
Thalia masih terisak, ucapan Sean benar. Tapi Thalia seolah tidak berdaya lagi dengan keadaan. Ia berusaha sekuat tenaga melawan dan mengabaikan rasa rindu pada Erick namun hasilnya tetap sama. Tubuhnya menjadi semakin sakit dan nyeri yang datang bahkan bisa menjadi berkali lipat menyiksa.
"Itu bukan cinta Thalia?!" kata Sean mengingatkan.
"I know, aku juga heran. Rasanya sangat menyakitkan Sean. Aku ingin berhenti tapi aku nggak bisa!" Thalia menghapus air mata di pipinya.
Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apalagi. Ia bingung.
"Tadi kamu bilang patah hati, kenapa?" tanya Sean.
"Dia memiliki kekasih." jawab Thalia lirih.
"See, ini yang aku takutkan! Kamu nggak tahu apa pun tentang dia, bisa jadikan dia itu nipu kamu?"
"He's not that bad!" sanggah Thalia setengah berteriak.
(ia tidak seburuk itu!)
Sikap Thalia membuat Sean terkejut. Raut wajah Thalia berubah menjadi orang yang tidak dikenalnya. Thalia yang lembut dan selalu menurut padanya tiba-tiba saja berani menghardiknya.
"Thalia?!"
"Aku yakin dia baik, hanya saja kami belum saling mengenal. Itu aja?!" Sorot mata Thalia berubah. Sean tidak mengenalinya lagi sebagai saudara kembarnya. Sesuatu menguasai Thalia.
"Aku akan buktiin ke kamu Sean, he's good man!" serunya Thalia lagi, nafasnya memburu karena emosi yang tiba-tiba saja menguasai dirinya.
Untuk sejenak Thalia seolah hilang kesadaran, ia limbung. Sean dengan sigap menangkap tubuh Thalia yang hampir saja terjatuh ke lantai.
"Thalia, kamu aneh. Apa yang terjadi sebenarnya?!"
Thalia yang mulai bisa menguasai dirinya, menatap Sean yang membantunya untuk duduk di kursi. "Sesuatu telah terjadi padaku Sean. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika."
"Yup, kamu benar. Sebaiknya kamu mulai mengurangi kedekatan kamu dengan penulis itu. Aku nggak mau kamu disakiti lagi seperti yang Rendy lakukan ke kamu." kata Sean berusaha menasehati Thalia.
"Rendy, tadi aku ketemu sama dia di restoran."
__ADS_1
"Aku nggak mau bahas dia dulu, yang terpenting sekarang dirimu!"
Thalia terdiam, tapi kemudian ia memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi antara ia dan Erick. Dari mulai rasa sakit yang ia rasakan, sesuatu yang bisa dikatakan telepati, kenyataan bahwa Erick memiliki kekasih berdasarkan asumsinya dan usia Erick yang sangat jauh darinya.
Sean mendengarkan dan sesekali menghela nafasnya. Hingga Thalia selesai bercerita.
"So, that's the story. Aneh nggak sih?"
(jadi, begitulah ceritanya)
"Sangat, itu sangat … sangat aneh!"
"Aku coba cari tahu tentang hal ini sama temenku, siapa tahu dia bisa bantu selesaikan masalah kamu ini." kata Sean lagi.
"Sekarang kamu tidur dan jangan pikirin dia. Berusahalah, untuk melupakan at least kurangi intensitas hubungan kamu sama dia."
Thalia tidak menjawab, hatinya betul-betul kacau saat ini. Realitas dan logika tidak berjalan bersamaan dengan yang ia rasakan. Ia memilih untuk beristirahat dan berniat tidak menghubungi Erick lagi.
Pikiran Thalia yang kalut membuatnya sulit memejamkan mata. Ia gelisah, berkali-kali mengganti posisi tidurnya. Suara jam di dinding membuatnya semakin resah menghitung waktu yang berjalan.
"Aaargh … I hate this!" Thalia berteriak, sekali lagi ia kalah oleh rasa cintanya yang aneh pada Erick.
Thalia menyambar ponselnya dan dengan nekatnya kembali menghubungi Erick.
Tidur? …, Tanya Thalia
Belum, masih baca.
Udah jam segini masih baca? Emang nggak kerja besok? … tanya Thalia lagi.
Kerja, siangan.
Boleh aku bilang sesuatu ke kamu. Penting untuk aku?! …. Thalia bertanya dengan harap harap cemas.
Silahkan …, jawab Erick.
__ADS_1
Thalia yang awalnya ragu akhirnya mengungkapkan isi hatinya pada Erick. Rasa kagumnya yang berubah menjadi cinta untuk Erick. Thalia tidak berharap lebih pada Erick mengingat usia mereka yang sangat jauh.
Thalia juga tahu bahwa Erick tidak menginginkan hubungan yang lebih jauh dari sebatas teman dunia maya. Malam itu mereka saling bercerita dan mencurahkan isi hati masing-masing, meski dengan batasan garis yang mereka sepakati bersama.
Mereka tidak akan mencampuri hubungan masing-masing di dunia real life dan hubungan yang akan mereka jalani kedepannya hanyalah sebatas dunia maya.
Sebuah kenyataan yang harus diterima Thalia dengan lapang dada. Rentang usia yang berbeda membuat Thalia lebih dewasa dan menerima kesepakatan yang terjadi diantara mereka. Dalam pikirannya hanya satu, ia menemukan cintanya lagi bersama Erick.
Ini hanyalah sebuah awal dari kesepakatan yang mereka buat secara sadar. Namun keduanya tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan justru membuat mereka terjebak dalam cinta yang tak berujung.
Rasa cinta yang mereka rasakan adalah hasil dari campur tangan dari para penjaga yang diturunkan dari leluhur mereka masing-masing.
...****************...
...Di lain ruang...
...Asmara melingkar tanpa ujung...
...Di lain waktu...
...Semua berlalu dengan tabu...
...Pada waktu cinta bercerita...
...Pada rindu rasa terus berlalu...
...****************...
...selamat sore, selamat hari Senin...
...ikutin terus cerita Thalia selanjutnya yaaa......
...have a nice day...
...stay save and healthy ya semuanya🤗...
__ADS_1
...cium sayang untuk all readers...
...😘😘😘...