalas dengan salah tingkah. Dia berbohong dengan sia-sia. Erick yakin Thalia merasa tidak nyaman dengan pikiran kotornya.


"Your desire!" protes Thalia dengan emoticon bingung. 


"Kamu lagi apa? Serius tanya ini?"


"Sorry." Erick membalas singkat lalu meletakkan kembali ponselnya. Dia harusnya lebih hati-hati saat memikirkan Thalia. Bukan di waktu dia sedang bersama pacarnya seperti sekarang. 


"Damn … I hate you Erick!" umpat Thalia.


Jawaban singkat dari Erick itu sudah cukup untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi. Tapi semua sudah terlanjur terbuka, Thalia sudah ikut merasakan sesuatu yang seharusnya bukan untuk dia. 


Sekali lagi, Erick memaki dalam hati, memaki pikiran dan hal gaib yang mengikutinya selama ini. Khodam penjaga yang akhir-akhir ini ikut resah dan sering keluyuran sendiri tanpa pamit.


Kalau sudah begini masihkah harus saling menyalahkan?

__ADS_1


__ADS_2