
Tiga hari sebelumnya, di rumah sakit …,
Erick kembali ditemani ibunya. Kakaknya yang berjaga semalaman baru saja pulang.
"Not bad," gumam Erick saat berusaha bergerak bebas. Dia mengumpat kesal karena ternyata hasilnya buruk. Posisi tidur miring yang diinginkan membuat perut bekas bedahnya terasa nyeri.
Erick kembali telentang dan memijat kepalanya dengan tangan yang bebas dari selang infus. Pusing dan mual masih saja terasa meskipun tidak separah kemarin.
Pemuda itu kembali mengeluh pada wanita yang menjaganya, "Mom … mau muntah!"
Ibu Erick membantu putranya untuk memiringkan tubuh dan menadahi muntah anaknya. Memanggil perawat dan berkonsultasi mengenai mual muntah yang masih terus terjadi 48 jam pasca operasi.
Erick kembali tidur untuk mengurangi rasa tak nyaman pada perutnya. Mengabaikan perawat yang tiap jam datang mengganggu hanya untuk mengecek suhu badan dan tekanan darahnya.
"Erick … are you ok?" tanya seorang perempuan padanya.
"Hm … i am fine, Thalia." Erick membuka sebelah matanya, mencari pemilik suara yang menggelitik pendengarannya.
__ADS_1
Dengan gusar dia membuka kedua mata dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Brengsek …," gumamnya jengkel.
Itu bukan mimpi, seseorang datang padanya dan bertanya. Erick mendengar suara itu sangat dekat seperti sedang berbisik di telinganya. Nada khawatir sangat kental pada pertanyaan dan intonasi suaranya.
Tidak ingin larut pada perasaan serupa yang terus mengganggu, Erick mengambil ponsel yang diletakkan tak jauh darinya. Tangannya menjangkau gadget yang dua hari ini minim sentuhannya.
Rasa nyeri, mual dan seringnya cairan infus yang macet membuat pemuda itu senewen sendiri. Erick membalas beberapa pesan masuk yang menanyakan kabar dan juga mengirim pesan suara pada kekasihnya memberitahu kondisi kesehatannya.
Erick juga membuka aplikasi baca novel tempatnya menuangkan ide menulis. Membaca beberapa komentar pembaca setia yang mendoakan kesehatannya agar lekas bisa update cerita lanjutan.
Jelas dia tidak bisa menulis, bukan karena idenya tidak ada. Tapi karena tangannya bengkak, dia beberapa kali pindah tempat infus karena selalu bermasalah. Belum lagi pengambilan darah untuk tes laboratorium karena tingkat hemoglobin yang terlalu rendah.
Erick membuka chat pribadinya dengan Thalia, hal terakhir yang dia kabarkan hanya merasa lebih baik setelah mendapatkan infus dua kantong darah.
"Miss me?" Erick mengirimkan pertanyaan singkat seperti biasanya. Langsung pada pokok tanpa basa basi. Dia memang bukan jenis pria yang pandai membuka obrolan dengan wanita.
Thalia tidak menjawab secara singkat. Selain mengatakan kalau dia sangat merindukan Erick … banyak pernyataan lain yang dilontarkan untuk menyampaikan segenap perasaan dan doa tulus agar Erick segera pulih.
__ADS_1
Erick tersenyum saat membalas chat panjang Thalia. "Kalau semua oke, dua hari lagi sudah boleh pulang!"
Pemuda itu menyudahi chat sebentar setelah membaca balasan dari Thalia. Tangannya ngilu dan tidak nyaman untuk mengetik terlalu banyak. Dia lebih suka menggunakan telepati. Kemampuan aneh yang diwariskan kakeknya itu bekerja ajaib pada Thalia dan beberapa orang yang memiliki kepekaan terhadap dirinya.
Hanya saja dengan Thalia lebih dalam dan berbeda, meski sering menghindar … Erick tetap tidak bisa tidak memikirkan wanita yang belum pernah ditemuinya secara nyata itu.
*****
Hal serupa juga dirasakan oleh Thalia, ia tidak bisa berhenti memikirkan Erick dan menganggapnya sebagai bagian dari perjalanan cintanya.
Jika Erick lebih bisa memahami tentang kekuatan telepati, lain halnya dengan Thalia yang baru belajar dan mencoba memahami keunikan dirinya dan Erick.
Unik karena bisa saling merasakan satu sama lain, unik karena berada dalam pemikiran yang sama, unik karena bisa menyalurkan rasa sakit, sedih, dan bahagia diantara keduanya.
Erick sakit, Thalia juga merasakan sakit di tempat yang sama. Saat Erick meluapkan emosi, Thalia juga merasakan kemarahan yang sama.Begitu juga saat Erick sedih, Thalia bahkan bisa menangis secara tiba-tiba. Dan saat Erick merasakan hasrat yang muncul saat bersama kekasih hatinya, Thalia juga merasakannya.
Entah harus dilabeli apa keunikan mereka berdua, apakah itu sebuah berkah atau malah musibah?
__ADS_1