Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 122


__ADS_3

Thalia dan David memutuskan untuk mengelilingi kota Yogyakarta dengan menggunakan skuter milik Arga. Sepanjang jalan mereka bersenda gurau dan menikmati kebersamaan mereka.


Singkatnya masa penjajakan mereka sebelum menikah membuat keduanya memanfaatkan waktu untuk berpacaran. Thalia bahagia dengan pilihannya. Meskipun sikap David terkadang tegas dan keras tapi ia sangat menyayangi Thalia.


Mereka menyusuri kawasan pedestrian di sepanjang Malioboro, berjalan kaki mencari kuliner dan berbelanja oleh-oleh khas Yogyakarta di sekitar Malioboro menjadi pilihan mereka. 


"Capek ya seharian jalan?" tanya David saat mereka beristirahat di salah satu rumah makan untuk mengisi perut.


"Capek, tapi seneng kok. Habis ini kita kemana?"


"Pulang." David menjawabnya dengan senyuman.


"Yah, pulang nanti ngamar lagi?! Emang nggak bosen kamu." keluh Thalia.


"Bercinta sama kamu mana bisa bosan, yang ada semakin mau lagi dan lagi." bisiknya di telinga Thalia membuatnya meremang.


Thalia tersenyum, "Saya capek boleh nggak malam ini istirahat dulu?"


"Hhm, puasa deh. Eh iya aku lupa mau bilang, Arga semalam minta tolong sesuatu ke kamu."


"Minta tolong? Untuk apa?"


"Dia mengeluh tentang anak pertamanya."


"Elang?"


"Iya, Arga khawatir si Elang terlambat ditangani."


"Maksudnya?"


David meneguk air mineral sejenak, lalu menjawab. "Biasalah namanya juga anak muda, broken home, salah bergaul, nakal, alkohol and …"


"Wait, itu justifikasi yang salah dari anak broken home beb." Thalia menghentikan David bicara tentang Elang.


"I'm not, hanya saja ayahnya yang bilang begitu. Aku kan cuma nerusin omongannya ke kamu sayang." sahut David seraya merapikan rambut Thalia ke belakang telinganya.


"Hmm, menarik sih bisa ceritain gimana Elang? Untuk gambaran aku dulu sebelum ketemu sama dia."


"Well, menurut ayahnya sih dia berubah setelah Arga menikah lagi. Dia jadi anak yang pembangkang, pemarah, dia itu kayak benci banget sama Arga juga ibu tirinya. The effect of that, alcohol is an escape."

__ADS_1


"Wow, sudah kuduga anak itu punya masalah yang terpendam. Just alcohol right or anything else?"


"Kalo itu aku juga nggak tahu, kamu tahu sendiri kan namanya anak muda. Alcohol bisa jadi sumber semua masalah. Bisa jadi sudah bertambah dengan masalah lain."


Thalia terdiam berusaha memahami permasalahan Elang terlebih dahulu. "Aku harus bicara dulu sama kedua orang tuanya. Ini bukan tentang Elang aja tapi juga menyangkut aspek keluarga."


David setuju dengan opini Thalia, rencananya malam nanti Thalia akan berbicara dengan Arga. Hari sudah menjelang sore ketika mereka tiba di homestay yang letaknya masih dalam satu lingkungan dengan rumah utama Arga.


Arga sendiri adalah pemilik satu toko yang menjual kerajinan perak di daerah Kotagede, selain memiliki beberapa bisnis sampingan lainnya termasuk homestay untuk disewakan.


Malam itu Thalia dan David diundang secara khusus oleh istri Arga untuk makan malam bersama di rumah utama. Istri Arga bahkan menyiapkan hidangan khusus kesukaan Thalia, selat solo. 


Suasana akrab dan hangat menyelimuti makan malam, David dan Arga saling mengejek mengingat masa mereka bersama dulu. Thalia dan istri Arga asyik dengan obrolan mereka tentang makanan yang ada di meja.


"Maaf, kalo mas Elang sendiri apa nggak tinggal disini?" Thalia mulai membuka obrolan tentang pemuda yang mencuri perhatiannya sejak bertemu di bandara.


Anita, istri Arga menghela nafas dengan berat setelah menyesap teh hangat dari cangkirnya.


"Dia sudah lama nggak tinggal sama kami … tepatnya setelah lulus SMA, dia memilih hidup mandiri."


"Apa alasannya?" tanya Thalia lagi.


"Hhm, menarik. Apa mbak sama mas pernah ajak dia ngobrol? Dari hati ke hati sebelum atau sesudah menikah?"


"Saya sama mas Arga sudah mencobanya, tapi ya gitu sifat Elang keras dia seperti nggak mau tau dan tetap membenci kami."


Thalia terdiam, ia mulai bisa memahami perasaan Elang dan juga kedua orang tuanya. Kehadiran orang lain yang datang mengisi posisi ibundanya jelas melukai hati Elang.


"Elang cuma bisa diajak bicara sama Dewa." Anita menambahkan informasi.


"Dewa? Siapa dia?"


"Anak saya dari pernikahan sebelumnya. Usianya terpaut beberapa tahun dari Elang. Ini satu hal yang saya syukuri, setidaknya ada hal yang tidak di benci Elang dari kehadiran saya."


"Maaf sebelumnya, tadi pagi saya dengar kalian bertengkar. Boleh tahu ada apa?"


"Mbak Thalia dengar juga ya, maaf ya jadi mengganggu. Biasalah Elang selalu begitu, setiap kali pulang ke rumah ini tanpa basa basi dia selalu saja minta uang."


"Tapi mbak kasih kan?"

__ADS_1


"Iya mbak, cuma ya itu tadi pasti berantem. Kayaknya udah nggak ada jalan untuk baikan lagi sama dia." Anita mengatakannya dengan pelan, Thalia menangkapnya sebagai ungkapan rasa sedih, kecewa, dan putus asa.


"Sabar ya mbak, tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar. Semuanya tergantung sama diri kita mau duduk bersama mencari solusi atau mengedepankan ego masing-masing." Thalia menggenggam tangan Anita, menguatkan hati untuknya.


"Mbak Thalia bisa bantu saya kan? Bantu saya bicara dengan Elang. Saya betul-betul ingin berdamai dengan keadaan. Capek mbak, saya juga pengen meluk dia, dan memperlakukan dia sama seperti Dewa."


Thalia tersenyum, "Mbak sayang Elang kan? Bantu saya dengan doa, biarpun mbak bukan mama kandungnya kekuatan doa seorang ibu tetap mengandung keajaiban sendiri."


Anita mengangguk, Arga dan David menghampiri mereka berdua. Arga mengusap lembut punggung istrinya, ia tahu Anita sangat tertekan dengan masalah Elang. "Sabar Ma, pasti ada jalan keluarnya."


"Kapan saya bisa ketemu Elang?" tanya Thalia langsung.


"Besok pagi, saya jemput dia dari tempat kosnya." jawab Arga tegas 


"Yakin dia mau?" Thalia sangsi dengan sikap Elang.


"Kalau papahnya yang nyuruh, dia pasti nurut."


Thalia mengangguk tanda mengerti, "Ok, kita lihat hasilnya besok. Saya juga penasaran sama dia."


*****


Keesokan paginya …,


Thalia sudah bersiap menyambut klien istimewanya, Elang. Sambil menikmati sarapan pagi yang dihidangkan oleh Anita, Thalia menunggu kedatangan Elang dan Arga.


Anita menjelaskan pada Thalia betapa semangatnya Arga untuk menjemput Elang. Thalia hanya tersenyum dan berharap pertemuannya dengan Elang bisa sedikit mengobati lara keluarga itu.


Suara mesin mobil dimatikan terdengar dari luar. Arga dan Elang masuk ke dalam rumah. Elang tampak kusut, tapi tidak mengurangi ketampanan di wajahnya. Pakaian yang dikenakan pun asal, bahkan terkesan amburadul khas anak kos seusianya.


Arga terlihat sedikit muram dan Thalia bisa menebak jika mereka bertengkar sebelumnya.


"Thalia, kenalkan ini Elang."


Thalia tersenyum dan beralih menatap Elang yang malas untuk menanggapi perkenalan dirinya.


"Hai El … saya Thalia." 


Thalia mengulurkan tangannya yang disambut Elang dengan malas. Dan tanpa Elang sadari dalam waktu yang bersamaan Thalia telah menjelajahi pikiran Elang saat kulit mereka bersentuhan. Thalia memasuki pikiran Elang, menjelajahi setiap memori dalam pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2