
Thalia terkejut mendengar perkataan Ardi, "Gosh, you're crazy … dengan melawan dirimu sendiri?!"
Ardi mengangguk, ia seolah tidak peduli dengan resiko yang ia pilih sendiri. Thalia hanya menggelengkan kepalanya,
Pantas aja prof. Budi hands up, yang ditangani model beginian …, batinnya kesal.
Ardi mengajak Thalia berpindah tempat menuju restoran yang letaknya tak jauh dari resort tadi. Matahari sudah melebihi titik puncaknya saat mereka tiba di restoran itu. Ardi memesan makan siang untuk mereka berdua.
"So tell me, apa mau kamu sebenarnya hari ini? Bukan sekedar ngajak makan, sama jadi pengasuh kamu kan?" tanya Thalia
Thalia kesal karena waktu liburnya justru harus menghadapi Ardi, member VVIP nya. Padahal Thalia berencana menghabiskan waktunya seharian dikamar membaca novel Mantra Gaib kesukaannya dan berusaha mendekati Kamboja Merah.
"Aku butuh teman, itu saja." jawab Ardi singkat.
"Teman? Tadi dirumah kamu bilang mau konseling tapi mana, yang ada kita malah disini dan ini seperti … dating?" Thalia baru menyadari apa yang mereka berdua lakukan lebih mirip berkencan ketimbang konseling.
Ardi tertawa melihat ekspresi Thalia, "Kenapa, kamu keberatan?"
Thalia masih diam dan menatap Ardi tak percaya. Pria di depannya ini telah menipunya mentah-mentah, dan Thalia merasa begitu bodoh telah menerima ajakan Ardi.
"Yup, saya keberatan. Karena kamu saya kehilangan me time!"
"Me time? Nyalon, spa, shopping, kemana aku bisa nemenin kamu kok?" tanya Ardi tanpa berdosa sedikitpun.
__ADS_1
"No, baca novel!"
"Whaaat, novel?! Kamu suka baca novel, so ridiculous!" (sangat menggelikan!)
"Kenapa, apa salahnya suka baca novel? Apa yang kamu harapin, baca kamus kedokteran seharian gitu?!" tanya Thalia dengan menahan emosinya.
"Wow, tenang jangan marah gitu. Tau nggak, kamu keliatan semakin cantik kalo marah Thalia." goda Ardi membuat Thalia merona merah.
Good, sekarang dia menggodaku … rasanya ingin memukul wajahnya dengan tasku!
"Ok, terserah kamu ajalah yang penting sesuai perjanjian. Kamu tetap bayar aku sebagai ganti rugi kehilangan me time, deal?!"
"Deal!"
Ardi meraih ponselnya, tak lama kemudian ponsel Thalia berbunyi. Sebuah notifikasi m-banking, transaksi transfer 300 dollar sukses. Thalia terkejut,
Ardi menunjukkan layar ponselnya pada Thalia, "Sangat serius, sisanya aku transfer besok. Kita ada acara besok kan?"
"Besok, aku harus …"
"Ke Bogor? Aku tau, aku antar kamu kesana. Sama Langit kan? Vina kasih tau aku semuanya." Ardi memotong pembicaraan Thalia membuat asumsi Thalia benar kalau Tante Alena ada dibalik semua ini. Rencana perjodohan.
Thalia kehabisan kata-kata, ia memilih diam dan memakan makan siang yang sudah ada dihadapannya. Mereka makan tanpa saling berbicara. Meski beberapa kali mata mereka beradu, Thalia tetap saja diam membisu.
__ADS_1
Tanpa terasa senja telah memunculkan pesonanya, langit mulai memunculkan warna kemerahan. Di dalam mobil mereka masih membisu mempertahankan ego mereka. Hingga akhirnya Thalia membuka pembicaraan.
"Sejak kapan kamu minum obat itu?'
"Belum lama, sekitar empat atau lima bulan lalu. Kenapa, jangan bilang kamu khawatir sama keadaan aku?" tanya Ardi sambil tersenyum.
"Just asking, jangan terlalu tergantung pada obat-obatan. Cobalah mengubah mindset kamu, fobiamu bisa disembuhkan dengan pola pikir yang berbeda." saran Thalia pada Ardi.
Ardi tiba-tiba saja menepikan mobilnya dijalur aman. Thalia sedikit bingung,
"Kenapa kita berhenti disini?"
Ardi menatap Thalia, "So cure me!"
"Apa?"
"Kamu bilang jangan tergantung pada obat-obatan? Jadi bantu aku buat sembuh, tolong aku! Beri aku kesempatan ada disisimu selamanya."
"Eeh, kamu mabok obat? Kenapa harus ada disisi saya selamanya? Saya dokter kamu tugas saya hanya sampai kamu sembuh. Titik!" ujar Thalia
"No, aku serius. Buat aku menikah denganmu?!"
Whaaat, unbelieveble … sarap ni orang, menikah buat sembuhin orang? Kenapa aku jadi ikutan gila!
__ADS_1
Thalia menatap Ardi tidak percaya, bagaimana bisa ada pria dengan pemikiran seperti Ardi. Ia tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Tante Alena hingga menugaskan dirinya menangani Ardi.
Aku sudah cukup gila menyukai Kamboja Merah dan sekarang pria ini menambah kegilaaanku …,