
Ketukan keras pintu dari salah satu perawat dan berita menghilangnya Qiara membuat Thalia dan winda terhenyak. Qiara masih dalam kondisi kritis meski terpantau baik, dan ia menghilang itu sangat tidak masuk akal.
"Menghilang bagaimana sih? Jangan bercanda?!" tanya Thalia panik
"Beneran dok, pasien Qiara menghilang. Ibunya berteriak histeris mencari putrinya. Tolong dok, kami harus cari Qiara! Dokter tadi kan bersama ibunya, sepertinya dia butuh dokter sekarang!" seru suster Ana.
Winda dan Thalia saling berpandangan, sesuatu diluar nalar telah terjadi.
"Dok, kok saya merinding sih?" Winda memegang lehernya yang meremang mendengar cerita suster Ana.
Thalia hanya terdiam ia memikirkan perkataan Amy.
Benarkah perkataan Amy, Qiara dalam bahaya kalo emang benar … ya Allah semoga Qiara masih bisa aku selamatkan!
"Dok, dia kan masih kritis karena kehilangan banyak darah kok bisa bangun gitu aja, pake menghilang lagi?!" tanya Winda menyamakan langkah kaki dengan Thalia.
"Win, banyak hal yang nggak bisa kita jelasin sama akal sehat kan? Itu yang terjadi sama Qiara. Semoga saja dia nggak apa-apa dan bisa ketemu!"
Thalia berjalan cepat ke kamar Qiara, ia mendapati ibu Qiara terduduk lemas di lantai dan menangis histeris. Setelah mendapat cerita singkat dari adiknya, Thalia segera menenangkan ibu Qiara.
Kondisinya masih belum bisa diajak bicara, jadi Thalia hanya bisa memberikan dukungan semangat dan mengusap lembut punggung Ibu Qiara, memberinya sedikit energi agar bisa lebih tenang.
Mata Thalia melihat sekitar, ceceran darah Qiara terlihat di ranjang dan lantai. Selang infus dicabut paksa oleh Qiara. Sisa energi negatif dari makhluk berbaju merah itu masih bisa dirasakan Thalia.
Amy, bantu saya … cari Qiara dimana!
Baik …,
"Dokter, ini salah saya … saya ninggalin Qiara sendirian." kata ibu Qiara di sela tangisannya.
"Sudah Bu, nggak ada yang salah … doakan Qiara bisa ditemukan segera ya?!" Thalia memeluk ibunda Qiara dan membiarkannya menangis dalam pelukan Thalia.
Aku menemukannya, cepat Thalia … di atas gedung rooftop!
Apa! Kenapa bisa disana?
Jangan banyak tanya cepat Thalia!
"Win tolong kamu jagain Ibu ini, saya ada perlu sebentar?!" pinta Thalia
"Kemana dok?!"
" Ehm, ke kamar mandi?!" jawab Thalia bingung.
Winda mengangguk dan segera mengambil alih tugas Thalia. Sementara Thalia bergegas pergi meninggalkan ruangan VIP menuju rooftop. Lift satu satunya jalan tercepat menuju kesana. Thalia terpaksa menggunakannya karena tidak mungkin ia harus menaiki tangga darurat.
Waktu terus memburu, Thalia seolah berkejaran dengan sesuatu yang tak terlihat. Bayangan kematian Qiara tiba-tiba melintas di benaknya.
Qiara, bertahan sayang … tolong selamatkan nyawa gadis kecil itu ya Rabb!
Pintu lift terbuka, Thalia segera berlari menuju rooftop. Jejak tetesan darah tampak terlihat di lantai.
Cepat Thalia, makhluk itu akan memangsa jiwanya!
__ADS_1
"Amy … ini sudah yang tercepat aku berjalan!" teriak Thalia sendiri.
Thalia mendobrak pintu menuju rooftop dan berlari mencari sosok gadis kecil pasiennya itu.
Dimana dia Amy? Cari dia!
Lihat dikiri Thalia!
Thalia segera melihat ke arah kiri dan menemukan Qiara hendak berdiri menaiki pembatas gedung.
"Ooh tidak … Qiara!" teriak Thalia dengan keras. Ia berlari ke arah Qiara dan menarik tangan Qiara.
Dalam sekejap Qiara berhasil ditarik dalam pelukannya.
"Dapat, terimakasih ya Rabb … terimakasih!" Thalia tak henti hentinya bersyukur dan menciumi Qiara yang masih tampak lemas.
Thalia menangis, ia begitu bersyukur bisa menyelamatkan nyawa gadis kecil pasien uniknya itu.
"Qiara sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Thalia sambil mengecek seluruh tubuh kecil Qiara.
Qiara hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah. Sebuah kalimat meluncur diri mulut kecilnya, membuat Thalia tercengang.
"Tante dokter, Qiara nggak mau mati … kasian mama kalo Qiara tinggalin sendiri. Tolong Qiara Tante dokter?!"
Thalia tak kuasa menahan tangisnya, ia kembali memeluk pasien kecilnya itu.
"Tante dokter janji sayang … Qiara aman sekarang jangan takut ada Tante dokter?!"
Kau menggangguku!
"Apa hakmu mengambil anak ini?!"
Perjanjian telah dibuat dan jiwanya milikku!
"Dia pasienku, dan aku akan melindunginya sesuai keinginannya. Anak ini masih ingin hidup, dia berhak untuk itu?!"
Kalau begitu matilah kau bersamanya!
Tiba-tiba Thalia merasakan energi yang sangat kuat menerjangnya dan melemparkannya jauh ke dinding. Thalia membentur dinding dengan keras, dan merasakan pusing yang teramat sangat.
Belum sempat ia berdiri, wanita berbaju merah itu telah berada di hadapannya dan mencekik kuat lehernya. Membuat Thalia kehabisan nafas, tubuh Thalia seolah melayang seiring dengan semakin menguatnya cekikan.
Oksigen ke otak Thalia berhenti mengalir dengan paksa membuat wajahnya memerah, kepalanya berdenyut kencang dan telinganya berdengung.
Apa aku akan mati konyol sekarang?!
Kaki Thalia mulai meronta menandakan perlawanan tubuhnya secara refleks akibat kurangnya pasokan oksigen yang mengaliri setiap sel tubuhnya. Thalia menatap nanar tubuh Qiara yang tergolek lemas tak berdaya di lantai. Netra mereka saling bertatapan.
Dokter, tolong Qiara …,
Sebuah kalimat terakhir yang bisa Thalia dengar dari mulut kecil Qiara. Thalia yang juga tak berdaya hanya bisa menangis. Ia pasrah.
"Thalia!"
__ADS_1
Suara bariton terdengar dari arah pintu masuk rooftop. Tubuh Thalia yang sedang melayang dan tercekik seketika ambruk ke bawah, Thalia merasakan cekikan hantu itu terlepas. Wajahnya terasa kesemutan dan ia terbatuk batuk, pasokan oksigen ke kepalanya mulai berjalan lagi.
"Thalia, apa yang terjadi? Kamu nggak apa-apa kan?"
"Ardi … gimana kamu bisa … ada disini?"
"Aku curiga lihat kamu dari CCTV! Terus ngikutin kamu kesini, ada apa sebenarnya!"
"Qiara … mana Qiara?!" Thalia teringat gadis kecil yang harus ia selamatkan.
Qiara menghilang dari tempatnya, Thalia mencari dan menemukannya sedang kembali berjalan menaiki pembatas gedung.
"Jangan! Qiara, sadar sayang ...Qiara!"
Thalia berusaha berlari sekuatnya kearah Qiara, ia bisa melihat wanita berbaju merah itu sedang memeluk Qiara dan menyeringai padanya.
Aku tidak pernah kehilangan mangsaku!
Thalia semakin mempercepat langkahnya hendak meraih tangan Qiara.
"Qiara … jangan!"
Gagal ...,
Thalia gagal meraih tangan kecil Qiara. Padahal hanya sedikit lagi tangannya menyentuh tangan Qiara. Gadis kecil itu terjun bebas dari lantai sepuluh. Thalia tersentak, ia shock berat.
Yang terakhir ia lihat hanya mata Qiara yang menatapnya, mata yang telah terselimuti kabut kesedihan.
Selamat tinggal Tante dokter …,
"Qiara … Qiara!" teriaknya dengan menangis histeris.
Thalia gagal menyelamatkan gadis kecil pasiennya itu. Di depan matanya tubuh Qiara terhempas ke bumi, darah tampak mengalir membanjiri tanah tempat Qiara terjatuh. Beberapa bagian tubuh Qiara juga tampak terpisah. Pemandangan yang sangat mengerikan.
Thalia jatuh terduduk dalam tangisan histerisnya. Ia sangat shock. Ardi segera menghampiri Thalia dan memeluknya. Memenangkan dirinya yang merasa gagal menyelamatkan nyawa pasien kecilnya.
Hari yang sangat melelahkan dan menyesakkan dada bagi Thalia.
...****************...
...***Hari yang melelahkan juga bagi authornya...
...😅😥***...
...Selamat sore ijinkan saya menyapa teman2 semuanya. Ini adalah part yang paling mengharu biru. Buat nulis nya luar biasa, dengan faktor X, Y, dan Z yang menganggu dan berkali kali revisi ulang....
...Semoga part ini bisa menghibur Minggu sore teman2....
...Terimakasih atas dukungannya,...
...have a nice day...
...keep save and healthy 😘🥰...
__ADS_1