Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 58


__ADS_3

Thalia tersenyum, pesan yang singkat tapi cukup untuk meruntuhkan niatnya menahan diri. Rasa rindunya sudah tidak bisa tertahan lagi, ia pun menulis balasan untuk Erick.


Ada satu, Miss me?


I am …, balas Erick


Thalia tersenyum, Erick selalu menuliskan pesan dengan singkat, jelas,dan padat.


Jadi nulis novelnya?


Entah, masih aku pikirin … saya nggak bakat nulis …, balas Thalia.


Dibiasakan, pelan-pelan pasti bisa juga. Yang penting kamu paham kaidah menulis novel …, Erick membalas lagi.


Saya masih takut.


Kenapa?


Kalo nggak ada yang baca gimana?


Ada apa nggak ada yang baca, yang penting tetap nulis. Yang penting konsisten.


Begitukah? Menurut kamu bagusnya nulis genre apa? …, Tanya Thalia


Coba semua genre nanti kamu tahu mana yang cocok buat kamu.


Saya bingung.


Mau coba horor atau misteri?


Takut?


Kenapa?


Kalo lagi nulis terus setannya di depan saya nongkrong gimana? …, Thalia berpura-pura padahal ia sudah sering dan hafal dengan kemunculan sosok astral di depannya.


Ya baguslah, jadi kamu bisa nulis sesuai dengan yang kamu lihat. Feelnya dapet.


Entah deh, saya masih ragu.


Nulis lah, aku support kamu nanti!


Serius?


Iya, jarang-jarang saya support orang. Saya cuma mau support yang bergenre sama. Roman? Males.


Thalia bingung, tapi keinginan untuk menulis juga ada di benaknya. Support Erick membuat semangat baru untuknya.

__ADS_1


Oke, aku coba … tapi jangan diketawain ya kalo jelek.


Erick hanya membalas dengan emoticon menguap seperti biasanya, dan Thalia membalas dengan emoticon lucu.


Ini chat terpanjang yang pernah Thalia dan Erick lakukan. Hati Thalia berbunga bunga, ribuan kupu-kupu seolah terbang mengitari Thalia. 


Yup, aku benar-benar gila olehnya!


Thalia membuka aplikasi biru kembali, dan menemukan notifikasi update dari novel terbaru Erick. Ia sampai melonjak kegirangan. Seolah menemukan harta karun.


Perlahan ia membacanya, setiap kata yang tertulis dalam novel itu seolah menyihir Thalia. Membuatnya masuk ke dalam cerita dan seolah sedang berbicara langsung pada Erick.


 Thalia membaca setiap komentar yang masuk dan ia tersenyum, tapi nyalinya terlalu ciut untuk meninggalkan komentar seperti yang lainnya. Ia hanya meninggalkan jejak jika ia membaca novel Erick.


wah, penggemarnya banyak banget dan semuanya komentar positif ... yang ini kayaknya jatuh hati sama Erick ... saya setuju sama mbak ini dia juga membuat saya gila karena cinta.


Thalia memikirkan saran Erick, ia memang sudah lama ingin menulis. Sejak duduk di sekolah menengah pertama Thalia memiliki hobi menulis, beberapa cerita pendek pernah ditulisnya. 


"Aku coba ikuti saran dia, tapi aku nggak bisa nulis horor. Gimana ya, ehm aku coba nulis fantasi aja tapi … tentang apa?" gumam Thalia lirih


Thalia membuka akunnya dan mulai mencoba membuat sebuah cerita sesuai dengan imajinasinya sendiri.


Aku bikin yang mirip-mirip cerita Harry Potter aja deh … bisa nggak ya? 


Thalia meragukan dirinya sendiri. Tapi akhirnya ia mantapkan dirinya dan mulai menulis sebuah cerita romansa fantasi. Dengan modal nekat Thalia mulai menulis. Membuat kerangka cerita, mencari gambar untuk cover, membuat sinopsis dan juga merancang judul.


Thalia berulang kali membuat cover dan judul. Ia bingung dan frustasi, ini kali pertamanya membuat cover novel. Akhirnya ia memutuskan untuk berkonsultasi dengan Erick.


Boleh minta saran?


Apa?


Thalia mengirimkan cover novel dan judulnya pada Erick.


Novel kamu?


Iya, bagus nggak


Nggak horor


Nanti deh, saya takut.


Erick mengusulkan pada Thalia untuk mengubah judul novel agar lebih menarik. Setelah cukup lama berargumen akhirnya Thalia memakai judul novel saran Erick.


Makasih ya


Iya, good luck

__ADS_1


Thanks


Thalia pun kembali menulis bab pertama dalam novelnya. Benar kata Erick just do it and you'll be learning. Thalia yang semula ragu begitu mudah menuliskan setiap ide yang ada di kepalanya. Kata demi kata terangkai dengan indah melalui jemari lentiknya. Ia berhenti sejenak karena adzan Maghrib telah berkumandang.


Malam semakin larut Thalia masih asyik menulis. Seolah kegiatan barunya menjadi candu baginya. Ia melupakan kesepiannya dan menemukan dunia baru. Tak terasa beberapa bab siap dan akan terbit dua hari lagi. Thalia tinggal menunggu hasil review dari aplikasi.


Ponsel Thalia kembali bergetar, Ardi calling.


"Assalamualaikum …"


"Wa'alaikumussalam, sibuk?" tanya Ardi


"Nggak sih, kenapa?" jawab Thalia malas


"Aku belikan kamu makanan, Sean pergi kan?" 


"Ya, eh tunggu darimana kamu tahu Sean pergi?" Thalia sedikit curiga.


"Sean, mengirimkan pesan padaku." jawab Ardi


Thalia melirik ke arah jam dinding, "Ini sudah larut malam Ardi?!" Ia menemukan alasan yang tepat untuk menolak kedatangan Ardi.


"Baru jam sebelas dan ini Jakarta belum larut juga." jawab Ardi


"Tapi aku …"


Bel rumahnya tiba-tiba berbunyi, suara Ardi di seberang telepon juga tiba-tiba menghilang. Thalia mengecek teleponnya,


Ardi masih tersambung tapi kenapa tidak ada suara …, batinnya


"Hallo … hallo, kamu masih disana?" 


Pintu kamar Thalia diketuk, membuatnya terkejut.


Eh, Sean pulang! Wah ngerjain aku dia … awas aja Sean!


Thalia bergegas membuka pintu,


"Sean, kamu …" Thalia terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Hai … aku bawain kamu martabak manis spesial dari tempat favorit kamu?!" 


"Ardi … kamu, disini? Tapi tadi …"


"Aku udah didepan tadi kelamaan nungguin kamu keluar jadi aku langsung masuk" jawab Ardi tanpa dosa membuat Thalia kehabisan kata-kata.


Ya Tuhan pria satu ini benar-benar membuat tensiku naik … Sean, i hate you!

__ADS_1


__ADS_2