
Hari ini Thalia harus kembali berhadapan dengan pihak kepolisian. Pagi tadi dia mendapatkan pesan singkat dari David salah satu anggota kepolisian yang kemarin ia temui untuk bisa hadir memberikan keterangan.
Awalnya Thalia menolak tapi setelah David berjanji identitasnya akan disembunyikan dan semua detail tentang hal gaib itu akan dihilangkan atau lebih tepatnya disamarkan akhirnya Thalia bersedia hadir.
Ia dijadwalkan untuk memberikan keterangan pada jam sebelas siang. Thalia menghubungi Tante Alena untuk meminta izin off praktek sejenak. Setidaknya sampai semua urusan yang menyangkut Qiara selesai.
Jasad Qiara masih belum diperkenankan untuk diambil pihak keluarga. Selain proses otopsi yang belum selesai, pihak kepolisian juga masih mengumpulkan bukti-bukti yang berkaitan dengan Qiara.
Thalia mendatangi kantor kepolisian dengan mengenakan pakaian casualnya seperti biasa. Kehadirannya sudah ditunggu oleh petugas yang menangani kasus unik Qiara.
"Terimakasih sudah berkenan hadir dok." David menyapa dengan senyuman di bibirnya.
Thalia hanya membalas senyumannya, ia tahu senyuman David itu berarti lain. Itu lebih terlihat seperti menggoda ketimbang sambutan ramah.
"Bisa kita mulai sekarang? Saya masih punya jadwal setelah ini." kata Thalia berbohong.
"Ok, saya bisa ngerti kok. Silahkan duduk dok, kita mulai sekarang."
David dan dua orang anggota kepolisian lainnya mulai meminta keterangan Thalia sebagai dokter yang menangani kondisi kejiwaan Qiara dan juga orang terakhir yang terlibat dengan Qiara langsung sebelum anak kecil itu terjun bebas.
Cukup lama waktu yang dihabiskan Thalia di ruangan kecil itu. Meski pendingin ruangan telah dipasang tetap saja Thalia merasa sesak. Dicecar dengan puluhan pertanyaan yang bertubi-tubi membuat Thalia sedikit kewalahan dan nyaris kehilangan nafas karena kesal menghadapi pertanyaan yang selalu berputar.
"Wah, nggak heran ya pada kapok datang kemari!" Sarkas Thalia pada David saat semua pertanyaan selesai diajukan.
David tersenyum miring pada Thalia, "Kenapa emangnya Thalia, bolehkan saya manggil kamu nama aja?"
"Terserah, nggak ada yang ngelarang juga kan?" jawab Thalia berdiri dari duduknya hendak keluar ruangan.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya tadi?"
"Ehm, bagian mana?"
"Kapok datang kemari? Kamu lupa?!"
"Ah, itu … ya siapa yang nda kapok datang kemari? Pertanyaan kalian sebenarnya itu-itu aja kan tapi berputar dan berulang dengan ritme yang berbeda. Psychological attack, am I right?" Tanya Thalia balik membuat David tersenyum.
__ADS_1
"Itu cara kami untuk mengungkap fakta dokter cantik?!" sahut David membuat Thalia menghentikan langkahnya dan mengulas sedikit senyum.
Thalia hendak membuka pintu saat David terlebih dahulu membukakan pintu untuknya. Suara terbatuk dengan sengaja terdengar dari kedua rekannya.
"Pepet aja terus Ndan mumpung single!" sindir mereka dengan jelas.
Thalia mengacuhkan perkataan mereka dan tersenyum pada David, "Thanks!"
David mengantarnya hingga ke parkiran mobil bahkan membukakan pintu mobil untuk Thalia.
"Anda nggak perlu repot-repot begini." Thalia terganggu dengan sikap David.
"Sedikit repot untuk Narasumber kami nggak ada salahnya kan. Terimakasih sudah meluangkan waktu beberapa jam yang menyebalkan untuk kami." ujarnya menyindir Thalia.
Thalia menatap David sejenak dan tersenyum sinis, "Aaah, I see kamu membalas saya?"
"Nggak, cuma sedikit mengembalikan kata-kata kamu. Boleh kan?"
"Whatever … bisa saya pergi sekarang, pasien saya menunggu?!" kata Thalia dengan menutup pintu mobil tanpa menunggu jawaban David.
Cckk, kalo aku pergi gitu aja itu nggak sopan! Tapi aku malas berbasa basi sama dia, nyebelin banget sih … oke berpamitan untuk terakhir kalinya aja!
Thalia menurunkan kaca mobilnya, dan berpamitan sebelum ia melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir. "Thanks udah nganterin sampai ketemu lagi, pak David?!"
Senyuman manis yang setengah terpaksa juga diberikan Thalia pada David yang sayangnya dianggap kode lain oleh polisi berpangkat AKP itu.
"Dengan senang hati dokter Thalia, sepertinya aku mulai menyukainya." gumam David.
Beban berat di pundak Thalia seolah terlepas. Beberapa jam berada di ruangan itu dengan tiga orang polisi membuat dirinya tertekan. Ia lega hari ini berakhir sudah. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Thalia berniat menuju rumah duka Qiara.
Informasi terbaru yang diperoleh dari David, ternyata jenazah Qiara sudah dikembalikan ke keluarga dan akan dimakamkan pukul empat sore. Berbekal alamat yang dia ambil dari file Qiara dan google maps, Thalia nekat pergi menuju alamat itu.
Ini kali pertama ia bepergian menyusuri jalanan ibukota sendirian, sedikit takut tapi Thalia yakin ia bisa. Akhirnya setelah dibuat beberapa kali salah jalan dan berputar Thalia sampai di sebuah kompleks perumahan tempat Qiara tinggal.
Mobilnya berhenti di depan blok dengan bendera putih terikat di salah satu tiang. Thalia memastikan lagi alamat yang diberikan padanya. Ia pun bertanya pada beberapa warga yang kebetulan melintas.
__ADS_1
Thalia berjalan menuju rumah yang masih ramai pelayat. Jenazah Qiara sudah dikebumikan, Thalia terlambat. Ia berinisiatif mencari keberadaan ibunda Qiara tapi, belum juga ia melangkah seorang pria menarik lengannya.
"Kamu ngapain ada disini?"
"Ardi? Lho kamu juga ngapain, kenapa selalu ada kamu di mana saya ada sih? Kek Hantu aja ngikutin terus?!" Dengus Thalia.
"Hei, saya kesini perwakilan Tante Alena! Lupa kalo saya juga salah satu investor rumah sakit dan juga saksi kejadian itu?!" jawab Ardi sedikit berbisik.
"Oh ya, saya amnesia part itu. Maaf."
"Yuk masuk bareng, saya juga belum ketemu ibundanya." ajak Ardi menarik tangan Thalia.
Thalia menurut dan mengikuti langkah Ardi. Ibunda Qiara sudah lebih tenang, ia masih menerima tamu dengan matanya yang terlihat bengkak karena menangis.
"Dokter …" ibunda Qiara menyambut Thalia dengan memeluknya erat.
"Sabar ya Bu, yang ikhlas." Thalia membalas pelukan ibunda Qiara dan mengusap lembut punggungnya.
"Terimakasih sudah menyempatkan kemari, maafkan Qiara kalo punya salah ya dok."
"Iya, ibu yang tabah ya Bu. Maaf saya nggak bisa mengantar Qiara ke pemakaman." sahut Thalia.
Ardi mendekati ibunda Qiara dan mengucapkan rasa duka citanya sebagai perwakilan dari rumah sakit. Meski kejadian ini sedikit banyak mengguncang manajemen rumah sakit namun pihak rumah sakit tetap memberikan kompensasi bagi keluarga Thalia dan menganggap ini termasuk kelalaian pihak rumah sakit.
Tante Alena mengambil keputusan yang luar biasa, meski kejadian ini akan berdampak panjang bagi rumah sakit yang dipimpinnya ia tetap berwelas asih dan mensupport keluarga Qiara. Ardi pun setuju dengan sikap Tante Alena.
Setelah sedikit berbasa basi dengan keluarga Thalia dan Ardi berpamitan. Mereka berpapasan dengan ayah Qiara. Thalia menatapnya sejenak lalu membuang muka cepat. Ia malas berhadapan dengan lelaki yang tega menumbalkan anaknya sendiri.
"Terimakasih sudah datang, dokter Thalia!"
Thalia menghentikan langkahnya dan berbalik, "Tentu saja, sudah kewajiban saya bukan?!"
"Saya harap kita nggak perlu bertemu lagi?!" kata Lukman, ayah Qiara.
Thalia tersenyum sinis dan berlalu meninggalkan Lukman.
__ADS_1
Siapa juga yang mau ketemu kamu lagi!