Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 111


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Erick tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta. Menghabiskan waktu selama satu jam tiga puluh menit di udara cukup membuatnya bosan. Bayangan Thalia terus berkelebat di benak Erick.


Sama seperti Thalia, Erick juga merasakan hal yang sama. Setelah berpikir beberapa waktu, Erick memutuskan untuk bertemu Thalia karena beberapa hal. Bukan karena hatinya terbagi, tapi karena pikirannya selalu kacau akhir-akhir ini. Emosinya tidak stabil dan dia semakin sulit mengendalikan khodam penjaganya yang terlalu sering pergi meninggalkannya.


*****


Erick mengirimkan pesan pada Thalia bahwa ia telah tiba di Jakarta dan menginap di salah satu hotel tak jauh dari Bandara.


Dia sudah disini … waktunya buat menyelesaikan masalah yang tertunda …, batin Thalia 


Thalia menatap jauh keluar jendela kamarnya. Hatinya tidak menentu antara sedih dan senang. Sedih karena batas waktu seperti yang dijanjikan para khodamnya telah tiba. Senang karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan pemuda yang mengajarkannya tentang cinta lagi.


Thalia bersiap menemui Erick, dengan langkah berat ia keluar dari kamarnya dan berpamitan dengan Sean.


"Sean, aku pergi?!"


"Mau bertemu dengannya?!"


" Iya, wish me luck Sean!" jawab Thalia seraya pergi meninggalkan kembarannya.


Sean hanya bisa menatap punggung Thalia, "Semoga kalian bisa memutuskan yang terbaik untuk masa depan … cckk, dosa apa kami dulu sampai kehidupan cinta kami nggak karuan begini?!"


****


Erick memesan kopi, membaca beberapa komentar pembaca novelnya sambil menunggu Thalia datang. Dia tidak memiliki alternatif tempat bertemu selain di lounge hotel tempatnya menginap.


Thalia tiba di pelataran hotel dengan hati yang berdebar tidak karuan. Untuk beberapa saat ia ragu untuk turun dari mobil.


"Tenang Thalia … tenang, kamu pasti bisa ngadepin dia."


Hawa keberadaan wanita yang ditunggu Erick terasa tidak jauh. Dia bisa merasakan kedatangan makhluk halus di sekitarnya. Penjaga Thalia datang lebih dulu memeriksa keadaan sebelum tuan putri yang berbeda sekitar satu menit di belakang. Cantik.


"Dimana dia?" Thalia mencari keberadaan Erick di sekitar lounge hotel. Ia hanya melihat wajah Erick dari sebuah foto yang dulu dikirimkan padanya.


Mata Thalia menangkap sosok Erick yang tak jauh berbeda dari gambaran dalam mimpinya. "Itu dia … ya Tuhan kuatkan hatiku?!"


Dengan langkah pasti Thalia mendekati meja tempat Erick duduk.

__ADS_1


*****


Erick belum pernah melihat wajah Thalia secara langsung selain dalam mimpi. Tapi wanita yang masuk ke dalam lounge dan menuju ke arahnya tanpa bertanya bisa dipastikan itu adalah tamu yang ditunggunya.


"Erick?" sapa Thalia kikuk. Senyum manis mengembang pada bibir merahnya.


Erick berdiri dan tersenyum tipis. "Thalia?"


Erick menatap Thalia lekat, begitu juga sebaliknya lalu mereka tertawa kecil dan duduk dalam posisi berhadapan seperti teman lama, mengobrol ringan dan berlanjut dengan makan malam.


Di sudut lain di luar lounge, Erick menatap penjaganya memasang ekspresi bahagia bertemu dengan pujaan hatinya. Dua kucing besar saling menjilat bulu dan bersandar seperti sedang menghabiskan waktu berdua.


"Mau melihat mereka pacaran?" tanya Erick mengedikkan kepala ke arah dua kucing yang kini menatapnya dengan isyarat terima kasih.


"Sure," jawab Thalia ringan. Dia berdiri dan berjalan lebih dulu.


Erick menatap punggung Thalia yang berjalan di depannya. Bimbang antara ingin menyamakan langkah atau tetap berada di belakangnya. 


Mereka memang dekat, tapi hanya sebatas chat. Jadi, saat bertemu langsung Erick kehilangan keberanian pada wanita yang sering digodanya di dunia menulis.


"Jadi kamu datang untuk ini?" tanya Thalia lirih. Matanya tak lepas dari dua kucing yang sedang memuja dengan penuh cinta.


"Yeah … aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Aku rasa ini yang paling benar, mereka punya perjanjian di abad lalu bahwa mereka akan bersatu. Begitu juga dengan tuan mereka," terang Erick tak yakin.


Matanya melirik ke arah Thalia, mengamati perubahan ekspresi di wajah yang masih serius menatap penjaganya.


" … "


Thalia berbalik menatap Erick dengan ekspresi rumit. "Maksudmu kita?"


"Aku tidak tahu kalau mantra yang aku lepas bisa berakibat sejauh ini. Aku tidak bermaksud menjeratmu … aku benar-benar tidak tahu kisah apa dibalik mantra itu dulunya!"


"Apa ada hal lain yang mungkin bisa menjelaskan dengan lebih logis?" 


Erick menghembuskan nafas berat, "Aku benar-benar tidak tahu, Thalia! Yang jelas salah satu dari kita harus mengalah untuk melepaskan penjaga. Aku pikir jika khodamku mau ikut bersamamu karena pasangannya ada padamu … aku sama sekali tidak keberatan!"


"Aku juga tidak merasa keberatan jika kamu yang merawat penjagaku. Kita tidak mungkin memisahkan mereka, benar kan?" Thalia menghadapi Erick yang sedang memperhatikannya dari tadi. Tangannya melipat di depan dada.

__ADS_1


"Lalu … bagaimana dengan kita? Siapa leluhurmu Thalia?"


Thalia menggelengkan kepala perlahan, "Aku juga sungguh tidak tahu apapun soal penjaga dan warisan perjanjian yang kamu maksud, Erick!"


"Tapi kamu merasakan mantra itu bekerja sangat dahsyat, kita … terhubung begitu dekat!" tukas Erick penasaran. "Aku bahkan hampir ikut gila!"


"Aku harus jawab apa? Kalau soal jodoh warisan leluhur yang kamu gambarkan memang aku tidak tahu sama sekali. Aku hanya tahu kalau pikiranku kacau saat ini, aku tidak bisa mengelak soal perasaan yang kamu timbulkan!" terang Thalia pelan tapi penuh tekanan.


Dua kucing penjaga yang Thalia dan Erick amati pergi menembus dinding. Menghilangkan diri entah kemana.


"Ayo ikut aku sebentar!" Erick menggandeng tangan Thalia untuk mengikutinya pergi ke kamar. Menyusul dua penjaga yang mungkin pergi ke tempat Erick menyimpan batu mustika rumah tinggal penjaganya.


...****************...


...Pada air kutemukan dirimu...


...Seperti cermin yang kutatap sendu...


...Pada hutan kutemukan kasihmu...


...Seperti daun yang berselimut kalbu...


...Pada gunung kutemukan indahmu...


...Seperti awan yang bergerak membisu...


...Pada tebing kutemukan pesonamu...


...Seperti adrenalin yang melambungkan rayu...


...Pada goa kutemukan gelapmu...


...Seperti bayangan yang membalas rindu...


El. Z


...****************...

__ADS_1


__ADS_2