
Itu suara Amy, tapi dimana dia? Apa yang tadi masuk ke IGD, Amy?
Thalia masih menenangkan ibunda Qiara. Tangisnya sedikit mereda memungkinkan untuk Thalia bertanya.
"Ibu sendiri atau ada ayah Qiara?"
"Adik saya yang nungguin Qiara disana dok, saya nggak kuat." jawab Ibu Qiara.
"Saya temani mau?" Thalia menawarkan dirinya dan mendapat respon anggukan dari ibunda Qiara.
Thalia memapah ibunda Qiara menuju IGD. Qiara sudah ditangani dengan baik, luka sayatan di tangan sudah terjahit rapi, tinggal beberapa luka di perut dan leher. Thalia merasa ngeri melihat luka yang dialami gadis kecil itu, untung saja Qiara tidak menggores terlalu dalam hingga tidak memotong nadinya.
Luka-luka itu membuat Qiara kehilangan banyak darah, kondisinya sedikit mengkhawatirkan.
"Apa dia akan baik-baik saja suster?" tanya Thalia pada salah satu suster yang sedang membantu dokter jaga menjahit luka Qiara.
"Semoga saja begitu dok, kita tunggu perkembangannya."
Thalia terdiam dan memandang gadis kecil yang kini bahkan wajahnya terlihat seperti hantu karena pucat pasi. Hembusan angin kecil menerpa wajah Thalia, ia bisa merasakan kehadiran makhluk lain di ruangan itu.
Thalia mempertajam penglihatan, benar saja hantu merah itu datang. Ia menyeringai pada Thalia dengan mulutnya yang lebar membuat Thalia bergidik ngeri, ia tidak takut pada hantu itu tapi jijik melihat tetesan darah hitam nan busuk yang menetes dari sela gigi hitam tajamnya.
Kita bertemu lagi …,
Kamu? Ngapain disini?
Hantu wanita itu tertawa menampakkan mulutnya yang semakin lebar dengan kerongkongan yang tampak terlihat jelas tanpa daging yang menutupinya.
Menanti sesuatu yang menjadi milik saya seutuhnya …,
Apa maksud kamu?
Hantu berbaju merah itu tidak menjawab ia hanya menatap Qiara dengan mata melotot seolah siap melahap jiwa Qiara.
Gawat, Qiara … tapi kenapa dia mau mengambil Qiara? ..., batin Thalia.
__ADS_1
Hantu wanita berbaju merah itu menatap Thalia lagi. Dalam sekejap mata ia sudah ada di samping Thalia membuatnya terkejut.
Kali ini jangan ikut campur!
Apa hak kamu mengambil Qiara?
Perjanjian, dia terikat janji denganku …,
Siapa? tanya Thalia penasaran.
Hantu wanita berbaju merah itu mendekati Thalia. Dekat sekali hingga terdengar nafas berat nan panas di telinganya.
Ayahnya dengan suka rela memberikannya untukku …,
Apa, Ayah Qiara? Dia … jadi tumbal?
Hantu wanita itu tertawa dengan keras dan pergi meninggalkan Thalia menghilang dari pandangan mata. Meninggalkan suara seraknya di telinga Thalia.
Jangan coba menghalangiku lagi!
Thalia merasa ngeri dengan perkataan hantu wanita tadi. Ia tidak menyangka tapi juga tidak mau mempercayainya. Thalia takut itu hanya tipu daya setan saja untuk membuat manusia takut.
Ibunda Qiara meminta Thalia untuk tetap mendampinginya. Qiara masuk dalam ruangan VIP, setelah semua dirasa stabil Thalia pun undur diri. Winda menemaninya kembali ke ruangan prakteknya.
"Hari yang melelahkan ya dok?!" tanya Winda.
"Hhm, iya Win … saya nggak nyangka lho Qiara, sekecil itu harus bernasib tragis."
"Iya dok, kasian ibunya."
Thalia bingung harus berkata apa, jika benar ayah Qiara menumbalkan anaknya sendiri itu benar-benar kejam. Darah dagingnya dikorbankan hanya demi suatu alasan duniawi.
"Apa hari ini ada jadwal lain?" tanya Thalia
"Nggak ada dok, free."
__ADS_1
"Syukurlah, kepalaku pusing liat darah begitu banyak sama liat ini tanganku sampai ikutan kena Win?!" Thalia memperlihatkan kedua tangannya yang terkena percikan darah Qiara.
"Cepet dicuci dok, apa saya perlu ambilkan baju ganti di mobil dokter?" tanya Winda
Thalia tertawa, "Kamu bukan asisten saya lho Win, pake ambilin baju segala. Nggak usahlah nggak sampai ke baju juga kok cuma tangan aja."
Thalia masuki ruangan nya dan mendapati Amy sedang duduk manis di kursi. Thalia pura-pura tidak melihatnya karena ada Winda. Ia segera mencuci tangannya bersih dengan sabun dan memberinya hand sanitizer. Amy sudah berada di sebelahnya.
Dia tidak baik-baik saja Thalia …,
Kenapa, ada ibunya jagain kan?
No, makhluk itu tetap akan mengambilnya!
Lalu?
Apa kau tidak bisa menolongnya?
Amy, aku bukan dukun! Aku juga tidak tahu harus gimana? Ini diluar kuasaku!
Aku tahu, setidaknya kau bisa mencegahnya Thalia?!
Thalia yang pusing mendengar ocehan Amy akhirnya berteriak tanpa ia sadari membuat Winda terkejut.
"Stopped … saya nggak bisa, ok?!"
"Eh dok apanya yang nggak bisa?" Winda merasa aneh dan bingung.
"Oh, maaf Win saya cuma …"
Suara ketukan keras dari pintu membuat Thalia menghentikan perkataannya. Seorang perawat masuk dengan tergesa gesa dan ketakutan.
"Dokter Thalia … Qiara dok?!"
"Ada apa sama dia?"
__ADS_1
"Qiara hilang!"
Apa, hilang? Amy … sepertinya kita harus bertindak, ayo kita pergi bantu dia!